Aduh …. Kejadian yang semalam aja lupa, Elitia disuruh tanggung jawab, tanggung jawab apa? Gadis ini jadi tambah bingung. Mending suruh dia mabok atau suruh dia nge-DJ sampe pagi aja deh, kalo suruh mikir, otak Elitia mendadak skakmat.
Mendadak otak Elitia jadi traveling. Dia coba ingat-ingat sampai kepalanya pening. Eh tapi mendadak otaknya jadi cemerlang, tiba-tiba kayak lampu yang mati dan bisa nyala.
“Anda minta saya tanggung jawab? Saya yang harusnya minta anda yang tanggung jawab.” Elitia menutup tubuhnya dengan selimut. Orang yang dihadapan Elitia ini belum tentu baik. Siapa tahu semalam Elitia telah diapa-apakan oleh pria ini.
“Saya, tanggung jawab apa?” tanya Galuh sambil menatap Elitia sinis, gadis yang mengaku namanya Elisa itu otaknya sedang tidak waras atau memang masih dalam pengaruh alkohol. Masa iya dia yang sudah menolong dan memberikan tempat menginap gratis disuruh tanggung jawab.
“Anda semalam memperko-” Sebelum menyelesaikan ucapannya, dia malah dipotong oleh Galuh. Galuh menutup telinga Mikaila anaknya.
“Sttt …. Ada anak saya disini. Anda bilang macam-macam nanti dia bisa salah paham!” Elitia kan tak punya adik, mana tau dia kalau anak kecil tak boleh dengar perkataan orang dewasa macam begini. Udah biasa ngomong nyablak dengan pengasuh dan temannya.
Elitia pun melirik Kaila. “Ah pokoknya itu anda bawa saya dan saya tiba-tiba tidur disini, berarti anda sudah berbuat yang tidak-tidak kan?” Dia menyilangkan tangannya di depan d**a.
“Enak saja. Saya bukan seperti yang kamu pikirkan.” Biar kata suka jajan, Galuh tak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan, dia tidak akan memper**sa Elitia yang jelas-jelas mabuk dan tak sadarkan diri. Galuh tak suka wanita yang meminum alkohol.
“Lalu, kenapa saya bisa berakhir disini?” tanya Elitia yang butuh penjelasan. Dia kan tak ingat apa-apa. Kelemahan Elitia adalah seperti orang lupa ingatan saat bangun dari bekas mabuk. Kejadian apapun yang dialaminya saat mabuk berat tak akan ada dalam ingatannya.
“Bangun!” Galuh meminta gadis ini untuk bangun. Elitia harus diberikan penjelasan agar tahu kesalahannya apa.
“La ngapain saya disuruh bangun?” tanya Elitia bingung. Dia takut malah akan di apa-apakan sekarang.
“Bangun dong. Lihat sendiri. Bajunya masih nempel tidak, badannya masih lengkap tidak, ada bekas sentuhan atau tidak.” Ini yang Galuh maksud, dia hanya menyentuh Elitia untuk menggendongnya saja sampai kamar, tidak mengganti bajunya atau bertindak lain. Bahkan Galuh tidur di ruang kerjanya tadi subuh, sekarang ke kamar karena ingin mandi.
“Oke.” Elitia pun turun dari ranjang lalu berdiri.
“Eh baju masih nempel kok, gak kayak abis di apa-apain.” Dia memeriksa tubuhnya sendiri. Tidak ada tanda-tanda korban pemer**saan atau yang lain. Dia sama seperti keadaan saat pulang.
“Daddy …. Tantenya kenapa?” tanya Mikaila yang kebingungan melihat tante yang dia dengar namanya Elisa.
“Tantenya kegeeran, disangka daddy orang jahat kali.” Galuh terkekeh, sejak kapan dia jadi orang yang jahat, jadi orang yang dingin dan sombong sih iya.
Kaila yang dengar ayahnya disangka buruk oleh Elisa pun membela. “Tante …. Daddy aku baik, kok. Ya meski daddy jarang di rumah dan jarang main sama Kaila, Kaila percaya daddy paling baik di dunia! Don’t negative thinking, Aunty!” Kaila sedikit menyinggung ayahnya dalam kata-kata itu, sindiran yang tak tahu akan ayahnya dengar saja atau pahami juga.
“Mmmm …. I’m sorry Kaila. tante Negative thinking ke daddy kamu.” Elitia merasa bersalah dan memeluk Kaila, gadis mungil ini begitu menggemaskan, Elitia kan ingin punya adik, tak ada anak-anak di rumahnya, jadi dia ingin sekali membawa Kaila ke rumahnya atau bermain dengan Kaila.
“Ayo sekarang kita keluar. Saya mau menunjukkan sesuatu agar kamu ingat kejadian semalam,” ajak Galuh sambil menarik tangan Elitia.
“Emmhh …. Kok perasaanku jadi gak enak, ya.” Elitia dan Kaila pun mengikuti Galuh sampai ke parkiran. Ada rasa harap-harap cemas, dia lihat wajah Galuh saja sudah sangat menyeramkan. Elitia takut akan dimarahi Galuh. “Sayang ganteng-ganteng udah punya anak, galak pula!” gumam Kaila dalam hati. Dia sedikit kagum melihat Galuh yang masih menggunakan handuk dan berjalan menuruni anak tangga. “Pelorotin handuknya gak ya! Kali aja bisa lihat dia lebih sexy!” Elitia sampai terkekeh karena pikirannya malah *mesu.
“Tante kenapa?” tanya Kaila yang memegang tangan Elitia sambil menunjukkan jalan. Kaila saja sampai merasa aneh karena wanita yang ada di sebelahnya terkekeh tanpa alasan.
“Eh ... . Enggak kenapa-napa!” Elitia berusaha menetralkan pikirannya lagi dan meredam pipinya yang memerah.
“Daddy yakin mau pakai handuk doang keluarnya?” tanya Kaila sebelum ayahnya membuka pintu.
“Eh iya!” Galuh pun sadar dia belum sempat memakai pakaian. Untung Kaila ingatkan, kalau ke parkiran nanti dilihat banyak pegawai lalu handuknya melorot bagaimana.
“Gitu aja gak papa, bikin salah fokus, pppttt ….” guamam Elitia pelan sambil menahan tawa.
Galuh meliriknya dan curiga. “Kenapa kamu?”
“Eh enggak papa!” Elitia buru-buru menjawab sambil mengkondisikan keadaannya lagi. Tubuh Galuh lebih sexy dibandingkan oppa-oppa penontonnya di club malam.
“Bik …. Bik …. Ambilkan jubah handuk saya!” teriak Galuh pada pekerja di rumahnya.
“Panassss ….” Elitia sampai mengibaskan tangannya di depan wajahnya saat dia tak sengaja melihat otot da-da Galuh.
Tak lama seorang wanita membawakan jubah handuk Galuh. Mereka pun kembali ke tujuan utama untuk pergi ke parkiran.
Mendadak Elitia sakit kepala melihat betapa kotornya mobil Galuh. Baru setelah dia mengelilingi mobil hitam ini, Elitia pun ingat semalam sudah muntah dan menggoresnya dengan botol minuman.
“Astaga …. Maaf!” Dia menggigit ujung jari sambil memandang Galuh.
“Maaf-maaf. Soal kamu bisa masuk mobil saya itu sejak kapan?” tanya Galuh yang heran kenapa Eliya bisa tidur di mobilnya semalam. Galuh sempat melihat ada orang di dalam mobilnya. Karena sudah dini hari dan dia ingin beristirahat, Galuh menggendong Elitia ala bridal style untuk dibaringkan di kamarnya. Galuh sempat ingin meninggalkan Elitia di dalam mobil saja, tapi takut anak itu mati karena kurang oksigen. Saat sudah di dalam rumah pun, tadinya dia mau menempatkan Elitia di kamar tamu, sayang semua kamar tamu terkunci dan dia memilih membaringkan Elitia di kamarnya saja. Galuh sampai tidur di ruang kerjanya agar tidak tidur bersama Elitia.
“Mmm …. Sepertinya setelah muntah, saya lihat lampu mobil menyala dan saya langsung masuk, hehe!” jawabnya yang mengira mobil ini adalah mobil taksi.
“Hmmmm …. Cuci mobil saya sekarang juga!” perintahnya pada Elitia.
“Hah? Cuci mobil?” Mana bisa dia cuci mobil, gunting kuku saja oleh pembantunya, Elitia sudah terbiasa hidup bagaikan ratu dan semua dikerjakan oleh pelayannya.
Galuh memelototi Elitia. “Kenapa? Kamu yang mengotorinya, kamu pula yang menggoresnya, maka kamu yang harus tanggung jawab, masa pegawai saya!” Galuh tak suka orang yang tidak bertanggung jawab.
Mikaila mengguncangkan tangan Galuh. “Daddy, tantenya disuruh cuci mobil? Kasihan!”
Galuh pun menoleh. “Biarin, Kaila. Abis tantenya nakal. Kalo Kaila nakal dan buat kesalahan juga daddy hukum, kan? Nah …. Sekarang daddy lagi hukum tante Elisa!”
“Saya ganti rugi dengan bayar aja deh, ya!” ujar Elitia yang tak mau mencuci mobil. Ini ia anggap pekerjaan yang sulit.
Eliya meraba kantong celana Jeans pendeknya. “Mmmm …. Dompet mana dompet, ya?”
“Anda mengambil dompet saya, ya?” tanyanya saat tak menemukan dompet, bahkan tasnya juga tak ada.
“Enak saja. Tidak!” Galuh mana mungkin mencuri, kekayaannya saja sudah banyak.
“Aduhhh … kemana dompet!” Elitia mengingat kejadian semalam lagi sambil menyangga dagunya dengan satu tangan.
“Kamu samas ekali tak membawa dompet semalam, hanya botol minuman saja yang sudah pecah dan mengenai mobil saya.” Ahh ...,. Elitia menjatuhkannya samalam di parkiran saat dia oleng dan hampir jatuh.
“Kalo gitu, ganti ruginya gimana dong?” Dia tidak mau jadi babu tukang cuci mobil, kan ada banyak pegawai Galuh di rumah ini.
“Kamu bersihkan mobil ini dan jadi pengasuh Kaila saja! Kebetulan pengasuh Kaila sedang libur dua minggu ini.” Mendadak Galuh punya ide untuk menghukum Elitia, dengan ini dia bisa sering bertemu Elitia dan mengerjainya. Galuh ingat Elitia yang memegang tangannya saat di gedung tempat dia menghadiri pesta pertunangan.
“Apa? Saya jadi baby sitter?”