21 - Kabar mengejutkan.

1562 Kata
Fiona akhirnya terbangun setelah tidur selama hampir 2 jam lamanya. Begitu kelopak matanya terbuka, Fiona tidak melihat Ethan di sampingnya. Fiona menatap ke sekeliling kamar, dan tidak melihat Ethan di mana pun. "Ke mana dia?" gumamnya penasaran. Fiona menghela nafas berat sambil memijat keningnya yang sedikit pusing. Fiona bukan hanya merasa pusing, tapi Fiona juga merasa jika seluruh tubuhnya terasa lelah dan sakit, terutama di bagian s**********n dan pahanya. Fiona menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya, dan baru saja akan menuruni tempat tidur begitu mendengar suara pintu terbuka. Fiona menghela nafas lega ketika tahu jika orang yang baru saja datang adalah Ethan. "Kenapa? Apa kamu berpikir kalau orang lain yang datang?" Meskipun hanya sekilas, tapi tadi Ethan bisa melihat dengan jelas betapa tegangnya wajah Fiona. Fiona menjawab pertanyaan Ethan dengan anggukan kepala. Ethan menghampiri Fiona. "Ayo kita mandi dulu." "Aku mau mandi sendiri." Yang saat ini ada dalam pikiran Fiona adalah, jika ia mandi berdua dengan Ethan, maka ia dan Ethan bukan hanya mandi, tapi akan melakukan hal yang lebih dari sekedar mandi. "Aku tahu apa yang ada dalam pikiran kamu Fiona," ucap Ethan sambil tersenyum tipis. "Tapi kamu harus tahu kalau aku juga tahu, saat ini kamu sangat lelah, jadi aku tidak akan melakukan hal-hal lainnya selain mandi." "Aku mau mandi sendiri!" Fiona tetap menolak tegas ajakan Ethan untuk mandi bersama. Fiona bukan hanya ingin menghilangkan rasa lengket ditubuhnya, tapi Fiona juga mau menjernihkan pikirannya, karena itulah Fiona tidak mau Ethan ikut mandi bersamanya. "Baiklah kalau itu memang mau kamu." Ethan tidak mau memaksa Fiona, karena mungkin nanti akhirnya ia dan Fiona akan bertengkar. Ethan menuruni tempat tidur, lalu berdiri di hadapan Fiona dengan kedua tangan terulur, berniat untuk membantu Fiona. "Enggak usah, aku bisa sendiri!" Fiona menolak bantuan dari Ethan. "Yakin bisa sendiri?" "Iya, aku bisa sendiri." Fiona meyakinkan Ethan kalau dirinya bisa pergi ke kamar mandi tanpa bantuan dari Ethan. Ethan mengangguk, lalu menyingkir dari hadapan Fiona. "Sial, rasanya sangat sakit," keluh Fiona yang sayangnya tidak bisa di dengar oleh Ethan karena Ethan sudah keluar dari dalam kamar. Fiona melangkah menuju kamar mandi dengan langkah tertatih-tatih. 1 jam adalah waktu yang Fiona butuhkan untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Fiona keluar dari kamar mandi, bertepatan dengan Ethan yang baru saja memasuki kamar. Sama seperti Fiona, Ethan juga sudah mandi, bedanya adalah, Ethan sudah selesai sejak 30 menit yang lalu. "Pakailah." Ethan menaruh sebuah dress hitam di atas tempat tidur. Fiona menatap Ethan dan dress tersebut secara bergantian. "Kamu pasti bercanda." "Kenapa aku harus bercanda? Aku serius, pakailah. Dress itu cocok untuk kamu, Fiona." Ethan tahu kalau Fiona sangat menyukai warna hitam, itulah alasan kenapa Ethan memilih dress berwarna hitam. "Ethan, apa kamu tidak melihat kalau ada banyak sekali kissmark yang ada di leher aku?" Fiona menunjuk leher juga dadanya yang penuh dengan kissmark. "Lalu apa masalahnya?" Dengan polosnya, Ethan bertanya. "Aku enggak mau pakai dress itu, karena kissmark di leher aku bisa kelihatan." Fiona jelas tidak mau kissmark di lehernya dilihat oleh banyak orang. "Ok, kalau kamu memang enggak mau pakai dress ini. Kamu pakai yang ini aja." Ethan lalu memberikan baju yang menurutnya cocok untuk Fiona gunakan saat ini. Warnanya masih sama, hitam. "Ini jauh lebih baik," gumam Fiona. Fiona tahu kalau Ethan tidak akan keluar dari kamar, jadi Fiona bergegas memakai pakaiannya tepat di depan Ethan dengan posisi membelakangi Ethan. Seperti yang sebelumnya Ethan katakan, Ethan sudah melihat semua tubuhnya, jadi untuk apa ia malu. Sebenarnya Fiona masih malu, tapi tak punya pilihan lain selain. "Kita lanjutkan pembahasan kita sebelumnya," ucap Ethan ketika melihat Fiona sudah selesai berpakaian. "Apa maksud dari pertanyaan kamu tadi, Fiona?" tanyanya tegas. "Apa aku benar-benar harus menjelaskannya?" Fiona berbalik menghadap Ethan, menatap Ethan dengan raut wajah datar. "Apa yang sebenarnya ada dalam pikiran kamu, Fiona?" Ethan bersandar di dinding dengan kedua tangan yang kini bersedekap. "Aku berpikir kalau kamu hanya ingin melakukan seks sama aku," ucap Fiona penuh penekanan. "Apa kamu berpikir hanya itu yang mau aku lakukan sama kamu, Fiona?" Ethan sama sekali tidak tersinggung begitu mendengar jawaban Fiona. Ethan sudah bisa menebak, kenapa bisa Fiona memiliki pemikiran seperti itu? "Sayangnya, iya," jawab Fiona sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Ethan mendekati Fiona, menarik Fiona masuk dalam pelukannya. Fiona memberontak, menolak pelukan Ethan. Tapi tenaga Ethan jauh lebih besar dari Fiona, jadi pemberontakan yang Fiona lakukan sama sekali tidak ada gunanya bagi Ethan. "Lepasin!" "Enggak akan!" Ethan menolak untuk melepaskan Fiona dari pelukannya. "Ethan, lepasin!" Fiona tetap memberontak, meminta supaya Ethan melepaskannya. "Sebaiknya kamu diam, Fiona. Semakin kamu memberontak, maka aku akan semakin memeluk erat kamu," bisik Ethan tepat di telinga kanan Fiona. Bisikkan Ethan berhasil membuat sekujur tubuh Fiona meremang. Pada akhirnya Fiona tidak lagi memberontak, dan membiarkan Ethan memeluknya. Ethan semakin mengeratkan pelukannya, bahkan kini mulai mengecupi kening Fiona dan juga ubun-ubunnya. "Apa kamu percaya kalau aku bilang, aku cinta sama kamu, Fiona?" Lega, itulah yang Ethan rasakan sesaat setelah mengutarakan isi hatinya. Ucapan Ethan mengejutkan Fiona. Tunggu dulu! Apa ia tidak salah dengar? Apa Ethan, pria yang saat ini sedang memeluknya baru saja mengatakan padanya jika pria itu jatuh cinta padanya? "Ini semua bukan mimpi, kan?" Teriak Fiona dalam hati. "Kenapa kamu diam, Fiona?" Pertanyaan bernada teguran dari Ethan mengejutkan Fiona. Ethan merenggangkan pelukannya, lalu merangkum wajah Fiona menggunakan kedua tangannya. Ethan menatap lekat mata indah Fiona. "Kamu terlihat sangat terkejut, Fiona," ucap Ethan sambil tersenyum tipis. "Aku mau pulang." Bukannya menanggapi ucapan Ethan, Fiona malah meminta untuk pulang. Ethan tahu, pengakuannya pasti membuat Fiona sangat terkejut, jadi Ethan sama sekali tidak merasa kecewa begitu mendengar ucapan Fiona. "Tentu saja kita akan pulang, tapi nanti setelah kita makan." "Jangan nanti, aku maunya pulang sekarang juga." Fiona menunduk, menghindari tatapan intens Ethan. "Ok, kita akan pulang sekarang." Saat ini Ethan sedang berada dalam situasi dan kondisi di mana dirinya tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti kemauan Fiona. Fiona melepas pelukan Ethan dari pinggangnya, lalu mulai merapikan barang bawaannya. *** Saat ini, Ethan dan Fiona sudah berada di mobil. Sama seperti tadi siang, kali ini Ethan juga menolak ketika salah satu pengawal yang ada di dermaga menawarkan diri untuk menjadi supir pribadinya. Ethan masih ingin berdua saja dengan Fiona. Ethan melirik Fiona yang sejak tadi memejamkan matanya, dan Ethan yakin kalau Fiona sudah tertidur. "Dia pasti sangat lelah," gumam Ethan yang seketika merasa sangat bersalah karena dirinyalah penyebab Fiona kelelahan seperti sekarang ini. Tak sampai 20 menit kemudian, mobil yang Ethan kemudikan sampai di tempat parkir yang ada di basement apartemen. Ethan tidak mau membangunkan Fiona yang saat ini tertidur pulas, karena itulah, Ethan memutuskan untuk menggendong Fiona. "Ting!" Lift terbuka, akhirnya sampai di lantai di mana unit apartemen Livy berada. Livy baru saja akan memasuki ruang makan begitu mendengar suara lift terbuka. Livy mengurungkan niatnya pergi ke ruang makan, dan menghampiri asal suara. Panik, itulah yang Livy rasakan begitu melihat Fiona ada dalam gendongan Ethan. "Ethan, Fiona kenapa?" Tanpa sadar, Livy berteriak. "Fiona hanya kelelahan, Livy. Sekarang dia lagi tidur, bukan pingsan, jadi kamu tidak perlu khawatir, ok." Ethan tahu kalau Livy pasti sangat mengkhawatirkan Fiona. "Oh, dia hanya kelelahan," gumam Livy dengan perasaan lega. Ethan melangkah menuju kamar Fiona bersama Livy yang berjalan tepat di depan Ethan. Livy membuka pintu kamar, dan Ethan langsung membaringkan Fiona di tengah-tengah tempat tidur. Setelah memastikan jika Fiona tertidur, Ethan mengajak Livy keluar dari dalam kamar Fiona. Selama hampir 1 jam, Livy mengintrogasi Ethan, mengajukan banyak sekali pertanyaan. Ethan menjawab semua pertanyaan Livy, tapi tentu saja, Ethan tidak memberi tahu Livy semua kejadian yang sudah terjadi antara dirinya dan Fiona selama berada di lautan. Ethan yakin, Livy pasti akan mengamuk jika tahu apa yang sudah ia lakukan pada Fiona. Setelah hampir 1 jam bersama Livy, Ethan kembali ke kamar Fiona, tentu saja tanpa sepengetahuan Livy. Ethan baru saja akan menaiki tempat tidur ketika ponsel miliknya berdering. Dengan perasaan malas, Ethan meraih ponselnya, dan ternyata yang menghubunginya adalah Q. "Ada apa, Q?" "Sesuai perintah yang sebelumnya Tuan berikan pada saya, saya sudah menyelidiki ulang kematian mendiang Mrs Lucy, dan ternyata Mrs Lucy meninggal karena dibunuh." Jawaban Q mengejutkan Ethan. "Apa kamu yakin, Q?" tanyanya dengan mata melotot. "Saya yakin, Tuan. Saya sudah berulang kali mengeceknya untuk memastikanya. Jika Tuan mau, saya bisa menjelaskan secara detail alasan kenapa mendiang Mr Romanov menyembunyikan alasan kematian dari mendiang istrinya." "Tidak perlu kamu jelaskan. Saya akan ke sana sekarang juga." "Baik, Tuan, saya tunggu." Fakta jika kematian Lucy sebenarnya bukan karena bunuh diri, tapi karena dibunuh seketika membuat Ethan pusing. Ethan melirik Fiona yang saat ini masih tertidur pulas. "Apa dia tahu jika Ibunya meninggal karena dibunuh, bukan karena bunuh diri?" gumam Ethan sambil terus menatap lekat Fiona. Bagaimana jika ternyata tebakan Livy benar? Bagaimana jika ternyata mendiang Ibu Fiona dibunuh oleh Ayahnya? Karena itulah Romanov membalas dendam kematian istrinya dengan cara membunuh kedua orang tuanya? Ethan menggeleng, menolak untuk mempercayai semua pemikiran tersebut. "Enggak, itu semua enggak mungkin!" Ethan mendekati Fiona, dan duduk di samping Fiona. Ethan meraih kedua tangan Fiona, lalu mengecup kedua punggung tangannya secara bergantian. Setelah itu, Ethan menunduk, mengecup kening Fiona. Ethan membenarkan letak selimut Fiona, lalu keluar dari kamar Fiona. Kepergian Ethan dilihat oleh Livy. "Ethan, kamu mau ke mana?" "Aku mau pergi Livy, ada hal penting yang harus aku lakukan." Ethan menjawab pertanyaan Livy sambil terus melangkah menuju lift, sama sekali tidak berniat berhenti walau sekedar untuk melirik Livy. "Ok. Hati-hati, Ethan." "Tentu saja!" Teriak Ethan yang sudah memasuki lift.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN