"Pikirkan dulu, nggak usah buru-buru nolak. Bukannya kamu ingin segera bebas?" Kalimat terakhir suaminya yang masih mengiang-ngiang di kepala Hesa meski satu minggu sudah terlewati. Sungguh ia merutuki persyaratan konyol itu. Dasar penjebak ulung! Kepala Hesa rasanya mau pecah memikirkan banyak kemungkinan akan terjadi lagi. "Ada yang ganggu pikiranmu?" Usapan di pipinya menyentak lamunan. "Sedikit." "Tentang? Ayolah cerita. Bagi bebanmu padaku Sayang!" Hesa menggeleng. "Apa ini ada hubungannya sama dia?" Hesa mengangguk. Jika Edzard sudah menyebut dia, subjeknya tak lain dan tak bukan adalah suaminya. "Katanya dia sudah setuju pisah, lalu apa yang masih bikin kamu galau?" Dia memintaku tinggal bersamanya selama menunggu proses perceraian. Tak mungkin Hesa mengutarakan ini pada E

