Ana berlari dengan kencang mengelilingi taman komplek perumahannya. Keringat sudah membuat tubuhnya basah. Rasa lelah juga sudah menghampiri kedua kakinya, namun seolah tidak peduli, Ana tetap berlari sampai dia sudah tidak kuat lagi. Dia berhenti dan membungkukkan tubuhnya untuk mengatur napasnya yang tak beraturan. Air mata lagi-lagi keluar tanpa permisi. Ana berusaha untuk tidak memikirkan kejadian itu, namun sia-sia karena rasa menyesal itu perlahan menghampirinya. Tangan kecil itu perlahan menghapus air matanya sebelum orang-orang menyadari dirinya yang menangis. Ana menegakkan tubuhnya dan memandang ke sekitar taman yang sudah mulai ramai karena matahari sudah benar-benar muncul. Ana mengambil ancang-ancang untuk kembali berlari namun sebuah teriakan menghentikannya. "Sampai kapan

