“Oh, Ela, kau sungguh cantik hari ini. Sangat cantik.” Puji Narisa entah untuk keberapa kalinya setelah ia masuk ke ruang rias. Ela meraih tangan Narisa dan menatap wanita itu dengan gugup yang kentara jelas, “Aku sangat deg-degan, rasanya jantungku akan pergi dari tempatnya.” Ujarnya. Narisa terkekeh geli, bisa merasakan tangan Ela yang begitu dingin, meskipun dibalut dengan sarung tangan putih yang sebatas siku. “Yang penting kau sudah menghafal janji suci supaya menghilangkan gugupmu.” “Apa Adkey akan terpukau dengan wujudku sekarang?” tanyanya sambil menatap cermin. “Sangat terpesona. Aku jamin dia langsung ingin membawamu ke atas ranjang.” “Sialan,” desis Ela memukul lengan Narisa, “Itu bukan karena terpesonanya, tapi memang karena dia sangat mesum.” “Oh ya, mana Joe?” tanya

