“Dia ke mana, sih? Kenapa nggak menjawab panggilan dariku?” Arga tidak bisa tidak menggumam kesal sambil menyetir mobilnya menuju apartemen Ryan. Bagaimana tidak, sejak tadi sore ia berusaha menghubungi sahabatnya itu, tapi tidak pernah bisa berhasil. Ia takut Ryan kembali melanglang buana, keluyuran tak tentu arah. Arga takut terjadi apa-apa pada CEO-nya tersebut. Jujur saja, saat ini ia merasa Ryan sering melakukan hal-hal yang membuatnya khawatir. Bukan tidak mungkin, sahabatnya tersebut melakukan hal nekat karena dirundung rasa bersalah pada Zaya juga merasa patah hati karena mantan istrinya itu telah hidup bahagia bersama lelaki lain. “Aisssh, Ryan benar-benar menyebalkan! Aku kayak bapak-bapak yang sibuk mengurusi kenakalan anaknya kalau begini caranya.” Kembali, Arga mengomel

