setelah mencari berbagai macam rekomendasi party planner yang sudah terjamin kualitasnya akhirnya mereka menjatuhkan hati kepada salah satu party planner yang rancangannya benar benar sesuai dengan keinginan Divandra.
"Cari party planner aja butuh waktu hampir satu jam ya Ne" Divandra merenggangkan tubuhnya agar lelahnya sedikit hilang.
Tema pesta sweet seventeen Divandra kali ini adalah ungu dan pink karena ia sangat menyukai kedua warna itu, selama ini ia selalu memimpikan pesta ulang tahun yang besar dan mewah.
"Hotel gimana?" tanya Aneira memastikan sebab hotel harus dipilih jauh jauh hari apalagi acaranya hanya kurang dari seminggu
"Hotel mama yang cari Ne" Aneira mengangguk mengerti.
Divandra menepuk jidatnya "Ya ampun Nei, gue lupa tadi mama nyuruh gue ke butik langganan keluarga gue"
"Ya udah ayok"
Divandra langsung menggeleng cepat ia tidak ingin merepotkan Aneira lagi dan lagi "Gue sama kak Kein aja perginya"
Aneira yang tak yakin bahwa Divandra pergi ke butik dengan Kein kembali bertanya kepada Divandra "Lo yakin pergi sama dia, gue tahu nanti di butik pasti lama seorang Kein nggak mungkin mau nunggu lama" ucapan Aneira membuat Divanrda berpikir dua kali sepertinya apa yang diucapkan Aneira benar. Akhirnya ia mengambil ponsel miliknya di dalam tas untuk menghubungi kakaknya
Divandra : Halo kak
Kein
: Apa?
Divandra : Lo dimana?
Kein
: Gue di rumah Fairel
Divandra : Lo mau temenin gue ke butik nggak?
Kein
: Ngapain?
Divandra : Cari gaun lah, please.
Kein
: Ya udah gue otw sama Fairel.
Sambungan telfon tertutup
"Kakak gue mau Ne" ujar Divandra tepat setelah meletakkan ponselnya di atas meja.
"Ya udah baguslah" Aneira menutup laptopnya untuk segera ia letakkan di tempat sebelumnya
"Tapi Ne, lo mau temenin gue kan kak Fairel ikut gue nggak mau grogi sendiri" lagi ucapan polos dari Divandra membuat Aneira tak bisa menolak keinginannya "Iya gue ikut, gue siap siap dulu ya"
"Oke"
Divandra lalu membaringkan tubuhnya di sofa milik Aneira menunggu Aneira bersiap siap.
"Gue lupa ngasih tau alamatnya" ujar Divandra kemudian dengan cepat kembali ia ambil ponsel yang tergeletak di atas meja
dan mengirim lokasi apartment Aneira kepada Kein.
***
Divandra dan Aneira sudah menunggu di lobi hampir 10 menit tapi keberadaan Kein juga belum tampak hilalnya.
"Lo dimana?" tanya Divandra tak sabaran di telfon
"Gue mau sampai nih, nih gue di depan lobby"
Divandra langsung menutup sambungan telfon setelah ia melihat mobil Kein sedang berada di depan, kali ini Kein tak berbohong.
"Ayo Ne, itu abang gue"
Divandra melangkah terlebih dulu diikuti dengan Aneira.
Aneira bisa melihat bahwa Kein memang membawa Fairel
"Lo duduk dibelakang" suruh Kein sambil membuka kacanya agar suaranya terdengar jelas oleh Divandra dan Aneira.
"Nggak lo suruh juga gue tahu" sewot Divandra
Kemudian saat semua sudah dipastikan naik, Kein melajukan mobilnya meninggalkan pelantaran Lobby
***
Suara Kein memecah keheningan di dalam mobil "Lo tinggal di situ Ne?"
"Iya kak" hanya itu yang bisa dijawab Aneira
Tapi maksud hati Kein hanya bertanya tiba tiba Divandra malah menyudutkannya "Emangnya kalau lo tahu Aneira tinggal disana lo mau ngapain?"
Pertanyaan Divandra membuat Kein harus mengelus dadanya berulang kali, Kein benar benar tak mengerti bagaimana adiknya terus terusan berfikiran negatif kepadanya, padahal ia hanya bertanya sekedar basa basi untuk memulai pertanyaan.
Fairel yang mendengar hal itu, malah tertawa melihat Kein yang ternistakan oleh adiknya sendiri.
"Fairel lo bisa diam nggak" ancam Kein
"Maaf bro wkwk Maaf" Fairel masih saja tak bisa menahan tawanya.
***
Mobil mereka sampai di pelataran parkir sebuah butik ternama. Kein sedang sibuk mencari tempat parkir yang kosong mereka tak menyangka bahwa butik akan ramai pada jam segini. Jika tahu begini Kein akan menolak ajakan dari Divandra.
"Kak itu mobilnya mau keluar" tunjuk Aneira melihat mobil yang akan keluar.
Kein dengan cepat melajukan mobilnya sebelum mobil lain menyerobot tempat parkir yang menjadi incarannya.
"Op tidak bisa" ujar Kein ketika mobil lain akan mengambil tempatnya dengan cepat Kein memarkirkan mobilnya dengan sangat cepat, skill mengemudi Kein patut diacungi jempol.
"Hebat juga lo" puji Fairel orang yang dipuji tentu saja merasa sangat senang Kein menaikkan salah satu alisnya dan bibirnya membentuk smirk.
"Nggak usah terbang kalau dipuji" selalu omongan pedas Divandra membuat Kein patah semangat
"Lo bisa nggak manis dikit bareng sedetik, nanti gue tinggal lo" mendengar ancaman Kein divandra Segera meralat perkataannya "Hebat banget lo kak, gue nggak nyangka kalau lo bisa sehebat itu" perkataan Divandra memang terdengar menguji tapi entah kenapa ekspresi wajahnya seperti mengejek.
Aneira yang jengah melihat pertengkaran keduanya akhirnya bersuara
"Kalian berdua jadi turun atau nggak kalau nggak gue pulang "
"Iya gue juga pulang" Fairel juga ikut mengatakan hal yang sama dengan Aneira
Kein dan Divandra selalu bertengkar dimanapun dan kapanpun tidak melihat tempat dan situasi
"Oh iya maaf" divandra akhirnya sadar dan mengajak aneira beserta Fairel turun dari mobil
"Ya udah, hayuk Ne, Kak nanti keburu malam"
Mereka berempat berjalan menuju butik beriringan, tanpa mereka sadari orang pasti menilai mereka sebagai dua pasangan remaja yang sedang ingin berbelanja.
***
Divandra sedang asyik memilih gaun yang cocok untuk dirinya, Aneira tak menyangka bahwa Divandra akan memilih gaun selama ini sejak tadi ia memang menemani Divandra mencari gaun tapi sekarang Aneira benar benar menyerah kakinya sudah hampir mati rasa. pada akhirnya ia memutuskan untuk duduk di kursi yang disana sudah ada Kein dan Fairel.
Aneira melangkah lunglai kakinya sudah tak mampu menahan beban tubuhnya.
Kein yang sadar akan ekspresi Aneira malah menertawainya "Gue kan tadi udah bilang ke lo, lo sih keras kepala" ujar Kein saat Aneira mendaratkan bokongnya di sebelah Fairel, karena hanya itu tempat yang tersisa.
"Gue beneran nyerah kak" ujar Aneira sambil memijat mijat kakinya, Fairel yang melihat itu segera memberikan sebotol air mineral yang dari tadi berada di tasnya kepada Aneira "Ini, masih baru belum gue minum"
Aneira menatap air mineral yang diberikan Fairel, dengan cepat Aneira mengambilnya tak lupa ia mengucapkan terimakasih.
Kein yang melihat itu segera mencuil badan Fairel "Gue dari tadi haus, nggak ada tuh lu ngasih minum ke gue" bisik Kein kepada Fairel yang dibalas dengan cengiran dari seorang Fairel.
Walaupun Kein berbisik tapi Aneira bisa mendengar bisikan itu untung saja ia belum sempat meminum air mineral pemberian Fairel.
"Ini kak buat lo aja" ujar Aneira sambil mengarahkan botol air mineral kepada Kein.
"Nggak usah gue cuman bercana, kan Fairel ngasih ke lo" ujar Kein yang merasa tak enak lalu mendorong botol itu ke arah Aneira.
***