“Kaila baik banget, ya!” Elitia membalikkan kata nakal menjadi kata baik. Karena perkataan adalah sebuah do’a, jadi dia mengatai Kaila dengan sebutan lain. Kaila beserta ayahnya masih saja mengotori wajahnya dengan ice cream. Saatnya Elitia balas dendam. Dia maju lalu menempelkan hidungnya pada hidung Kaila. Wajah gadis mungil itu kotor karena mama pura-puranya ini menggesekkan wajah mereka. “Stopp ….” teriak Galuh agar Elitia dan Kaila tak berhenti bercanda, dia jadi seperti diabaikan. Sebenarnya bukan karena iri Kaila bercanda bersama Elitia, hanya saja Galuh mendadak gagal fokus saat melihat hidung dan bibir Elitia yang begitu dekat. Saat bergesekan bersama milik Kaila, dia juga ingin merasakan permukaan lembut dan kenyal yang dibalut lipstik merah muda milik Elitia. “Cepat cuci muka

