Rumah Arjuna

866 Kata
Diperjalanan Adhista hanya diam sambil memeluk Arjuna dengan erat. dipikirannya hanya ingin pulang lalu menangis sekencang mungkin di balik pintu kamarnya. Adhista tak menyadari bahwa ini bukan arah jalan kerumahnya. Karena Adhista hanya bengong saja dari tadi diperjalanan. "Dhis, udah sampe," ucap Arjuna sambil menepuk-nepuk paha Adhista dari depan. Adhista hanya diam, lalu melihat-lihat kesekitar. "Ini dimana?" tanya Adhista menatap Arjuna tanpa ekspresi. "Rumah aku, kenapa?" tanya Arjuna lalu turun dari motor dan disusul oleh Adhista. Adhista rasanya kesal, ingin marah kepada Arjuna. "KENAPA AKU NGGA DIPULANGIN KERUMAH SI?! UDAH TAU AKU CAPEK KESEL PENGEN TIDURAN!" teriak Adhista keras dan perlahan-lahan mengeluarkan air matanya di depan Arjuna. Arjuna langsung mendekap erat tubuh Adhista,supaya Adhista menangis di d**a bidangnya sampai kekasihnya itu merasa lebih baik. Setelah, sekitar kurang lebih lima menit Adhista menangis di d**a Arjuna, Akhirnya Adhista bangkit dan mengelap air matanya. "Ayo masuk, aku tau kamu ngga baik-baik aja," ajak Arjuna lalu merangkul Adhista untuk masuk kedalam rumahnya. Mereka berjalan menuju ke kamar Arjuna, agar Adhista bisa tiduran karena katanya ia sangat lelah tadi. Didalam kamar Arjuna, Adhista langsung duduk di kasur empuk milik Arjuna dengan nuansa kamar serba merah dan hitam. "Pintunya ga usah ditutup ya," ucap Arjuna dan Adhista hanya mengangguk Arjuna berjalan menuju Adhista, lalu duduk disamping gadis itu dengan menghadap kearahnya. "Coba cerita sama aku, kamu kenapa?" pinta Arjuna sambil menatap Adhista dan menggenggam tangan gadisnya itu. Adhista hanya diam, lalu menangis lagi. padahal dia sangat anti menangis didepan orang lain. Arjuna dengan peka langsung memeluk Adhista lagi, sambil mengelus-elus rambut lurus Adhista. "Sttts, udah jangan nangis. coba cerita sama aku sini," ucap Arjuna tenang yang masih memeluk sambil mengelus rambut Adhista. Adhista belum bisa menjawab karena dia sangat takut untuk menangis lagi, atau bertambah keras. "Dhis, coba cerita dong. kalo kaya gini aku juga ngga tau kamu kenapa," pinta Arjuna lagi dengan suaranya yang sangat sangat tenang dan sesekali mengecup ujung rambut Adhista. "Coba tentang siapa. Tentang Temen, Sekolah, Chandra, Mamah atau Ayah?" tanya Arjuna berbuntut dan Adhista hanya menjawab dengan gelengan kepala saja. "Terus kamu nangis gara-gara siapa? Aku?" tanya Arjuna dan tak ada jawaban dari Adhista. "Kamu diem aja, berarti bener kan kamu nangis gara-gara aku?" tanya Arjuna sekali lagi memastikan dan masih dengan posisi memeluk Adhista sambil mengelus rambutnya. Adhista hanya diam saja. Arjuna juga ikut diam, tak mau menanyakan lagi. dia hanya ingin Adhista baik dulu, lalu dia akan menanyakannya. Lima belas menit kemudian... Adhista dengan perlahan bangkit dan mengelap wajahnya yang basah menggunakan dasinya. Arjuna yang melihat itu langsung saja mengambilkan tissue yang berada tepat dibelakangnya. "Nih coba pake tissue, biar dasinya ngga kotor," perintah Arjuna dan memberikan tissue yang ia ambil tadi kepada Adhista Adhista mengelap wajahnya dengan tissue dan mengeluarkan ingusnya didepan Arjuna, tak tau malu. "Ayo cerita." ajak Arjuna menatap dalam ke mata Adhista. Adhista diam beberapa saat, lalu menarik nafas dalam-dalam. "Jujur, ada yang kamu rahasiain ya dari aku?" tanya Adhista lalu air matanya mengalir lagi secara terus-menerus. Arjuna yang sedikit kaget, namun dirinya berhasil menyembunyikan itu sebelum Adhista menyadarinya. "Apa? aku ga ada ngerahasiain apa-apa Dhis," jawab Arjuna santai dan tak terlihat gugup. "Serius?" tanya Adhista sambil menatap dalam ke mata Arjuna mencari sebuah kebohongan, yang tapi nihil tak ia ditemukan. "Iya serius, semuanya kan udah aku ceritain Dhis," jawab Arjuna lagi meyakinkan Adhista. "Tapi, tadi waktu kamu ke kamar mandi buat cuci tangan. Mama kamu telfon ke hp kamu, dia bilang jangan lupa diminum obatnya Mama ngga mau penyakit kamu tambah parah, terus kamu juga tadi ngga masuk karena habis check up. jujur, sebenarnya kamu sakit apa Kak?" tanya Adhista mengatakan yang sebenarnya. "Ini aku jawab, aku cuma sakit batuk pilek biasa doang, terus buat masalah check up karena emang keluarga aku setiap sebulan sekali tuh harus check up gitu Dhis," jelas Arjuna berbohong, sangat berbohong. Adhista hanya diam, sambil menatap mata Arjuna dan mencari-cari kebohongan didalam matanya, yang lagi-lagi Adhista sangat bodoh karena tak tahu dirinya sedang dibohongi, oleh kekasihnya sendiri. "Tapi, aku masih kurang yakin sama jawaban nya. but, its oke kalo kakak ngga mau kasih tau sakit apa. kalo menurut kakak itu emang privasi yang benar-benar privasi, aku ga bisa maksa kakak buat ngasih tau jawabannya, toh kita cuma pacaran hehe. dan kalau kakak udah siap ngasih tau penyakit nya, aku siap jadi dokter khusus buat Arjuna Sanatana haha," jelas Adhista berusaha agar tidak menangis mengatakan itu. Arjuna yang mendengarkan penuturan Adhista hanya terpaku diam, dia tak menyangka gadis manja yang terlihat seperti anak kecil itu bisa menjadi dewasa, benar-benar dewasa melebihi dirinya. Lantas Arjuna langsung memeluk Adhista, Arjuna menangis, ya, pertama kalinya dia menangis melihat seseorang yang sangat tulus mencintai nya. Arjuna menangis di tengkuk leher Adhista, dan sekarang Adhista lah yang menjadi penyemangat untuk Arjuna. Adhista membalas pelukan Arjuna sambil mengelus punggung besarnya itu. "Kak, kalo ada apa-apa cerita aja ya ke Adhis, Adhis siap jadi pendengar, pembicara, Dokter, Teman, ataupun bu buat Kak Juna," seru Adhista memberikan semangat untuk Arjuna, dan Arjuna hanya membalas dengan anggukan kepala sambil berusaha menghentikan tangisnya.                                                                                                 *** "Bukannya ngga mau kasih tau Dhis, tapi aku ngga mau kamu sedih gara-gara tau penyakit aku yang sebenarnya. Aku mau kasih kebahagiaan buat kamu, Bukan kesedihan dan tangisan" Arjuna Sanatana
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN