“Btw Rai, yang di taman waktu itu pacar kamu ya?”
“Hah?!”
__
Mirai hampir saja di buat jantungan dengan apa yang di katakan oleh Fani. Sejak kapan ia memiliki pacar, dekat dengan lelaki saja Mirai tidak pernah kecuali ... Mirai baru ingat sekarang ini ia sedang dekat dengan Aksa, tetapi kan tidak bisa di katakan bahwa mereka berpacaran, hanya dekat saja dan lagi mereka baru saja saling mengenal satu sam lain. Dan tadi Fani mengatakan lelaki yang di taman, berarti maksudnya Aksa?
“Apa sih kamu. Mana ada aku punya pacar, kok kamu bisa tahu kalau aku lagi sama cowok di taman?” tanya Mirai.
Mirai tidak menyangka kalau Fani ada di taman kota juga dan melihat ia sedang bersama dengan Aksa. Memang selesai mencoba bermain biola dan melihat permainan biola yang Aksa tunjukkan, lelaki itu mengajaknya untuk makan jajanan yang ada di sana, tetapi memang hanya sebentar karena ibunya sudah menelepon dan menyuruh pulang.
“Tahu dong. Kan aku juga ada di sana, nggak begitu jauh dari kamu yang lagi berdua sama cowok itu, tadinya aku mau samperin kamu tapi takut ganggu, jarang-jarang kan aku bisa lihat kamu lagi sama cowokmu begitu.”
Mirai berdecak, “Udah aku bilang, dia bukan cowokku. Namanya Aksara dan kita baru kenalan waktu itu.”
“Cie ... baru kenalan udah di ajak jalan.”
Fani tampak senang sekali menggodaa Mirai yang sedang dekat dengan lelaki, karena selama ini gadis yang menjadi teman satu kelasnya itu memang tidak kelihatan dekat dengan seorang lelaki, kecuali teman sekelas mereka. Itu pun kalau memang dekat hanya sebatas karena ada tugas kelompok. Selebihnya tidak pernah kelihatan berdekatan secara khusus.
“Astaga, jalan apa sih. Kamu emang kalau cie-cie-in orang udah paling jagonya. Aku ke taman waktu itu sendirian, terus lihat pengamen gitu lagi pegang biola nah kan aku suka banget sama alat musik itu, ya Aksa itu salah satu dari pengamennya, tahunya Aksa ajak aku buat gabung sama teman-temannya terus habis itu emang dia ajak makan, jajan di sekitaran taman itu.” Mirai mau tak mau menjelaskan kepada Fani, daripada temannya itu beranggapan kalau ia memiliki pacar.
Fani menganggukkan kepalanya, tampak memahami apa yang di jelaskan oleh Mirai kepadanya. Sebenarnya kalau memang lelaki itu pacarnya Mirai, ia tidak masalah. Justru senang saja, tetapi ternyata hanya sebatas teman, padahal mereka cocok sekali. Dan jelas sekali kalau tatapan lelaki yang bersama dengan Mirai itu tampak berbeda, Fani bisa tahu saat itu. Pokoknya berbeda saja, tampak hangat, melindungi dan menyukai Mirai. Atau mungkin ini hanya pikirannya saja?
“Terus gimana sekarang?” tanya Fani masih penasaran sekali dengan sosok lelaki itu. Siapa tahu ada kelanjutan dari hubungan Mirai dan Aksa setelah sama-sama di hari itu.
“Gimana apanya?” Mirai malah balik bertanya membuat Fani berdecak.
“Ya gimana, kalian udah sampai tahap apa gitu. Pendekatan, teman rasa pacar atau malah udah jadian?”
Mirai menggeleng, “Lagian aku sama dia teman doang. Kita baru kenal, aku udah bilang sama kamu dan harus kubilang berapa kali sih. Dia kebetulan bisa juga main biola jadi aku pikir nggak ada salahnya kalau aku belajar dari dia, selama ini aku mau banget main biola.”
“Dan setelah itu tumbuh benih-benih cinta,” celetuk Fani.
“Halah kamu, Fan. Cinta melulu yang di bahas, belajar kanji tuh yang banyak sampe lima ribu kanji,” balas Mirai.
“Pusing, Rai. Lebih baik belajar mendapatkan hati Gama Sensei aja.”
“Ya udah sana! Selamat berjuang!”
**
Ting. Notifikasi pesan masuk membuat Mirai yang sejak tadi asyik melihat layar laptopnya, memilih untuk menjeda lebih dulu video yang sedang ia tonton. Mengambil handphone yang berada di atas tempat tidur, tadi memang ia taruh sembarangan karena buru-buru ingin menonton video permainan biola untuk kembali belajar secara online.
Tampak satu nama dari salah satu kontak yang ia simpan mengirimkan pesan kepadanya. Aksara, lelaki itu yang ternyata mengirimkan pesan untuk pertama kalinya setelah mereka bertukar nomor telepon.
Aksa : Rai, lagi sibuk nggak?
Mirai langsung mengirimkan pesan balasan kepada Aksa.
Mirai : Nggak. Ada apa, Sa?
Centang abu tidak lama berubah menjadi biru setelah Mirai mengirim balasan tersebut. Tampak Aksa sedang mengetikkan balasan, ternyata lelaki itu cepat sekali membaca pesannya.
Aksa : Minggu depan aku sama yang lain ada di Alun-alun, siapa tahu kamu mau coba lagi biolanya.
Mirai : Ok. Kasih tahu jam berapa kalian di sana ya.
Aksa : Siap!
Mirai tersenyum lebar membaca pesan dari Aksa, ternyata belum dia meminta tolong kepada Aksa untuk di ajarkan memainkan biola, lelaki itu sudah peka lagi dan malah menawarkan untuk memakai kembali biola yang temannya miliki.
Memang rencana Mirai akan meminta kepada Aksa untuk mengajarkannya bermain biola, setelah kemarin ia cukup lama berpikir, akhirnya Mirai memilih untuk meminta bantuan kepada Aksa, karena ia tahu kalau belajar memainkan alat musik harus secara langsung, dengan prakteknya bukan hanya menonton saja.
Dan lagi ia belum bisa membeli biola, masih menabung, jadi apa salahnya meminjam dulu kepada Aksa. Mirai rasa lelaki itu baik di lihat dari pertama mereka berkenalan, malah Aksa sendiri yang menawarkan kepada Mirai untuk menggunakan biolanya.
**
“Dek, kemarin Mama dapat info loh dari Tante Mei. Anaknya itu lagi kerja di Jepang, hebat banget deh habis lulus kuliah bahasa Jepang gitu terus dapat kerja di sana karena sebelumnya ada kesempatan magang dari kampus. Alumni Universitas kamu juga loh.”
Kalau boleh memilih Mirai ingin sekali beranjak dari tempatnya, menyelesaikan makan malamnya dengan cepat dari pada mendengar perkataan sang ibu yang kembali membahas tentang pergi ke Jepang.
Bukan Mirai tidak mau, siapa sih yang tidak mau pergi ke luar negeri seperti itu, tetapi Mirai merasa perkataan ibunya akan berujung membandingkan dirinya dengan anak dari Tante Mei, Mirai tahu orangnya. Senpai-nya yang memang baru saja lulus tahun kemarin, Indah Senpai.
“Berarti memang ada kesempatan magang dari kampus kamu, Dek. Coba cari informasi,” lanjut Bu Gita kembali.
“Iya, ada kok, Ma.”
“Nah! Bagus tuh nanti kamu cari informasinya terus ikutan, nggak apa-apa kalau memang harus cuti satu tahun. Kata Tante Mei juga anaknya sempat cuti dan memang kampus kasih ijin karena ini program kerja sama dari pihak kampus sama perusahaan yang di Jepang.” Bu Gita tampak bersemangat sekali, kelihatan sekali bahwa Bu Gita tidak mau kalah dengan temannya. Kalau anak dari Tante Mei bisa ke Jepang, tentu saja anaknya pun bisa.
“Ma, nanti aja di bahasnya. Kan masih makan, malah keselek nanti kalau sambil bicara.” Ayu yang sadar lebih dulu dengan sikap Mirai yang seolah enggan membahas perihal magang ke Jepang tersebut akhirnya mengeluarkan suara.
“Habisnya Mama keburu semangat, kan bagus kalau adik kamu bisa ke Jepang. Jadi nanti anak-anak Mama hebat, kamu yang sukses sama restoran terus Mirai juga bisa sukses karena kuliah di jurusan bahasa Jepang.”
“Iya, Ma. Nanti saja di bahasnya, lagian kan kalau ada kesempatan pasti Mirai nggak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Iya kan Dek?” Pak Chandra yang sejak tadi hanya menyimak mulai bicara dan menatap ke arah putri bungsunya.
Mirai yang di tatap dengan begitu lekat hanya mengangguk kaku, tidak tahu lagi harus bagaimana. Kenapa sampai sekarang ia masih belum bisa mengeluarkan apa yang ia inginkan, hanya di pendam kalau sudah berhadapan dengan orang tuanya.
Makan malam pun kembali dalam keheningan, Mirai sangat berterima kasih kepada kakaknya, karena tadi bisa menghentikan sang ibu untuk tidak terus membahas tentang anak dari Tante Mei dan tentang program magang ke Jepang.
Suasana hatinya sedang baik sekali karena akan belajar biola dengan Aksa, tetapi harus kembali rusakk akibat pembahasan yang berujung memandingkan dirinya.
Kenapa nasibnya seperti ini?
Tidak bisa mengatakan dengan begitu tegas kepada orang tuanya, ia masih takut karena pada akhirnya akan mengecewakan. Ya, Mirai yang selama ini menjadi anak penurut tentu saja akan membuat kedua orang tuanya kecewa karena berpaling dari jurusan yang selama ini sudah di tentukan oleh ibunya.