Adkey memijat pelipisnya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. Ia baru saja menyelesaikan pertemuan dengan rekan bisnis ayahnya dan itu sangat melelahkan baginya. Ia paling tidak suka berpura-pura sopan dan gigih untuk meyakinkan orang akan nilai perusahaannya, apalagi jika orang itu berusaha mendebatnya hanya agar terlihat pintar. Dari kursi depan, Gerald sesekali memperhatikan Adkey. Merasakan ada yang memperhatikan dirinya, Adkey maju dari posisinya duduk dan mendekatkan wajahnya ke kursi Gerald, hingga ketika pria itu memutar kepalanya, ia langsung melihat wajah Adkey dengan begitu dekat. “Kau suka padaku?” tanya Adkey mengejutkan Gerald, lalu membuang pandangannya, “Aku masih normal, jadi maaf kalau aku menolak perasaanmu.” Gerald menghela nafas kasar, “Aku hanya ingin me

