Kedua gadis itu menyerang secara bersamaan. Seorang wanita berjubah hitam hampir saja berhasil melukai wajah Luna Xynerva jika saja Luna Keysa tidak menerjang wanita itu. Wanita berjubah itu jatuh tersungkur di atas tanah rerumputan.
"Luna sialan!" umpat wanita yang sedang berusaha untuk bangkit dari posisi tersungkurnya itu.
Dara, sisi serigala dari Keysa menginjak perut wanita berjubah. Serigala berwarna cokelat muda itu mengangkat cakar-cakarnya yang tajam menyabet perut wanita itu. Dari luka itu keluar cairan merah kehitaman yang kental. Cakar putih kini kotor oleh darah berbau amis. Bersamaan dengan itu wanita yang memiliki rambut pirang tersebut menjerit kesakitan sampai kehilangan nyawanya. Cakar Dara memiliki racun yang mematikan.
"Terima kasih atas bantuannya Dara," ujar Luna Xynerva tulus.
"Hati-hati Luna! Mereka semua menginginkan kematian kita berdua," peringat Luna Dara yang dibalas anggukan singkat Xynerva.
Penyerang yang lain berdatangan menyerang mereka berdua. Jujur Xynerva bukanlah penyerang yang sudah terlatih. Gadis itu sungguh tak menyangka p*********n akan terjadi lagi di saat suasana bahagia. Entahlah, apa yang sebenarnya orang-orang itu inginkan dari mereka berdua?
Keadaan halaman belakang istana pack red moon kini sangatlah kacau, hiasan-hiasan hancur berantakan. Taman bunga yang indah kini rusak dan tercampur dengan aroma darah yang menjijikan dan menyengat. Rumput-rumput yang tak berdosa pun ikut terkena imbasnya. Pohon-pohon yang tertata rapi, kini ada beberapa yang patah. Sungguh pemandangan yang sangat tak pantas untuk dilihat.
Napas Xynerva memburu dan jantungnya berdetak dengan kencang. Bahkan dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Gadis yang keadaannya sudah berantakan itu melepaskan katapel tepat sasaran mengenai dahi pada salah satu penyerangnya sehingga meninggalkan bekas kemerahan, tapi itu bukanlah apa-apa bagi para bangsawan kegelapan. Lemparan batu itu hanya dianggap sebagai mainan saja.
"Kalian...para wanita harusnya tidak melakukan hal seperti ini!" seru Xynerva tersendat-sendat menatap lawan yang masih berdiri dengan kokoh. Keringat peluh membasahi gaun yang kini sudah kotor dan berantakan. Begitu juga dengan tatanan rambutnya yang sudah berantakan.
Penyerangnya tertawa sinis menatap Luna Xynerva yang masih sempat memberikan mereka nasihat yang basi. "Apa maksudmu? Apa aku harus tetap berada di rumah dengan dilayani oleh para pelayan seperti dirimu Luna?" tanyanya dengan nada mengejek.
"Setidaknya kau bisa menikmati hari dengan tenang tanpa terlibat pertarungan seperti ini," ujar Luna Xynerva mengabaikan ejekan wanita itu, dia mencoba untuk memberikan saran yang menurutnya baik. Sebab dia juga merasa kasihan pada wanita-wanita tersebut yang tak bisa menjalani layaknya wanita pada umumnya.
"Apa kau sedang kasihan padaku? Aku tidak butuh rasa kasihanmu! Aku juga tidak butuh pengajaranmu!" teriak wanita itu merasa tersinggung dan marah. Berani sekali seorang Luna kecil memberikan sebuah pengajaran, memangnya dia pikir dia siapa? Berani memberikan kata-kata yang tak berguna itu!
"Aku hanya memberikan nasihat yang baik untukmu Nona sebagai sama-sama perempuan," balas Luna Xynerva dengan jujur.
Wanita itu tertawa kembali. "Tak perlu ucapkan kata-kata sampah itu! Mungkin kau tak tahu Luna Kecil, di dunia ini yang kuatlah yang akan berkuasa, sedangkan yang lemah akan selalu diinjak!"
Xynerva memikirkan kata-kata wanita itu. "Apa maksudmu? Aku tak mengerti," ujarnya.
"Sudahlah, suatu saat kau akan mengerti sendiri! Jika kau memang merasa kasihan pada kami serahkan dirimu pada kami," sahut wanita berambut ungu. Jubah hitam dan pakaiannya yang hitam tidak cocok di wajahnya yang cantik dan lembut itu.