Silvia mendekati Nur dengan berani. Ditatapnya perempuan udik yang ada di hadapannya dengan mata nyalang. Terus terang saja, Silvia sangat membenci wanita itu bahkan jauh sebelum dia bertemu dengan Nur. Mendengar namanya saja sudah membuat Silvia geram.
"Aku bukan selingkuhan mas Deva, mbak Nur, tetapi aku pacarnya. Aku sudah menjadi pacarnya jauh sebelum Mas Deva mengenal mbak Nur. Jadi siapa yang menjadi perusak di sini? Aku atau mbak Nur? Eh, sepertinya tidak pantas ya aku memanggil mbak. Buk Nur. Ya, itu yang pantes buat njenengan, Buk Nur."
Silvia memiringkan bibirnya. Merasa menang dengan posisinya saat ini. Dia merasa di atas angin. Baginya, Nur tidak ada apa-apanya dibanding dia. Dia lebih cantik, lebih muda dan lebih berpendidikan. Jadi dia yakin, suatu saat dia bisa berada di posisi Nur saat ini, menjadi istri sah Deva.
Nur mengepalkan tangannya. Awalnya dia ingin membuat Silvia Malu, ternyata malah dirinya yang emosi.
"Tidak seharusnya se_"
"Silvia, kamu sudah datang?"
Belum sampai Nur sempat membalas ucapan Silvia, Deva sudah datang, membuat perkataan Nur terhenti. Lelaki jangkung itu mengenakan celana bahan warna hitam dan hem kotak-kotak warna biru dongker dipadu dengan warna putih. Tangannya menenteng tas yang berisi laptop dan beberapa modul.
Silvia menoleh. Senyum Deva merekah saat melihat wajah kekasihnya. Sejenak, Nur terpana. Ketika laki-laki itu tersenyum, sungguh mirip sekali dengan Herjunot. Senyumnya tulus, senyum yang memikat setiap yang menatap. Baru kali ini Nur melihat senyuman Deva yang sangat tulus, tidak seperti sebelumnya. Ah, sayangnya senyum tulus itu tidak diperuntukkan untuk Nur.
"Hai Mas," ucap Silvia balik tersenyum. Senyumnya manis, sungguh menggetarkan hati. Seperti Deva, yang masih saja bergetar hatinya saat melihat senyuman Silvia.
"Sudah dari tadi?"
"Barusan. Mas sudah siap? Ayo berangkat sekarang," ucap Silvia yang sepertinya tidak sabar ingin cepat-cepat pergi dari hadapan Nur.
"Ayo."
"Em … Mas, mas mau berangkat? Nggak pamit dulu?" tanya Nur yang berusaha untuk meraih tangan sang suami. Namun, Nur sama sekali tak digubris. Tangan Nur yang terulur diabaikan. Dua sejoli yang tak halal itu bergandengan tangan, meninggalkan Nur menuju ke mobil Deva.
"Buk Nur, berangkat dulu ya? Bye!"
Silvia melambaikan tangan dengan raut muka meledek, kemudia menjulurkan lidah nya jangan kurang ajar. Sungguh, hal itu membuat darah Nur mendidih.
Mereka berdua segera beranjak Pergi meninggalkan Nur yang mematung. Ya, Dia Hanya dianggap manekin oleh suaminya. Jangankan pamit dan mengecup kening seperti permintaan ibunya, menyapa dan menoleh saja dia tidak Sudi.
Nur menatap mereka berdua yang masuk ke mobil dengan mata nanar. Perih, rasa hatinya seperti diremas-remas saat melihat suaminya berjalan bergandeng tangan dengan wanita lain. Tak terasa, Air mata menetes di pipinya. Dia tidak bisa lagi mencegah. Dia biarkan butir bening itu membuat pipinya basah.
"Kamu anggap aku ini apa, Dek Su? Meskipun aku tidak secantik kekasihmu, tetapi aku ini istrimu. Istrimu yang sah, yang seharusnya kamu gandeng tangannya. Bukan gadis itu," monolog Nur.
Nur masih tetap menatap jalan, mendengarkan deru mobil yang menyesakkan, lalu ekor matanya menangkap mobil yang dihuni oleh 2 orang yang berhasil membuat dadanya sesak. Dipandangnya mobil itu dengan mata nanar, sampai mobil bergerak perlahan menuju ke keluar pagar.
Dada Nur semakin terasa sesak. Namun, Nur segera menghapus air matanya dengan kedua ibu jari.
"Nur, kamu boleh sedih karena kamu masih manusia. Namun, bersedihlah sewajarnya saja. Saatnya menghapus air mata dan mencari solusi," ucap Nur pada dirinya sendiri. Dihapusnya airmata dengan kedua ibu jarinya. Dia harus bangkit. Dia tidak boleh lemah karena tidak akan menyelesaikan masalah.
Nur berjalan perlahan menuju ke dalam kamarnya sambil terus berpikir. Dirinya memang kalah jauh dengan Silvia, tetapi bukan berarti dia tidak bisa berdandan seperti Silvia, bukan?
'Silpi cantik karena dia memakai make up. Apakah aku juga akan secantik itu kalau memakai make up? Aku harus coba. Aku tidak boleh kalah dari pacar mas Deva. Aku juga harus berdandan cantik agar mas Deva mau melihatku,' batin Nur sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke kamar.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Mungkin itu pepatah yang sangat cocok untuk keadaan Nur Kali ini. Baru saja dia berharap bisa make up, dia mendapati satu kotak alat make up yang berisi satu set alat make up lengkap di atas tempat tidurnya.
Mulut Nur menganga, kesedihannya luntur sudah saat melihat satu kotak peralatan make up lengkap itu.
'Dek Suami, aku tahu kamu pasti ingin aku berdandan cantik kan? Terima kasih karena sudah memberikan perhatian seperti ini padaku. Ini sungguh luar biasa,' ucap Nur dalam hati sambil mengelus-elus kotak itu.
Fix. Dia harus berdandan. Akhirnya Nurlaila sibuk mencari tutorial make up di YouTube. Setelah menemukan tutorial make up yang dianggap mudah, akhirnya Nurlaila benar-benar praktek untuk make up.
Kurang lebih 3 jam Nur Laila berkutat dengan seluruh alat make up yang ada di kotak warna emas itu. Oles hapus, oles hapus, begitu terus dari tadi. Ternyata mengaplikasikan make up ke wajah itu tidak semudah yang dibayangkan. Meskipun sudah ada tutorialnya, tetapi tetap saja tidak mudah untuk mengaplikasikannya. Setelah kurang lebih 3 jam berlalu, Dania sudah selesai mengaplikasikan aneka alat make up ke wajahnya.
Ya, Nurlaila tidak pernah berdandan sendiri sama sekali. Saat itu adalah hari pertamanya. Dia bercermin di depan meja rias yang sengaja dibeli oleh Bu Nurul untuk Nur Laila.
Terlihat alis yang begitu tebal dan tidak membentuk sama sekali. Antara kiri dan kanan tidak sama. Alis Nur berbentuk kotak besar seperti alisnya Sinchan. Foundation yang digunakan dengan tidak merata membuat wajah Nur tampak cemong dan tidak ada kesan mulus sama sekali. Selain itu, bibir yang niatnya dia bikin ombre, tampak terlihat tidak beraturan. Warna orange di blend dengan warna sheer pink sehingga tidak bisa menimbulkan warna yang apik.
Nur juga memakai blush on yang ngumpul di tengah-tengah pipi sehingga terlihat seperti chibi Maruko chan. Nur tersenyum. Itu adalah kali pertamanya dia make up, karena biasanya dia hanya memakai bedak dan lipstik biasa saja tanpa ombre.
Tak lama setelah itu, Nur mendengar suara bel. Ya, itu pasti Deva. Nur tersenyum. Dia tidak sabar untuk memperlihatkan riasannya kepada sang suami.
Nur berlari kecil ke depan, lalu segera membuka pintu rumahnya.
Setelah pintu terbuka, didapatinya suami dan satu temannya berdiri di depan pintu. Mereka tampak membelalakkan Mata melihat Nurlaila. Terutama Deva.
Awan, teman Deva tampak menahan tawa melihat riasan Nur Laila.
"Dik, sudah pulang?" tanya Nur sambil senyum-senyum sendiri karena merasa cantik waktu itu.
"Ini siapa sih, Dev?"
"Ini pem_"
"Saya istrinya mas Deva. Perkenalkan, nama saya Nur," ucap Nur sambil mengulurkan tangannya.
Terlihat sekali awan menahan tawa yang siap meledak. Sementara Deva, memejamkan mata sejenak sambil menunduk. Malu. Dia benar-benar malu sama sahabatnya. Deva yang terkenal pemilih, ternyata memiliki istri yang … Ah, sudahlah.
Deva akhirnya masuk tanpa berucap sepatah kata pun pada Nur. Dia memendam kekesalan yang siap meledak.