Day (15)

1007 Kata
Aneira benar-benar ingin menyembunyikan wajahnya pada saat itu pertanyaan divandra benar-benar menyudutkannya memangnya dia siapa sehingga harus menanyakan apakah Aneira mau sama Fairel atau tidak. Tuhan Aneira berharap ada seseorang yang bisa menolongnya seperti keajaiban yang dikabulkan Tuhan pada waktu yang sama datanglah seorang pelayan membawakan pesanan mereka akhirnya ia bisa terbebas dari pertanyaan-pertanyaan Bodoh kedua orang ini. Fairel menghela nafas pelan akhirnya Ia tak perlu menjawab pertanyaan yang diajukan Kein kepadanya. *** Divandra melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan "Iya ada apa Mbak?" "Bill-nya Mas" "Oh tunggu sebentar ya" Aneira menawarkan diri untuk membayar tagihan yang ada di Bil "Biar gue aja yang bayar" "loh nggak usah Ne biar gue aja" Divandra mencegah Aneira untuk membayar "Enggak apa-apa apa biar gua aja sekalian sebagai salam perkenalan gue ke kalian" Aneira masih kukuh untuk menawarkan dirinya untuk membayar "Gue aja Ne, nggak apa-apa gue yang harusnya terima kasih karena lo semua udah mau nemenin gue udah sabar nungguin gue belanja" "Gue aja Di" "Gue yang bayar ya nggak usah lo biar gue aja oke " Kein dan Fairel hanya melihat kedua gadis itu berebutan siapa yang ingin membayar tagihan makanan malam ini, Kein hanya menggeleng-gelengkan kepala "Dasar cewek kebanyakan drama" Tanpa Aneira dan Divandra sadari ternyata pelayan itu sudah datang membawa Bill mereka dan Fairel lah yang menerima tagihan itu segera Fairel beranjak menuju kasir tentu saja tanpa sepengetahuan aneira dan divandra yang masih sibuk berdebat dengan topik yang sama. Fairel sudah sampai di meja kasir segera iaa memberikan Bill yang telah diberikan oleh pelayan "Ini Mbak " "Oh ya totalnya Rp. 485.000 mas" Fairel langsung mengeluarkan kartu kreditnya karena uang cashnya tidak cukup Fairel sudah biasa untuk tidak membawa uang cash banyak-banyak karena jika dirinya membawa uang cash dalam jumlah yang besar maka akan membuat dompetnya menjadi tebal dan menurutnya dompet tebal identik dengan seorang bapak-bapak. Fairel karena sejak dahulu sudah terlahir dari keluarga yang kaya membuatnya sangat memperhatikan outfit yang dipakainya, Fairel memang suka outfit yang simpel tapi tetap stylish bahkan outfitnya kebanyakan bewarna hitam dari berbagai merk terkenal dunia. Setelah pelayan kasir itu mengembalikan kartu Fairel, Fairel segera beranjak menuju mejanya untuk kembali bertemu dengan teman temannya tidak lupa Fairel tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada pelayanan tersebut. Tetapi Fairel memang tidak pernah tahu apa dampak dari senyumannya, Lihatlah setelah kepergian Fairel mbak kasir yang melayaninya tadi benar-benar tak sadarkan diri karena senyuman Fairel yang sangat manis tak pernah sekalipun ia melihat senyuman seseorang sebegitu menariknya. *** Kein yang sejak tadi hanya diam memperhatikan tampaknya harus segera turun tangan untuk menghentikan kedua perempuan itu "Woi" panggilnya tapi tentu saja tak dihiraukan oleh keduanya "Kak Kein bisa diam dulu nggak" Kein tak bisa bersabar sudah cukup ia mellihat perdebatan kedua gadis itu "Gue bisa diam tapi lo berdua juga harus diam tagihannya udah dibayar sama si Fairel" mendengar ucapan Kein segera kedua Gadis itu menghentikan perdebatan mereka yang tak kunjung selesai "Sejak kapan?" tanya Divandra "Sejak lo berdua mulai berdebat, tuh orangnya" Tunjuk Kein kepada Farel yang telah selesai membayar tagihan meja mereka "Ya udah yuk cabut udah malam" ujar Fairel kemudian diikuti oleh Kein dibelakangnya divandra dan Aneira saling berpandangan dan anehnya mereka malah saling tertawa menertawakan kebodohan mereka sehingga tak menyadari bahwa Fairel sudah membayarnya. *** Akhirnya aneira sampai di apartemennya Iaa langsung membaringkan tubuhnya di kasur sudah lama rasanya ia tak bersenang-senang bersama temannya baru saja Aneira ingin memejamkan matanya tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke ponselnya ia segera membaca pesan dari Mr.X Jangan sampai lupa sama misi lo sendiri Pesan itu terdengar seperti peringatan bagi Aneira. *** Sama halnya dengan Naira Fairel juga sudah sampai di rumahnya. Hal pertama yang menyambutnya adalah adik perempuannya Fini "Kakak" panggil Fini sambil berlari ke arahnya Fairel dengan cepat mengangkat tubuh Fini ke dalam gendongannya "Fini kenapa belum tidur?" tanya Fairel kepada gadis kecil itu "Fini nungguin Kak Fairel tadi kata Mama Kak Fairel pergi sama kak Kein tapi kok udah malam belum pulang?" "Iya tadi Kak Fairel nemenin Kak Diva belanja." jelas Fairel "Belanja? ulang Fini "Kak Diva mau ulang tahun" "Wah Fini mau ikut Kak" ujar Fini memohon "Boleh nanti kakak tanya ke kak Diva dulu ya" "Horeeee" teriak Fini senang lalu Fairel membawa adiknya itu ke kamar mamanya "Mama udah tidur?" tanya Fairel kepada Fini Fini hanya menggeleng lalu dengan perlahan Fairel membuka pintu kamar mamanya Mamaya yang melihat kedua anaknya masuk segera beranjak dari tempat tidurnya "Fairel kamu udah pulang?" Fairel hanya mengangguk lalu memberikan Fini kepada mamanya "Fairel ke kamar dulu ma" Fairel langsung pergi menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Fairel sampai di kamarnya biasanya hal yang akan ia lakukan adalah berbaring di tempat tidur tapi kali ini pikirannya kembali mengingat tentang apa yang terjadi di dalam mobil. Fairelmembuka pintu yang menuju balkon kamarnya, malam ini ia putuskan untuk duduk disana barang sebentar, untuk menikmati udara malam yang dingin dan hembusan angin yang menerpa anak-anak rambutnya. Fairel memandang ke langit yang hitam pekat tanpa adanya bintang yang berkelap kelip, sudah berbulan-bulan Fairel tak duduk di sini di balkon kamarnya. Sebab jika ia mengunjungi balkon ini pasti dirinya sedang dalam perasaan kalut. Balkon ini menjadi saksi bisu perasaan Fairel yang selama ini terus ia pendam demi kebaikan orang-orang yang ada di sekitarnya. Fairel kembali mengambil ponsel yang ada di saku celananya ia beranikan diri untuk membacanya sekali lagi hanya sebuah kalimat yang terdiri dari 3 kata tapi bisa membuat perasaannya campur aduk. "Dari mana dia mendapatkan nomor ku" tanya Fairel kepada dirinya sendiri sudah berulang kali ia mencoba untuk tidak membalas email dari orang itu tapi seperti memiliki beribu cara orang itu tak berhenti menghubunginya andai saja Fairel bersikap egois pasti Ia dan orang itu sudah berbahagia kini. Lo terlalu mikirin orang yang disekitar lo sampai lo lupa dengan diri lo sendiri Rel Lo berhak bahagia karena lo manusia. Kalimat terakhir yang diucapkan oleh orang itu yaitu gadis yang selama ini mengisi hatinya sebelum akhirnya Fairel menjaga jarak dengannya bahkan memutuskan kontak dengan gadis itu masih terngiang ngiang di ingatannya. "Dirinya berhak bahagia tapi tidak diatas penderitaan orang lain" batinnya ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN