20. UNGKAPAN PERASAAN

535 Kata
" Kembalilah seperti dulu ning. Aku rindu saat - saat itu. Aku akan selalu menjadi orang yang bisa engkau andalkan. Orang yang engkau cari - cari tanpa mengenal waktu dan tempat". Suara ustad Zaki bergetar. Faiza segera menarik tangannya dari gengaman ustad Zaki. " Apa yang ustad lakukan?". Tanya Faiza parau. "Berhentilah memangilku ustad... ustad...ustad... aku bosan mendengarnya". Ustad Zaki meraup mukanya dengan kedua tangan. Berusaha menenangkan diri. "Please ning... aku tidak suka engkau memangilku ustad. Panggil aku kakak seperti dulu. dan tolong jangan menghindariku, jangan menjauhiku, jangan bersikap seolah - olah engkau tidak mengenalku. Seolah - olah kita tidak pernah dekat. Itu menyakitkan ning, sungguh sangat menyakitkan". " Seiring berjalannya waktu... bukankah semua bisa berubah?". Faiza menggigit bibirnya. Seolah - olah tiba - tiba dirinya dilemparkan pada kejadian - kejadian masa silam. "Tetapi perasaanku padamu tidak pernah berubah. Apakah ning Iza tetap tidak mengerti itu?". " Kenapa aku yang selalu harus mengerti?". Tanya Faiza emosional. " Ning memang dulu selalu merepotkan kak Zaki,ning tidak tahu diri dan tidak tahu aturan. Kak Zaki bukan siapa - siapa ning, jadi ning tidak berhak untuk menuntut lebih". " Kakak minta maaf ning". Zaki kembali meraih tangan Faiza. Menggenggamnya erat seolah takut gadis dihadapannya itu akan kembali menarik tangannya. "Ning yang harus minta maaf ke kak Zaki". Tangis Faiza tak lama kemudia pecah. "Ning sudah menghancurkan cita - cita dan masa depan kak Zaki. Seharusnya saat seleksi mahasiswa ke Al azhar ning tidak mendaki gunung sehingga ning tidak akan jatuh ke jurang dan kak Zaki tetap berangkat ke Kairo". "Kakak tidak pernah menyesali itu semua. Kakak sudah tidak memiliki keinginan untuk belajar di Al Azhar sejak saat itu sampai detik ini ning". Ustad Zaki masih menggengam erat kedua tangan Faiza. Air mata gadis itu mengalir begitu deras. " Dua kali ning Iza menghancurkan cita - cita kak Zaki. Seharusnya setelah gagal ikut tes seleksi yang pertama. Kak Zaki bisa langsung berangkat ke Al Azhar dari beasiswa pondok. Tetapi lagi - lagi kak Zaki batal berangkat karena ning kecelakaan". "Kakak batal berangkat bukan karena ning Iza. Itu semua adalah kehendak Allah". Ustad Zaki perlahan - lahan melepaskan tangan Faiza. Tangannya bergerak hendak menghapus air mata Faiza. Tetapi gadis itu segera menghapus air mata dengan tangannya sendiri. Dengan sigap ustad Zaki mengambil tisu yang ada dimeja dan memberikannnya kepada Faiza. " Jangan menangis. Engkau tahu, aku tidak bisa melihat air matamu menetes". " Apa yang dikatakan ustadzah Laila memang benar. Aku adalah sumber masalah bagi ustad Zaki". Kata Faiza masih dengan terisak. "Semua kejadian yang ada didunia ini baik itu kejadian baik, ataupun kejadian tidak baik, semua adalah ketentuan dari Allah. Karena yang tidak baik menurut kita, mungkin itu adalah yang terbaik dari Allah untuk kita. Allah maha tahu, sedangkan kita tidak mengetahui". Kembali ustad Zaki mengambil beberapa lembar tisu dan memberikannya kepada Faiza. " ning minta maaf ustad". " Ketika seseorang merasa bersalah dan minta maaf, bolehkah orang yang dimintai maaf meminta syarat?". Tanya ustad Zaki. "Tentu saja, asalkan masih dalam batas kewajaran". Faiza mengangguk. "Sekarang aku mengajukan syarat atas semua rasa bersalah dan permintaan maaf kamu kepadaku. Dengan memenuhi semua syarat dan permintaanku ini,maka sesungguhnya aku akan memaafkan semua kesalahanmu". "Apa syarat - syarat itu?" Tanya Faiza penasaran
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN