Malam Pertama

1046 Kata
Sepasang pengantin baru sedang berada di kamar berdua. Namun, Mereka tampak seperti orang asing yang tenggelam dalam aktivitasnya masing-masing. Deva tidak seperti seorang suami yang begitu bahagia dan mendekati istrinya di malam pertama. Dia tidak seperti orang yang berpuasa dan segera berbuka ketika magrib tiba. Tidak, dia malah asyik memainkan handphonenya di atas sofa. Laki-laki 25 tahun itu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Kepalanya ikut bersandar dengan mata yang terus-menerus memandang handphone. Sesekali, laki-laki yang klimis tanpa rambut di dagunya itu tersenyum sambil mengetikkan sesuatu di handphonenya. Nur Laila bergeming. Dia duduk di atas ranjang luasnya. Matanya memandang Deva dari kejauhan dengan mata nanar. Bayangan tentang malam pertama yang indah, sirna begitu saja. Berhari-hari sebelum hari pernikahan itu terjadi, dia sibuk membersihkan bekas lukanya di betis yang tidak seberapa. Dia sibuk mencari obat penghilang bekas luka sedemikian rupa supaya nanti suaminya mendapati tubuhnya yang mulus. Namun faktanya sekarang, memandangnya saja suaminya seolah tak sudi. Ah, tak pernah dia sangka akan seperti ini nasib pernikahannya. Nurlaila memang tampak tegar dari luar. Namun, dia tetap saja wanita yang memiliki hati dan perasaan. Melihat sang suami yang sedang asyik memainkan handphone sambil tersenyum di malam pertama pernikahan mereka, membuat hatinya teriris. Ini baru hari pertama, Bagaimana dengan hari-hari berikutnya? Huft … bagaimanapun juga ini adalah jalan yang sudah dia pilih. Dia lebih memilih untuk patuh terhadap bapaknya, dan dia yakin, jika dia patuh terhadap orang tua, pasti hidupnya akan lebih berkah nantinya. Ya, mungkin sekarang dia memang harus berjuang. Bukankah sesuatu yang diawali dengan perjuangan itu akan membuahkan hasil yang sangat manis untuk dinikmati ketika sudah merdeka nanti? Nurlaila tersenyum. Sepertinya dia mempunyai ide untuk menghibur dirinya sendiri. "Hei, Dik Suami. Aku nggak bisa tidur," ucap Nur Laila yang sengaja berucap dengan nada yang manja. Matanya terus menatap Deva yang menarikan jari-jemarinya di atas layar handphone tiada henti. Ah, Apakah dia sedang chat pacarnya? Entahlah, tak mungkin juga Nurlaila bertanya. "Terus?" Deva bertanya dengan nada yang dingin. Matanya tidak lepas dari handphone yang ada di hadapannya. Sebenarnya Deva merasa risih dengan panggilan yang disematkan oleh Nurlaila, tetapi dia memilih untuk diam dan tidak memprotes daripada dia harus berdebat. "Biasanya, aku selalu punya teman tidur. Aku nggak bisa kalau tidur sendirian dan tidak ada orang di sampingku." "Lalu?" 'Makhluk es batu, kau masih bertanya? Urat kepekaanmu telah putus ya? Apakah kau benar-benar seorang dosen? Begitukah caramu untuk menghormati orang lain? Kalau saja kau bukan suamiku, sudah aku bejek-bejek tak jadiin perkedel,' batin Nur Laila sambil terus memandang Deva. "Lalu, temani aku di tempat tidur ini." "Aku nggak akan tidur satu ranjang sama kamu." "Ya udah kalau begitu aku akan mengganggumu sepanjang malam. Karena aku benar-benar tidak bisa tidur." "Terserah." "Ya udah, kalau begitu aku yang ke sofa ya? Aku temenin di sofa boleh?" "Nggak." "Tapi aku pengen ada aktivitas." "Huft … berisik!" Diva risih juga akhirnya. Dia segera beranjak dari sofa, melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur, lalu dia meringkuk menghadap ke kiri memunggungi Nurlaila yang saat itu sedang duduk di sisi sebelah kanan. Nurlaila tersenyum menang, lalu dia segera menenggelamkan diri dalam selimut. 'Kali ini mungkin kita hanya tidur saling memunggungi, tetapi lihat saja nanti, akan ku buat kau tak bisa lepas dariku, Pak Dosen es batu.' *** Waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Nurlaila sudah berkeringat sana sini karena sudah melakukan banyak hal. Termasuk menyiapkan sarapan untuk suaminya. Makanan sudah siap tersaji di atas meja. Dia memasakkan nasi goreng spesial dengan 2 telur untuk suaminya. Nasi goreng buatan Nurlaila memang juara. Sudah diakui oleh bapaknya dan juga saudara-saudaranya, bawa nasi goreng buatan Nur memang tiada tanding. Uenak melebihi nasi goreng yang beli di mas-mas pinggir jalan itu. Mbak Surti, Ibu paruh baya yang biasa bantu-bantu di rumah Deva, melarang Nurlaila untuk memasak, tetapi Nur Keukeuh ingin memasak sendiri makanan yang akan dimakan oleh suaminya. "Bu Surti, biarkan saja saya yang masak untuk suami saya, saya ingin berusaha menjadi istri yang baik, Bu," ucap Nur waktu itu sambil memasukkan telur dalam wajan. Bu Surti sudah tidak bisa berbuat apa-apa, dan membiarkan Nur Laila melakukan apa yang diinginkan. Setelah sarapan sudah siap, Nur Laila kembali ke kamar. Didapatinya suami yang sudah rapi dengan celana bahan warna hitam di padu dengan Hem panjang warna biru muda. Ditambah dengan dasi warna biru muda dan hitam yang membuat suami Nur Laila itu tampak begitu mempesona. "Dik suami, mau berangkat kerja?" "Hmmm … " Deva hanya menjawabnya singkat sambil mematut dirinya di depan kaca. Deva adalah makhluk yang perfeksionis. Deva ingin segala sesuatunya tampak rapi dan sempurna. Sepatunya hitam mengkilat, rambutnya tersapu pomade klimis, dan bajunya terseterika dengan rapi. "Apakah dik Suami tidak cuti barang sehari?" tanya Nur Laila sambil memandang Deva dari tempat dia berdiri yang tidak jauh dari pintu. "Cuti buat apa?" Cuti buat apa? Nur Laila tersenyum miris. Iya, dia memang tidak pernah diperhitungkan ada di hidup Deva. Hanya dia saja yang merasa bahwa dia adalah suaminya, sementara Deva, sama sekali tidak menganggapnya sebagai istri. Nur Laila saja izin selama satu minggu dari tempat dia mengabdi. Dalam bayangannya dia kan sibuk menghabiskan waktu dengan suaminya, diajak bersilaturahmi ke rumah para sanak saudara seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang di desa. Ah, Sepertinya dia memang terlalu berharap banyak. Nurlaila menundukkan kepala, menyadari sejenak Siapa dirinya dan siapa Deva. Iya, jauh sekali perbedaan mereka. Antara bumi dan langit. Dia memandang sejenak Deva yang begitu modis dengan pakaian yang rapi dan klimis, sedangkan dia, tetap Nurlaila yang apa adanya dengan rok lebar dan baju kedodoran. "Ya sudah, aku bikinkan sarapan di meja makan." "Aku makan di kampus aja," ucap Deva lalu beranjak meninggalkan depan cermin dan siap melangkahkan kaki keluar dari kamarnya. "Tunggu!" teriakan kecil Nur menghentikan langkah kaki Deva. Nurlaila segera menghampiri Deva, diraihnya tangan kaku suaminya, lalu diciumnya punggung tangan sang suami sambil memejamkan mata. Ah, nikmat sekali mencium punggung tangan suami saat dia akan berangkat bekerja. Namun, Deva segera menarik tangannya cepat-cepat. Entahlah, dia tidak suka melihat tangannya lama-lama dicium oleh Nur, perempuan udik yang benar-benar membuat Deva illfeel sejak pandangan pertama. "Mas, Mas Deva. Di tunggu ibuk di depan," ucap Bu Surti di luar pintu. Deva Langsung membuang nafas kasar. 'Kenapa pagi-pagi ibu sudah datang ke sini? Itu artinya aku harus bersandiwara bersikap baik dengan mbak-mbak ini di hadapan ibu?' batin Deva sambil memperhatikan penampilan Nur Laila dari atas sampai bawah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN