Day (10)

1049 Kata
Fairel keluar dari rumah sakit menuju mobilnya, hari sudah menunjukkan pukul 19.00 waktunya dirinya untuk pulang. Fairel masuk ke dalam mobilnya tanpa curiga padahal sejak tadi Aneira rela menunggu Fairel untuk mendapat informasi penting yang lain selain tahu bahwa Fairel memang berhubungan dengan geng itu. Fairel meninggalkan pelataran rumah sakit begitu pula Aneira, hari ini cukup sampai disini toh ia sudah mendapat informasi penting. Sama seperti halnya Fairel, Aneira memutuskan untuk kembali ke apartmentnya yang berada cukup jauh dari rumah sakit ini. *** Aneira sampai di apartmentnya ia memutuskan untuk membersihkan dirinya sebelum makanannya tiba, biasanya Aneira selalu memesan makanan melalui aplikasi online. Sebab tak ada orang selain dirinya di apartment, Aneira hidup sendirian di apartment seluas ini, tapi tentu saja ia tak membersihkan apartment ini sendirian ia dibantu oleh asisten rumah tangga yang bertugas untuk mencuci dan membersihkan apartmentnya tapi terkadang Asisten itu membuatnya sarapan pagi tapi ketika malam asisten itu sudah kembali ke rumahnya karena tidak dibutuhkan lagi, Aneira juga bukan tipe orang yang harus terus dilayani cukup asisten itu bekerja di siang hari tak perlu sampai malam hari. Karena asisten itu juga manusia punya rasa lelah dan penat. Aneira mengguyurkan tubuhnya dengan air dingin, malam ini ia butuh sesuatu yang dingin untuk meredakan emosinya yang sejak tadi ia tahan, mungkin dengan air dingin ini bisa meluapkan segalanya. Aneira terduduk dibawah guyuran air, selalu saja saat malam hari ia akan teringat dengan perasaan dan kenangan yang menyakitkan. Mungkin hal yang paling Aneira benci di dunia ini adalah malam dan orang itu, orang yang telah merenggut kebahagiannya. *** Setelah hampir satu jam ia habiskan di kamar mandi, sekarang Aneira sedang menikmati makan malamnya yang telah datang. Hari ini ia memesan nasi goreng kesukaannya, mungkin hampir setiap malam Aneira memesan nasi goreng ini, karena ntah kenapa rasanya mirip seperti saat ayahnya membuatnya saat ia dan kakaknya kecil. Aneira memasukkan setiap suapan ke mulutnya, benar benar enak rasanya. Mungkin bagi sebagian orang rasa nasi goreng ini sangatlah biasa, tapi setidaknya hanya dengan memakannya ia bisa menobati rasa rindu kepada ayahnya. *** Fairel duduk di meja belajarnya membuka laptop yang sudah lama tak ia nyalakan, karena suatu hal yang selama ini ia hindari. Entah kenapa kali ini ia hanya ingin mengecek sesuatu yang selama ini menganggunya, iia arahkan perlahan kursor ke mesin pencarian dan mengetik satu per satu huruf di keyboardnya menjadi satu kata yaitu sss. Segera Fairel menekan enter, dan beberapa saat kemudian terbukalah sebuah email yang sudah lama tidak ia buka ada beberapa kotak masuk, satu email yang berada di kotak masuk yang sudah dikirim satu minggu yag lalu membuat jarinya berhenti di udara tak jadi membukanya. Fairel menimbang nimbang apakah ia akan membuka email itu atau biarkan saja, email dari orang yang pernah menempati hatinya mungkin hingga saat ini. Tapi setelah mengingat apa yang terjadi fairel memutuskan untuk tidak penasaran tentang isi dari email itu. Fairel lalu menekan tombol shutdown, seketika ia menyesal akan apa yang ia lakukan barusan. Seharusnya ia tak mengecek emailnya padahal ia tahu bahwa sesuatu seperti itu akan terjadi. Fairel yang merasa moodnya sudah rusak, segera membaringkan tubuhnya di atas kasur. Hari ini begitu melelahkan apalagi mengingat hal yang terjadi kepada Ridho. Fairel meletakkan tangannya di kepala sambil memejamkan matanya berharap rasa lelah ini segera hilang. Fairel tahu rasa lelah ini disebabkan oleh hatinya sejak saat itu ia hidupnya seperti mati rasa, tak ada yang spesial hanya berjalan datar. Walaupun seperti itu ia tahu bahwa itu adalah keputusan yang terbaik demi dirinya. Sekarang Fairel hanya berharap semua perasaan ini cepat atau lambat akan segera hilang. *** Aneira sedang berbaring di kasur miliknya, mengecek pesan dari Mr.X yang masuk di ponselnya sejak 2 jam yang lalu, sepertinya pesan itu masuk saat ia sedang dikamar mandi. Aneira dengan cepat membuka pesan itu, pesan dari Mr.X selalu saja membuat moodnya yang awalnya buruk menjadi jauh lebih baik. Bersiaplah, gadis itu kembali. Begitulah isi pesan dari Mr.X Aneira yang membaca itu begitu bersemangat benar dugaannya pesan dari Mr.X selalu saja membuatnya bahagia. Sebentar lagi, hanya butuh waktu sebentar lagi untuk membalaskan semuanya. Oke, aku senang mendengar beritamu. Mr.X membalas pesan Aneira dengan mengirimkan sebuah foto dengan sebuah keterangan *foto* Ingatlah. Tanpa Mr.X itu perintahkan Aneira akan selalu mengingatnya, untuk hal seperti ini Aneira tidak akan mudah melupakannya. Hal inilah yang telah ia rencanakan sebelumnya. Tunggu semuanya, Aneira datang. *** Kein dan Divandra sedang duduk di ruang makan menyantap sarapan mereka sebelum berangkat sekolah, kali ini dengan kekuatan Divandra Kein bisa bangun tepat waktu. "Ma, bentar lagi aku ulang tahun yang ke 17" Divandra mengkode mamanya agar mamanya mengingat bahwa ulang tahunnya hanya beberapa hari lagi, tapi bukannya mamanya yang bereaksi malah Kein, orang yang sangat tidak ia harapkan. "Gue juga bentar lagi ke 18" "Gue nggak nanya lo kak" Divandra menjawab dengan embel embel kak, sebab jika di rumah ia tak berani menyebut Kein dengan nama saja bisa habis dirinya oleh mamanya "Kamu mau dirayain Di?'" papanya kali ini benar benar peka membuat Divandra segera mengiyakan "Iya Pa, sweet seventeen" "Oke, kamu dan mama kamu yang nyiapin semuanya ya papa nggak ikut campur" Ujar Papanya membuat Kein yang sedang makan protes kenapa bisa dengan semudah itu papanya mengizinkan divandra "Loh Pa, kenapa dibolehin?" "Namanya juga anak perempuan Kein, kamu mau juga dirayain sweet eighteennya?" ucapan papa sangat menyindir Kein, Kein yang mendengar hal itu segera menyembunyikan wajahnya karena malu akan ucapan papanya. Divandra tertawa lepas mendengar Kein dipermalukan oleh papanya "Mampus lo" ujar Divandra tanpa suara "Ma, Pa aku berangkat dulu" ucapan Kein membuat Divandra terkejut bukan main baru saja ia menyendok sarapannya tiba tiba Kein sudah mau berangkat. "Kak, gue belum siap" protes Divandra dengan cepat memasukkan beberapa sendok nasi ke dalam mulutnya. "Gue nggak mau terlambat, kalau nggak lo gue tinggal" Kein segera masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Divandra yang sedang mencari sepatunya "Bi, mana sepatuku?" "Disitu Non di dekat rak" Divandra akhirnya menemukan sepatu milikinya dan segera berlari menuju mobil kakaknya dengan tangan menjinjing sepatu dan mulut yang masih mengunyah, benar benar bukan pemandangan yang baik di pagi hari. Divandra membuka pintu tapi malah terkunci "WOI BUKA WOI" Barulah Kein membuka kunci pintu dan Divandra bisa masuk tepat sebelum Kein menginjak gas. Papa dan mamanya yang heran melihat tingkah kedua anaknya itu hanya menggeleng geleng heran, sudah sangat biasa dengan keadaan seperti itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN