Hari ini adalah malam Minggu, dimana Jomblo tidak boleh keluar rumah, katanya.
Tetapi berbeda dengan Adhista dan Arjuna, mereka sudah berada di dinginnya angin malam yang menerpa kulit mereka berdua. Ya, mereka sedang menikmati malam minggunya di salah satu kota Hujan, Jawa Barat. Bogor.
Senin, dan Selasa sekolah mereka libur, karena kelas 11 sedang mengadakan studi tour ke Bandung, dan Adhista juga sudah melakukan LDKS nya.
Adhista dan Arjuna menginap di salah satu Villa di puncak Bogor. Mereka tak hanya berdua, ada beberapa teman Adhista dan juga teman Arjuna yang ikut bersama mereka. Tidak kurang ada Oca, Hanin, Bunga dari team Adhista. dan dari team Arjuna ada Rizky, Naufal, Reihan, Bima, Aldy, Agung, dan tidak ketinggalan Chandra.
Mereka semua sudah merencanakan matang-matang apa saja yang akan dilakukan saat liburan disana.
"Dhis, beresin dulu baju kamu. abis ini kita kumpul-kumpul," ucap Arjuna lalu berjalan ke arah kamarnya.
Adhista yang mendengar itu langsung saja pergi ke kamarnya untuk membereskan semua peralatannya dan juga teman-teman yang sudah menunggu disana.
"Dari mana aja Dhis?" tanya Bunga yang sedang merapikan seprai yang berantakan akibat ulah dari Hanin dan Oca.
"Tadi itu abis nemenin kak Juna makan," jawab Adhista lalu merapikan tas dan barang bawaan lainnya.
Setengah jam kemudian...
Mereka semua sudah berkumpul di pinggir kolam renang, karena cuacanya yang sangat mendukung untuk bermain air sambil membicarakan peraturan-peraturan yang sudah Adhista susun.
Sebagai sang pembuat ide untuk liburan di puncak, Arjuna dengan lantangnya membuka pembicaraan tersebut seperti sedang rapat formal.
"Assalamualaikum, disini gue sebagai pembuat ide buat liburan yang ga berguna ini hahaha, jadi gue mau ngasih sedikit peraturan biar kita bisa dengan nyaman dan aman tinggal di villa ini," jelas Arjuna dan Adhista memberikan selembar kertas yang berisikan peraturan.
Sebelum diberitahu kepada teman-temannya, Arjuna membaca dulu didalam hati sampai dia menemukan kejanggalan di peraturan tersebut.
"Dhis? ini serius ngga boleh ngerokok?" tanya Arjuna secara berbisik dan Adhista mengangguk dengan sangat yakin.
"Eum, oke kalo itu mau kamu," jawab Arjuna lalu membacakan satu persatu peraturannya dengan tidak yakin.
"Ini peraturan dibuat sama Adhista, jadi kalo mau komplain bisa ke Adhista langsung atau ke Abangnya ae ya. Satu, ngga boleh ngomong kasar. Dua, ngga boleh teriak atau bersuara keras. Tiga, boleh api unggun atau gitaran tapi maksimal sampai jam sebelas malam. Empat.." ucapan Arjuna berhenti sejenak karena dirinya tak yakin teman-temannya akan setuju.
"Empat, ngga boleh merokok. Lima.." ucap Arjuna berhenti karena Naufal komplain.
"Woi serius?!, apa apaan ini ngga boleh ngerokok sialan." seru Naufal tak terima karena udud adalah kebiasaan Arjuna dan kawan-kawan.
"Lo kalo ga suka boleh pulang, ga ada yang ngajak lo disini," jawab Adhista lalu menyuruh Arjuna membacakan peraturan selanjutnya.
"Lima, pikiran jangan sampai kosong. Enam, buat cewek, kalau lagi halangan di wajibkan cuci sampai bersih dan bawa gunting + bawang putih. Tujuh, jangan lupa melakukan sholat lima waktu. Delapan, dilarang mabuk-mabukan, kalo sampai ketauan bakal ada hukumanya. Sembilan, selalu baca doa kalau mau ngapa-ngapain, makan, mandi, minum dan lain-lain. Sepuluh, seluruh kamar harus rapih dan jangan sampe teledor atau lupaan." jelas Arjuna dan teman-teman Arjuna hanya pasrah mengikuti peraturan ngaco yang dibuat oleh Adhista.
"Udah dibacain, dan kalian boleh berenang atau main air atau yang lainnya." seru Arjuna lalu semuanya langsung menuju ke kolam renang kecuali Adhista dan Arjuna.
"Kenapa? ngga suka disini ngga boleh ngerokok?" tanya Adhista.
"Ya sebenernya si ngga suka, tapi nanti kamu marah. mending ngga ngudud dari pada kamu marah mah," ucap Arjuna yang selalu saja bisa membuat hati Adhista melemah.
Adhista suka seperti ini, Arjuna yang penurut jadi dia tak terlalu khawatir. Andai saja sekarang hanya berdua, mungkin Adhista sudah bermanja-manja kepada Arjuna. entah itu bersender dibahunya, tiduran di paha Arjuna, atau sebaliknya.
"Mau disini atau jalan-jalan?" tanya Arjuna.
"Eum, mau jalan-jalan si. tapi celana aku pendek, temenin ganti dulu ya?" pinta Adhista dan hanya dijawab anggukan oleh Arjuna.
Setelah selesai, mereka berdua pergi berjalan kaki ketempat yang indah, kata Arjuna.
"Emang kakak tau tempatnya?" tanya Adhista yang berjalan beriringan dengan Arjuna sambil menggenggam erat tangan lelaki itu.
"Jelas tau dong, dulu waktu kecil Papa sering ngajak aku kesini. setiap weekend keluarga aku selalu jalan-jalan. Entah ke puncak, pantai, atau kerumah Nenek yang ada di Bandung. tapi semenjak Papa pergi bersama perempuan itu, aku, Mama, dan Daniel ngga pernah lagi pergi pergi kaya dulu." gumam Arjuna yang tak sadar sudah membuka rahasia nya.
Adhista yang juga merasakannya ikut sedih, walaupun keluarganya masih hangat dan romantis, tapi dia tau ditinggal oleh orang yang disayang sangat menyakitkan. Adhista secara spontan langsung saja memeluk Arjuna dari samping dan mengelus punggung lebar kekasihnya itu.
Dengan waktu yang begitu cepat, Adhista dan Arjuna sudah sampai di bukit bintang, julukan tempat itu. Padahal tadi Adhista dan Arjuna sempat berhenti lumayan lama, tapi akhirnya mereka sampai juga ditempat yang memang indah ini.
"Duduk situ aja yuk Dhis," ajak Arjuna lalu mereka berdua duduk dibatu besar yang mengarah langsung ke perkotaan dengan lampu-lampu yang menyala.
"Kakak kalau mau lanjut cerita lagi gapapa," ujar Adhista sambil bersender di bahu Arjuna.
"Okay, dulu Papa dan Mama baik-baik aja waktu aku kelas enam SD. Tapi waktu kelas delapan Papa berubah, dia mulai pulang malem, kadang bisa ngga pulang, dan lebih parahnya lagi, Papa sering pulang dengan mulut yang bau alkohol dan suka marahin Mama." lirih Arjuna berhenti sejenak mengambil nafas.
"Dulu aku belom ngerti apa-apa Dhis, aku cuma cowok cemen yang nangis setiap kali denger Mama dibentak sama Papa. kejadian itu ngga sekali doang, tapi berkali-kali. setiap malam, aku selalu denger Mama nangis di kamar Daniel, dulu dia masih bayi, cuma bisa nangis. sampai akhirnya kelas sembilan awal, Papa lebih milih perempuan b******n itu, namanya Stevie dia dulu adik tingkat Papa dikampus, tapi ngga tau gimana tiba-tiba Papa sama cewek itu bisa berhubungan lagi. Dhis, padahal menurut aku, Mama udah paling cantik, udah paling baik, dan paling sabar ngadepin sifat Papa yang luar biasa kurang ajarnya itu. Tapi, ya mau gimana lagi, mungkin emang belom jodohnya. Akhirnya mereka berdua resmi cerai waktu aku kelas sembilan." jelas Arjuna menangis mengingat kejadian-kejadian yang sangat dia benci itu, tapi dia tak menyesal hatinya kini sudah nyaman karena sudah mengeluarkan isi hatinya yang telah lama ia pendam.
Adhista yang mendengar itupun juga ikut sedih, dia jadi teringat sahabatnya yang hampir mengalami kejadian yang seperti itu.
Adhista memeluk Arjuna, berusaha untuk menyemangati dan menenangkan Arjuna. Adhista tau itu tak mudah, tapi Adhista bangga Arjuna bisa bertahan sampai sejauh ini.
"Kak aku janji, aku bakal jadi pendengar yang baik buat kamu, kalau ada apa-apa cerita aja ya sama aku," ucap Adhista dan Arjuna hanya mengangguk.
"Makasih Dhis, aku bahagia punya kamu," lirih Arjuna.
"Me too,"