Ela menundukkan kepalanya lalu memijatnya dengan cukup kuat. Saat ia mengangkat kepala, ia mendapati tatapan Narisa yang terarah padanya, hingga ia langsung berdeham kecil dan membuang pandangan. “Bagaimana hasil pertemuanmu?” “Aku sudah memohon untuk tidak menganggu kehidupan kita lagi. Aku mohon Nar, maafkan aku.” “Sudahlah, kita sama-sama tidak tahu kalau Wikler itu sebrengsek itu.” Desis Narisa. Ia sebenarnya masih marah dan kecewa karena belum berhasil memperbaiki kerusakan di toko rotinya meski ia sudah berusaha membersihkan setiap benda yang pecah, apalagi itu semua karena ia tahu Antonio tidak menyukai Ela yang dekat dengan Adkey. Jelas saja ia marah karena toko roti itu adalah satu-satunya sumber kehidupannya. Ia sedang kuliah, dan jika ia sambil bekerja, maka sepertinya uan

