Tak Terduga

2568 Kata

"Anak durhaka udah datang." Belum sempat aku bertanya perihal 'incaran' yang dimaksud mbak Wiwid tapi bunda datang menginterupsi. Aku menatap bunda  dengan cemberut dan mengambil alih nampan berisi minuman yang dibawa bunda. Kemudian memeluknya. "Kok Rain anak durhaka sih." protesku. Nama bapakku kan Angkasa, bukan Durhaka. "Abisnya jarang kesini nemuin bunda." Aku senyum geli. Padahal minggu lalu aku juga ke sini. Jadi orang yang ngangenin emang tidak enak. "Kangen bunda. Janji, setelah ini Rain bakal sering ke sini. Walaupun gak tiap hari." Bunda mengangguk dan mengusap kepalaku. "Rain sehat?" Aku mengangguk antusias. Mas Panca ikut mendekat dan menyalami bunda. Bany masih betah menempel padanya, enggan melepasnya. Jangan-jangan dia memiliki lem perekat ditubuhnya sehingga orang engg

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN