Sudah beberapa bulan berlalu sejak Febri pergi meninggalkannya. Seharusnya Rama sudah terbiasa dengan perubahan baru di hidupnya, tapi ia tak bisa berbohong jika hatinya merasa kosong tanpa Febri yang mengisinya. Cewek yang pernah mendekam dalam hati dan ingatan Rama, kini telah terbang bebas bersama seseorang yang lebih pantas untuknya. Laki-laki itu masih dalam tahap mengikhlaskan, walau seringkali tergoda untuk membawanya kembali ke sisinya. Rama benar-benar mencintai Febri, tapi waktu tak lagi memberikannya kesempatan lebih lama untuk bersamanya. Orang bilang, jika benar-benar mencintainya, maka biarkanlah dia pergi. Entah mengapa kalimat itu terasa sulit untuk Rama lakukan. Bagaimana bisa membiarkannya pergi begitu saja di saat hati meronta-ronta akan cintanya? Dia mengusap lehern

