Periksa Ke Dokter

1021 Kata
PERIKSA KE DOKTER [Aku mencintaimu. Jangankan harta, semua aku bisa berikan untukmu] [Kecuali pernikahan, komitmen, dan anak] 'Glek' Steven menelan ludahnya ke kasar. Dia tak menyangka akan mendapatkan balasan seperti itu dari Elena. Dia menghela nafas panjang. Ingin sebenarnya dia mengatakan semua penyebab dan alasan mengapa dia tak bisa menikah dengan Elena, mengapa dia juga tak menginginkan ada anak diantara mereka. Namun Steven merasa itu bukan saatnya dan dia ingin menjalani hubungan yang seperti ini karena terlanjur nyaman. Steven memutuskan untuk tidak membalasnya. Dia segera bersiap untuk pergi ke kantor. Elena menunggu balasan dari Steven sampai di klinik. Tapi tak ada satupun pesan masuk dari laki-laki itu. Hal itu membuat Elena hanya bisa menghela napas, memang Steven ini lelaki yang baik tetapi tidak bisa untuk diajak berkomitmen ke jenjang yang serius. Dia pun segera antri ke dokter umum untuk mendapatkan resep pereda mualnya. "Ibu Elena! Ibu Elena!" panggil perawat. "Iya saya," sahut Elena. "Mari saya antar ke dalam," ucapnya. Elena pun menganggukkan kepalanya. Dia pun berjalan di belakang, perawat itu masuk ke dalam ruangan dokter. Tampak seorang dokter lelaki yang terlihat sangat sabar mempersilahkannya masuk. Meskipun tidak mudah tetapi pancaran aura ke-Bapaknya sangat kuat. Jadi membuat pasien-pasien mungkin datang merasa nyaman. "Silakan duduk Ibu Elena," ujar dokter itu. "Usia Ibu berapa ya?" tanya Dokter. "Usia saya dua puluh enam tahun, Dok," jawab Elena. "Baiklah apa yang dikeluhkan? Mari Ibu Elena, silakan berbaring dulu. Kita cek resinya ya," perintah Dokter itu. "Perawat! Tolong bantu untuk mengecek tensi Ibu Elena," sambungnya. Elena pun menjalani beberapa perawatan mulai dari cek tensi dan dokter meletakkan stetoskop di dadanya. Semua sudah normal. Kemudian dia menyentuh perutnya. "Apakah di bagian sini sakit?" tanya dokter itu. Elena menggelengkan kepalanya. "Di bagian sini?" tanya Elena juga menggelengkan kepalanya. Aneh sekali saat seperti ini justru dia tak merasakan apapun, bahkan dia tidak mual. "Lalu apa yang Ibu Elena rasakan?" tanya dokter. "Saya setiap pagi merasakan mual, Dok. Beberapa hari ini menurut saya hidung saya ini juga terlalu sensitif kepada bau. Beberapa hari ke belakangan karena saya selalu merasa mual ketika mencium bau-bau tertentu. Lalu gampang sekali muntah dan letih, lemah, lesu. Apakah saya anemia atau gejala maag ya, dokter?" tanya Elena. "Kapan terakhir kali mendapatkan menstruasi?" sahut dokter itu. Elena langsung terdiam. Dia baru ingat sudah hampir sebulan lebih dia tak mendapatkan menstruasi. Elena langsung menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak memekik di ruangan dokter itu sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak ini tidak mungkin kan, Dok! Tidak," gumam Elena. "Mari dites dulu!" ajak dokter itu. "Kenapa harus di tes, Dok? Apa saya hamil?" tanya Elena. "Saya tidak berani menduga, Ibu Elena. Cuma saya mengira ini gejala awal kehamilan," ucap Dokter itu. "Hamil?" tanya Elena. "Ta-tapi saya kan belum menikah, Dok," ucap Elena dengan bodohnya. Bukan tanpa alasan mengapa Elena mengatakan itu adalah pertanyaan konyol. Harusnya dia mempertanyakan hal itu jika memang tidak pernah melakukan itu dengan lelaki. Namun dia secara sadar melakukan itu tak sekali namun berkali-kali melakukannya dengan Stevanus secara sadar sepenuhnya tanpa mengenakan pengaman apapun. Dokter tidak menjawab pertanyaan Elena itu. Karena menurutnya itu adalah pernyataan yang tak etis sekali. Dia hanya tersenyum saja mendengar jawaban Elena, ya mungkin ini akan menjadi berita yang cukup mengejutkan tapi bagaimana lagi, karena hasil pemeriksaan sepertinya mendeteksi dari gejala yang dirasakan Elena mengarah kepada kehamilan daripada penyakit maag. "Mari Ibu Elena, saya antar dulu ke kamar mandi," perintah perawat itu. Mau tidak mau, Elena pun hanya bisa menganggukkan kepala. Dia mengikuti langkah kaki perawat menuju ke kamar mandi. Sesampainya di depan pintu itu perawat menyerahkan satu buah tespek dan seperti mangkok kecil. "Ibu Elen, nanti urinenya ditampung di sini ya. Kemudian dites ya, Bu. Setelah itu serahkan hasil tesnya pada say," perintahnya. "Tapi Sus, apakah saya harus di tes? Apakah saya benar-benar hamil, Sus?" tanya Elena masih bengong, syok, bingung, dan tak percaya. Suster itu hanya tersenyum. "Ini kan hanya praduga dokter saja, Bu. Jadi semoga apa yang dikatakan dokter dan menjadi ketakutan Ibu tidak akan terjadi. Namun alangkah lebih baiknya untuk kali ini saya mohon Ibu mau mengikuti semua petunjuk dan arahan Dokter ya, Bu. Demi kebaikan Ibu sendiri," jelas perawat menyodorkan tespek dan mangkok itu. "Bukan tanpa alasan kok, Bu. Semua ini ada penjelasannya. Percayalah sebagai tenaga medis kesehatan kita memikirkan juga kesehatan ibu dan jika amit-amit memang benar ibu sedang hamil saat ini. Maka kita juga harus memikirkan kondisi janin yang memang ada di dalamnya. Kita kan juga harus memikirkan janinnya juga, Bu. Mengerti kan?" tanya Perawat itu. Elena hanya bisa terdiam dan menghela nafasnya panjang. Jujur saja dia masih mencoba mencerna semua yang terjadi sekarang. Jujur saja, dia tak memiliki siapapun di dunia ini, selain dirinya sendiri dan satu sahabatnya bernama Divana. Selama ini dia tinggal sendiri dan dia adalah anak dari panti asuhan yang memutuskan untuk hijrah setelah selesai kuliah dari beasiswanya dan ini tiba-tiba harus mendapatkan berita kehamilan. Andai hubungan dengan kekasihnya berjalan baik maka dia tak akan se-panik dan se-kaget ini, namun dia sangat sadar bayangan apa yang terjadi di depan. Di mana kekasihnya sudah mengatakan bahwa dia tak ingin berkomitmen apapun dan tidak mau memiliki anak. "Percayalah Ibu Elena, ini hanya menjadi ketakutan Ibu semata. Percayalah semua orang akan senang jika mendapatkan berita kehamilan, banyak di luar sana yang juga sedang berjuang mendapatkan garis dua. Tidak ada yang tidak senang, Bu. Mungkin kesalahan itu diperbuat oleh ibu dan lelaki yang harus bertanggung jawab. Tapi bayi itu tidaklah salah, Bu. Dia bahkan tak tahu apa-apa. Percayalah kepada saya, usia kehamilan di awal ini sangat menentukan keadaan anak, Bu. Jadi kita tidak boleh terlambat dan Ibu tidak boleh egois. Kita coba dulu ya, Bu," perintah perawat itu. "Kita tidak boleh terlambat. Ibu tidak boleh egois, kita coba dulu ya, Bu," perintah perawat itu. AKANKAH ELENA HAMIL? APAKAH ELENA MAU TES? BERSAMBUNG Hai guys untuk yang suka cerita tentang mertua vs menantu kalian bisa baca ceritaku yang lain di judul TAJAMNYA LIDAH MERTUAKU. Jangan lupa subscribe dan tinggalkan love untuk membuat penulis semangat. Untuk yang suka tentang drama rumah tangga yang mengisahkan perjuangan seorang istri merebut suaminya dari genggaman tangan pelakor bisa membaca di novelku berjudul Season 1 KETIKA SUAMIKU MEMINTA IZIN POLIGAMI Season 2 BAYI TAK BERNASAB
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN