Ana menggeram saat Lucy masih saja memaksanya. Dia mengaduk makanannya dengan tidak nafsu. "Terus kuliahku gimana?" Ana bertanya dengan jengkel. Dia masih berusaha bernegosiasi tentang acara pernikahan Lucy di Paris. "Bolos aja!" "Nanti kalau absenku ada masalah gimana? Aku nggak mau ngulang ya. Males kuliah lama-lama, mau kawin aja." "Emang udah ada calonnya? Mau aku bantu cari?" "Nggak mau!" jawab Ana kesal. Kenapa Lucy mengikuti alur sarkasnya? Ana tidak punya selera untuk bercanda kali ini. Sambungan telepon terputus begitu saja. Ana yang melakukannya. Dia sangat kesal pada Lucy. Kenapa wanita itu selalu memaksakan kehendak? Ana bukan perempuan bebas yang bisa ke sana-ke mari sesuka hati. Dia adalah seorang pelajar yang punya tanggung jawab. Tidak mungkin dia meninggalkan kelas be

