Sudah satu bulan sejak Hesa mengkonsumsi pil kontrasepsi, Hesa merasa dirinya tak meninggalkan barang sehari pun untuk meminumnya. Namun lewatnya masa datang bulan membuatnya cukup gentar. Ponsel di genggamannya bergetar seirama dengan detak jantungnya yang sudah memukul-mukul di dalam. Hesa menghitung pelan angka kalender seolah tak percaya. "Ya, assalamu'alaikum, Hesa?" "Waalaikumussalam. Kak Sef, aku telat dua minggu. Aku takut mau ngecek. Gimana ini kak?" "Coba kamu tespekin. Nanti telfon aku lagi." Hesa membelalak. "Maksud Kak Sefia, aku ada kemungkinan hamil?!" "Segala kemungkinan bisa terjadi Hesa." "Aku nggak pernah telat minumnya Kak. Aku rutin. Berarti pilnya nggak akurat dong?" Terdengar desahan dari seberang sana. "Cuma dua koma dua persen kemungkinannya Hes. Selama ini

