07 - Rasa bersalah Fiona.

1613 Kata
Sepanjang lift bergerak turun, Fiona terus menggerutu, merutuki sikap menyebalkan Ethan pagi ini. Perasaan Fiona sudah memburuk setelah melihat Ethan bersama dengan Madeline, lalu sikap Ethan pagi ini yang melarangnya untuk pergi bersama dengan Max semakin memperburuk perasaan Fiona. Di dalam lift, Fiona tidak sendiri, tapi di temani oleh kedua pengawalnya, Evelyn dan Cindy. Kedua wanita tersebut saat ini berdiri tepat di belakang Fiona. Cindy berdiri di samping kanan Fiona, sementara Evelyn berdiri di samping kiri Fiona. Semua gerutuan atau bahkan umpatan Fiona di dengar jelas oleh Evelyn juga Cindy, tapi Fiona sama sekali tidak peduli. Itu karena Fiona tahu jika kedua pengawalnya tersebut tidak akan memberitahu Ethan jika dirinya terus menerus merutuki sikap menyebalkan Ethan. "Dasar pria menyebalkan!" Untuk kesekian kalinya Fiona menggerutu. Fiona ingin sekali berteriak guna melampiaskan emosi yang saat ini ia rasakan, tapi Fiona tidak bisa melakukan hal tersebut. Seandainya saja Evelyn dan Cindy tidak ada, pasti sejak tadi Fiona sudah berteriak atau bahkan menendang dinding lift menggunakan kedua kakinya. Jika sebelumnya Fiona hanya kesal pada Ethan, maka sekarang Fiona benar-benar marah pada Ethan. Fiona tidak menyangka jika Ethan akan melarangnya pergi bersama dengan temannya sendiri. "Memang apa salahnya pergi bersama dengan teman sendiri?" keluh Fiona untuk yang kesekian kalinya. Fiona ingin tahu, apa alasan Ethan melarangnya pergi bersama Max, temannya? Mungkin nanti Fiona akan bertanya langsung pada Ethan. Ting! Lift akhirnya terbuka, sudah sampai di basement. Cindy dan Evelyn terlebih dahulu keluar dari lift, setelah itu barulah Fiona yang keluar dari dalam lift. Tak jauh dari lift, mobil yang akan mengantar Fiona pergi ke kampus sudah siap. "Mana Max?" Fiona bertanya pada kedua pengawal yang berdiri tepat di samping kanan dan kiri lift. "Max baru saja pergi Nona Fiona." Pengawal yang bernama Andre lah yang menjawab pertanyaan Fiona. Tadi, begitu Ethan melarang Fiona untuk pergi bersama dengan Max, Marco segera menghubungi kedua pengawal yang berjaga di basement, meminta mereka untuk memberitahu Max jika Fiona tidak bisa pergi bersama dengan Max. Begitu mendapatkan perintah dari Marco, Andre langsung meminta supaya Max pergi. Seketika Fiona merasa bersalah pada Max, padahal dirinya yang meminta supaya Max datang menjemputnya pagi ini, tapi dirinya malah tidak bisa pergi bersama dengan Max. "Gue harus minta maaf sama Max," gumam Fiona yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri. "Silakan masuk, Nona Fiona." Cindy membuka pintu mobil, mempersilakan Fiona memasuki mobil. "Terima kasih Cindy," ucap Fiona sesaat sebelum memasuki mobil. "Sama-sama, Nona." Cindy menutup pintu mobil, lalu duduk di samping Evelyn yang sudah duduk di balik kursi kemudi. Sepanjang jalan menuju tempat di mana dirinya akan menimba ilmu, Fiona terus melamun, memikirkan semua pembicaraanya pagi ini dengan Livy, Ethan, juga Madeline. "Fiona, mana mungkin aku menjalin hubungan asmara dengan adik aku sendiri." Kalimat tersebut terus berputar-putar dalam benak Fiona. Sampai saat ini Fiona masih tidak menyangka jika sebenarnya Livy dan Ethan adalah saudara kandung. "Ini semua benar-benar sulit di percaya," gumam Fiona sambil menggeleng. Fakta jika Livy dan Ethan adalah saudara kandung benar-benar mengejutkan Fiona. "Tapi bukankah itu artinya bagus?" gumam Fiona yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Setelah semalam Ethan menciumnya, Fiona merasa bersalah pada Livy. Itu karena saat itu Fiona berpikir jika Ethan dan Livy adalah sepasang kekasih. Sekarang setelah tahu jika Livy dan Ethan sebenarnya adalah saudara, rasa bersalah Fiona pada Livy hilang, tapi sekarang, Fiona merasa bersalah pada Madeline, wanita yang mengaku sebagai kekasih Ethan. "Bodoh, dasar bodoh!" Fiona merutuki dirinya sendiri. Sampai sekarang Fiona masih menyesal karena diam saja ketika semalam Ethan menciumnya. Fiona menarik dalam nafasnya, kemudian menghembuskannya secara perlahan. "Baiklah Fiona, sebaiknya mulai sekarang lo lupain masalah itu, dan fokus belajar." Fiona kembali menyandarkan punggungnya di kursi, tapi seketika dirinya penasaran tentang Livy. "Jadi, sebenarnya siapa kekasih Livy?" Kening Fiona mengkerut sebagai pertanda jika saat ini Fiona sedang berpikir dengan keras, mencoba menebak siapa kekasih Livy yang sebenarnya. Kedua mata indah Fiona membola sesaat setelah menganalisa beberapa kejadian yang pernah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. "Jangan-jangan, Bastian adalah kekasih Livy?" Fiona mengangguk-anggukan kepalanya, yakin jika tebakannya kali ini memang benar. Bastian adalah kekasih Livy yang sebenarnya. "Dari pada penasaran, nanti lebih baik gue tanya langsung sama Livy." Fiona kembali menyandarkan punggungnya, kali ini dengan mata terpejam. "Nona Fiona, kita sudah sampai." Ucapan dari Cindy menyadarkan Fiona dari lamunannya. Fiona membuka matanya, lalu menolehkan kepalanya ke samping, menghela nafas panjang ketika melihat jika dirinya sudah sampai di tempat di mana dirinya akan belajar. Cindy keluar terlebih dahulu dari mobil, lalu membuka pintu mobil untuk Fiona. "Terima kasih Cindy," ucap Fiona sesaat setelah berada di luar mobil. "Sama-sama, Nona Fiona." Fiona lalu pamit undur diri, meninggalkan Cindy dan Evelyn yang akan mengawasi Fiona dari kejauhan. Fiona menghentikan sejenak langkahnya, lalu menatap gedung mewah di hadapannya sambil tersenyum lebar. "Semangat Fiona, semangat!" Sebelum memasuki tempat di mana dirinya akan menimba ilmu, Fiona terlebih dahulu menyemangati dirinya sendiri. *** Eden sedang fokus bekerja begitu mendengar suara pintu ruangnya terbuka. Eden mendongak untuk melihat siapa orang yang sudah berani memasuki ruang kerjanya tanpa terlebih dahulu mengetuk pintu atau meminta izin darinya. "Ethan." Eden tak bisa menutupi keterkejutannya begitu melihat kedatangan Ethan. "Hai, Eden," sapa Ethan sesaat setelah menutup pintu ruang kerja Eden. Eden belum mempersilakan Ethan untuk duduk, tapi Ethan sudah duduk di sofa yang berada tepat di depan meja kerja Eden. "Seharusnya dari dulu gue sadar kalau cuma lo yang berani masuk ke ruangan gue tanpa terlebih dahulu mengetuk pintu," keluh Eden dengan raut wajah masam. Ethan sontak tertawa begitu mendengar keluhan Eden. Eden menghampiri Ethan, dan memilih untuk duduk tepat di hadapan Ethan. "Kenapa lo enggak bilang dulu sama gue kalau lo mau datang ke sini?" Biasanya, Ethan memang terlebih dahulu menghubungi Eden jika akan datang berkunjung, tapi tadi Ethan tidak memberitahu Eden. Ethan sengaja melakukannya, karena Ethan ingin mengejutkan Eden. "Memangnya kenapa? Enggak boleh?" Ethan balas bertanya tanpa terlebih dahulu menjawab pertanyaan Eden. "Gue cuma nanya, Ethan," ucap Eden sambil memutar jengah bola matanya. "Jadi bagaimana? Apa lo udah menyelidiki semua tentang teman-teman Fiona?" "Sudah, ini hasilnya." Eden lalu menyerahkan tablet miliknya pada Ethan, mempersilakan Ethan membaca semua laporan yang sejak tadi pagi sudah ia kumpulkan. Secara seksama, Ethan membaca semua laporan yang tersusun rapi di tablet milik Eden. "Jadi Max adalah anak dari salah Dokter terkemuka di negara kita?" gumam Ethan sesaat setelah membaca semua informasi tentang Max. "Iya, Ethan. Fiona tidak memiliki banyak teman. Fiona hanya berteman dengan Max dan juga Shila." Ethan mendongak, menatap Eden dengan raut wajah bingung. "Jadi, Fiona hanya berteman dengan Max dan Shila?" tanyanya memastikan. "Iya. Fiona hanya berteman dengan kedua orang tersebut. Tapi sepertinya bukan karena Fiona tidak bisa berteman dengan banyak orang, ta–" "Tapi karena Fiona membatassi pertemannya, benar bukan?" Ethan memotong ucapan Eden yang belum selesai. Eden mengangguk. "Iya, sepertinya Fiona membatasi pertemanannya." "Fiona memang harus melakukan itu, Eden. Semakin banyak orang yang dekat dengannya, maka semakin besar pula kemungkinan identitas Fiona yang sebenarnya terungkap." Setelah membaca semua informasi tentang Max, Ethan lalu membaca informasi tentang Shila. "Alasan itu memang masuk akal," ucap Eden sebagai tanggapan atas penjelasan yang baru saja Ethan berikan. "Wow," ucap takjub Ethan "Kenapa?" "Ternyata Shila adalah salah satu anak dari pejabat penting di negara kita." Ethan benar-benar tidak menyangka jika Fiona akan berteman dengan Max juga Shila. Sebelumnya Ethan berpikir jika Max akan memanfaatkan Fiona, tapi setelah tahu siapa Max sebenarnya, Ethan seketika berpikir jika sebenarnya Fionalah yang memanfaatkan Max juga Shila. Sekarang Ethan jadi penasaran, siapa yang terlebih dahulu mendekati? Apa Fiona yang terlebih dahulu mendekati Max dan Shila? Atau justru Max dan Shilalah yang terlebih dahulu mendekati Fiona? "Teman Fiona memang hanya 2, tapi kedua temannya adalah orang-orang yang memiliki pengaruh besar." "Ternyata Fiona pandai dalam memilih teman." Entah Ethan sadar atau tidak jika dirinya baru saja memuji Fiona. Eden hanya mengangguk sebagai tanggapan jika dirinya setuju dengan apa yang baru saja Ethan katakan. "Ethan." "Iya." "Apa semuanya akan baik-baik saja?" Eden menatap intens Ethan. Pertanyaan Eden berhasil merubah mimik wajah Ethan. Awalnya Ethan memasang raut wajah datar, tapi sekarang mimik wajah Ethan berubah bingung. "Maksud lo?" "Tentang Fiona, Ethan. Bagaimana jika nalurinya sebagai seorang psikopat muncul saat dirinya menjadi seorang Dokter? Bukankah itu akan sangat berbahaya, Ethan?" Eden takut jika Fiona malah akan membunuh para pasien yang datang berobat padanya demi memuaskan hasratnya sebagai seorang psikopat. Ethan diam, tidak menjawab pertanyaan Eden. Ethan bukannya tidak mau menjawab pertanyaan Eden, tapi Ethan sendiri tidak punya jawaban atas pertanyaan yang baru saja Eden ajukan. "Ethan!" Eden akhirnya menegur Ethan. Ethan menyandarkan punggungnya di sofa dengan wajah terdongak. "Jika Fiona hilang kendali, maka tugas gue adalah membunuhnya Eden." "Apa tidak sebaiknya jika Fiona menjalani perawatan, Ethan?" Sejak tahu jika Ethan memutuskan untuk membiarkan Fiona hidup, Eden sudah mencari banyak sekali informasi terntang psikopat, dan ternyata mereka masih bisa di sembuhkan. Ucapan Eden seketika membuat Ethan kembali teringat pada pembicaraannya dengan Romanov sebelum dirinya memutuskan untuk membunuh pria paruh baya tersebut. Saat itu Romanov mengatakan jika Fiona hidup dengan baik, bahkan Fiona tidak tahu tentang jadi dirinya yang sebenarnya. Itu artinya sampai saat ini Fiona belum tahu jika dalam tubuhnya mengalir deras darah seorang psikopat. Ethan jadi penasaran, apa selama Fiona hidup dalam perasingan, Fiona mendapatpan perawatan? Dengan kata lain, Romanov mencoba untuk menyembuhkan Fiona supaya Fiona tidak menjadi psikopat seperti Romanov. "Eden, gue punya tugas baru buat lo," ucap Ethan dengan raut wajah serius. "Tugas apa?" Keseriusan Ethan membuat Eden jadi penasaran, kira-kira tugas apa yang akan Ethan berikan padanya. "Cari tahu tentang masa kecil Fiona, secara mendetail." Ethan menekan kata mendetail. "Baiklah." "Jangan sampai orang lain tahu tentang masalah ini, termasuk Livy, hanya kita berdua." "Lo tenang aja, gue enggak akan kasih tahu siapapun tentang Fiona." Sampai saat ini, hanya Livy, Ethan, dan Eden yang tahu tentang siapa Fiona sebenarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN