Ana keluar dari kelas sambil mengecek ponselnya. Berharap jika ada pesan masuk dari Davin, tapi dia tidak menemukan apapun di sana. Ana mendengus dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Dia harus ekstra sabar saat berpacaran dengan Davin. Entah kenapa pria itu selalu menguji kesabarannya. Seharusnya Davin membujuknya sekarang agar tidak marah lagi, tapi apa? Ana bahkan tidak melihat ada upaya yang benar dilakukan Davin selain tadi malam. Sebenarya Ana hampir saja luluh, tapi saat mendengar ucapan Davin yang tajam membuat emosinya kembali muncul. Dia tidak menyangka jika tingkat kesabarannya begitu tinggi dan masih bertahan untuk menjalin hubungan dengan pria bermulut pedasitu. "Dari pada di sini, makan aja yuk," ajak Alex ketika mulai bosan duduk di lobi kampus. "Bang Alex nggak

