Regina mengerti sudah. Ia menurut dan berbaring di sofa. Ia menghidupkan speakerphone dan mengarahkan ponsel ke dirinya. Tangan kirinya dengan sigap melepas panty sedangkan tangan kanannya memegang alat suntik tanpa jarum. Hidayat masih terus berbicara, memandu isterinya, merayu dengan romantis seolah mereka tengah b******a. Suara Hidayat yang berat dan desah nafasnya membuat Regina jadi ikut terlarut. Turut membayangkan kehadiran suaminya yang seolah menindih tubuh moleknya. “Bayangkan, saat ini Papa mengeluarkan p***s dan kamu membasahi dengan ludahmu.” Regina m******t sepanjang alat suntik. Otaknya membayangkan seperti yang Hidayat perintahan. Dalam pikirannya, alat itu memang adalah p***s Hidayat. Jadi ketika Hidayat mengucapkan bahwa ia tengah

