Aneira memeluk Fairel dari belakang seolah tak mengizinkan Fairel untuk pergi. Fairel menatap tangan kecil milik aneira yang melingkar di perutnya. Sempat Faorel terdiam tapi dengan cepat ia memncoba melepaskan pelukan Aneira, semakin kuat Fairel inging melepaskannya semakin erat pelukan Aneira. “Gue nggak mau lo pergi kak” ujar Aneira bisa Fairel dengar suara Aneira terdengar serak Fairel membatu “Aneira menangis” bisik Fairel dalam hatinya Fairel tak lagi mencoba untuk melepaskan pelukan Aneira, ia malah mengenggam tangan Aneira yang ada di perutnya mengelusnya perlahan dengan penuh kasih sayang. Fairel tak pernah tahu sejak kapan perasaannya semenyakitkan ini saat mendengar Aneira menangis karena dirinya. “Maaf Nei” rasa bersalah Fairel sungguh sangat besar sudah berapa kali ia

