2. PENASARAN

495 Kata
Faiza keluar dari area kebun mengendarai Scoopy dengan kecepatan 70 km/jam. untung saja kali ini jalanan tidak begitu ramai. Jadi dia bisa melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi secara aman. Pandangannya fokus kedepan. Konsentrasi penuh. Hp di tasnya berbunyi beberapa kali sejak tadi. Gadis itu yakin, itu adalah panggilan dr abah atau dari uminya. " Duhh sabar dulu bah, ini msih d jalan" Gerutu Faiza dalam hati. Ahirnya ia melaju pelan dan berhenti di bawah pohon. Diambilnnya ponsel dari dalam tas. benar saja dugaannya, ada tiga panggilan dari nomor abah dan lima panggilan dari nomor uminya. "Hallo assalamualaikum umi" ahirnya Faiza menelephon balik uminya. "Waalaikumsalam" Sahut umi maryam "Ini sudah d jalan umi, bentar lagi juga sampai". "Iya ning , umi jadi sungkan sama ustad Haikal. sudah 2 jam lebih lho nunggu kamu". "Iya mi... maafin Iza. Kalau begitu Iza lanjutin perjalanan lagi ya umi. Assalamualaikum..." Faiza segera menutup telephon setelah mendengar jawaban salam dari umi Maryam. Hati Faiza menjadi sedikit tidak tenang. Ia bingung dan juga penasaran. Untuk apa sebenarnya ustad Haikal bertamu dan menunggunya. Ia yakin, pasti kedatangannya memang sengaja untuk menemuinya. Kalau tidak kenapa sampai rela menunggu kepulangannya berjam-jam?. Memikirkan hal ini membuat Faiza menjadi tidak enak hati. Selama ini, tidak ada laki-laki yang bertamu kerumah ataupun kepondok untuk mencarinya. Apa lagi seorang ustad Haikal. Hmmm... Siapa yang tidak kenal ustad Haikal? Ia adalah sosok ustad milenial yang punya banyak fans dan jamaah fanatik. Faiza sendiri juga merasa tidak mengenal ustad Haikal. Ia tau sosok ustad yang memiliki jutaan folowers d media sosia itu juga dari media. Jadi sangat aneh saja kalau tiba-tiba orang yang katanya punya jadwal padat dan sibuk itu tiba-tiba menyempatkan diri untuk bertemu dengannya. Lima belas menit kemudian, ahirnya Faiza tiba di gerbang pondok pesantren. Rumah kiai Haidar masih lumayan jauh dari pintu gerbang. Memasuki kawasan pesantren Faiza segera melajukan sepeda motornya pelan - pelan. Di sepanjang jalan santriwan maupun santriwati yang kebetulan berpapasan dengannya segera diam berdiri ditempat dan menganguk tersenyum hormat. Faiza balas tersenyum dan menganggukkan kepala membalas sapaan mereka dengan sopan. Ahirnya Faiza masuk gerbang halaman rumahnya, dan memarkir sepeda scoopy kesayangannya di garasi. Di halaman tampak terparkir sebuah mobil Fortuner GR Sport keluaran terbaru berwarna putih. "Apa ini mobil ustad Haikal?" tanya Faiza dalam hati. Gadis itu masuk masuk rumah dengan serangkaian doa, semoga ustad Haikal sudah pergi. Jadi dia tidak perlu bertemu dengannya. Sampai diruang tamu, Faiza melihat tiga orang sedang duduk berbincang - bincang. Dan sudah dapat dipastikan ketiga orang tersebut adalah kiai Haidar ayahnya, umi Maryam serta ustad Haikal. "Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatu" Faiza mendekat dan mengucapkan salam. mencium tangan abah dan uminya, lalu menunduk memberikan salam hormat kepada ustad Haikal dan duduk disamping umi Maryam. "Maafkan Iza bah tadi di perkebunan ada tamu dari luar kota". Faiza menunduk membuka percakapan. "Kamu minta maafnya bukan pada abah dan umi ning, tapi pada ustad Haikal. Hampir 3 jam nunggu kamu". Jawab kiai Haidar. "iya saya minta maaf ustad". Faiza memberanikan diri menatap ustad Haikal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN