Bab 19

1640 Kata
Alvaro pun langsung menghentikan langkahnya tepat di bawah pohon besar. Sebelum itu ia mengecek terlebih dahulu keadaan pohon itu. Ia rasa pohon itu tak dihuni oleh makhluk tak kasat mata jenis apapun mengingat matanya yang tak menangkap penampakan apapun di sana. "Ada apa, Mam?" tanya Alvaro. "Apa gak sebaiknya kita kembali? Aku merasa kita malah semakin masuk ke dalam hutan," ucap Imam. "Lalu, kau mau membiarkan Reyhan dan Ihsan berada di dalam hutan ini? Hutan ini terlalu berbahaya untuk mereka. Aku punya firasat yang tak baik. Aku tahu semua hutan ada penunggunya, tapi hutan ini beda. Aku takut mereka berdua atau salah satu dari mereka jadi korbannya," ucap Alvaro panjang lebar. BRAKK!!! Belum sempat Imam membalas perkataan Alvaro, terdengar suara benda jatuh tepat di samping tempat dia dan Alvaro berada. Anehnya matanya tak menemukan apa-apa di sekitar. Bahkan ranting pun tidak ada. "Apa itu, Al?" tanya Imam. Alvaro hanya terdiam. Pertama kali ia melihat ke arah suara, ia langsung kaget. Sebuah guling jatuh ke tanah dengan bebasnya. Guling itu berwarna putih lusuh dan anehnya ada beberapa ikatan. Termasuk satu ikatan di bagian paling atas. "Jika aku memberitahu kamu, apa kamu akan takut?" tanya Alvaro. "Kalau hantu, mending jangan!" tolak Imam. "Baiklah, ayo kita pergi saja dari sini!" ajak Alvaro sembari menarik paksa tangan Imam. Tepat ketika ia dan Imam melangkahkan kaki meninggalkan makhluk berbentuk guling itu, tiba-tiba makhluk itu melakukan pergerakan yang tidak terduga. Dari yang awalnya terbaring, kini sudah berdiri tegak. Wajahnya yang hancur serta penuh darah membuat Alvaro mual seketika. Ia mempercepat langkahnya untuk menjauhi makhluk itu. Untungnya si buruk lupa itu hanya berdiam diri di tempat yang tadi tanpa punya niatan sedikitpun untuk mengejar Alvaro dan Imam. *** Reyhan dan Ihsan kehilangan jejak bayangan tersebut. Namun rasa penasaran mereka masih cukup besar. Mereka terus berjalan hingga sampai pada suatu tempat yang sangat mengejutkan mereka. Nampak di depan sana sebuah rumah tua yang terlihat sangat menyeramkan. Firasat Reyhan mengatakan bahwa bayangan yang tadi ia ikuti masuk ke rumah itu. Namun jika ia pikir-pikir lagi, ada sebuah keraguan untuk dia melangkah. Ia ingat cerita Alvaro tentang rumah tua di tengah hutan. Apa mungkin daerah yang kini ia jejaki adalah daerah yang juga menjadi bagian dari mimpi si Alvaro? "Ayo kita periksa!" ajak Reyhan. "Kau yakin?" tanya Ihsan. "Berdo'a aja!" ucap Reyhan. Manusia yang satu ini memang punya rasa penasaran yang sangat tinggi. Bahkan terkadang rasa penasarannya itu bisa menjerumuskannya pada marabahaya. Sedangkan si Ihsan, ia mau tidak mau juga harus mengikuti keinginan Reyhan. Bukannya apa-apa. Ia tidak mungkin membiarkan sahabatnya itu sendirian dalam bahaya. Di sisi lain, ia juga takut akan kesendirian dan kegelapan. HIKS HIKS HIKS! Niat hati ingin melangkah mendekati rumah tua itu, eh malah mendengar suara tangisan. Lagi-lagi rasa penasaran Reyhan menuntunnya untuk mencari sumber suara meskipun Ihsan sudah memperingatkan bahwa itu bukanlah manusia. "Iya kalau itu bukan manusia. Kalau itu memang beneran manusia dan dia tersesat di hutan ini, gimana?" tanya Reyhan. "Terserah lah, yang penting kau duluan yang jalan!" perintah Ihsan. Ia sudah siap dengan tarikan tangannya ke baju belakang Reyhan. "Dasar penakut!" ejek Reyhan. Suara itu masih terdengar jelas. Sepertinya letaknya tak begitu jauh dari tempat mereka berada. Langkah kaki itu terus membawa kedua manusia itu untuk berjalan tak tentu arah. Gelap nan sepi. Dalam pikiran Reyhan ia membayangkan tentang seorang anak kecil yang tersesat di hutan seperti itu. Ya, memang dari nada suara tangisannya, tangisan itu seperti suara tangisan anak kecil. Berbeda dengan Reyhan, Ihsan justru membayangkan yang tidak-tidak. Seolah-olah apa yang ada di pikirannya tentang hutan itu hanya berisi hantu. Tak beberapa lama kemudian, suara tangisan itu semakin jelas hingga indra pengelihatan mereka menangkap anak laki-laki kecil yang sedang terduduk lemas sambil melingkarkan kedua tangannya di lututnya sembari menangis. "Ayo kita ke sana! Sepertinya anak kecil itu tersesat dan tak tahu lagi arah pulang," ucap Reyhan. Reyhan dan Ihsan berjalan menghampiri sosok anak kecil yang menangis di bawah pohon besar. Tak ada kekhawatiran di dalam hati Reyhan tentang siapa sosok anak kecil itu. Berbeda dengan Ihsan yang sebenarnya tak mau menghampiri. Logika saja. Mana ada anak kecil yang berani di hutan itu sendirian, malam-malam pula. Dalam pikiran Ihsan, hanya ada hantu dan hantu. Ia yakin sekali anak kecil itu adalah sosok hantu yang sangat menakutkan. "Hei, Dik," ucap Reyhan. Tak ada jawaban darinya. Anak kecil itu masih meneruskan tangisannya. Lama-lama tangisannya memang sangat memilukan. Reyhan tak menyerah. Ia kemudian menyenggol tangan si kecil itu dengan lembut. Dingin sekali rasanya. Dalam pikir Reyhan, ia yakin bahwa si kecil itu sedang kedinginan melawan udara di tengah hutan seperti itu. "Dik," panggilnya lagi. Sosok itu akhirnya menoleh dengan menampakkan matanya yang sayu dan wajahnya yang teramat pucat. Ihsan yang juga melihat langsung menyembunyikan wajahnya di punggung si Reyhan. Biarpun pucat, tapi mustahil rasanya jika si kecil itu adalah makhluk tak kasat mata. Karena rasa penasaran yang sudah menjadi-jadi, Reyhan pun memutuskan untuk bertanya lagi. "Adik ngapain di sini?" tanyanya lembut. "Hiks hiks, tolong Kak." Hanya kata itu yang ia ucapkan. Tentu saja hal itu sangat membuat Reyhan dan Ihsan bingung. "Adik minta tolong apa?" tanya Reyhan. Si kecil itu bangkit dari duduknya. Ia kemudian berjalan seolah-olah ingin Reyhan dan Ihsan mengikutinya. Seakan-akan mengerti dengan maksud anak kecil tersebut, kedua lelaki itupun akhirnya berjalan pelan di belakang si kecil itu. Rasa penasaran terhadap rumah tua itu mendadak terlupakan. Kini Reyhan dan Ihsan seolah-olah telah terhipnotis dengan keberadaan si anak kecil itu. Seorang anak kecil yang aneh. Anak kecil yang belum diketahui asal usulnya serta seorang anak kecil yang mungkin saja bukan manusia. *** Beralih ke tempat Alvaro dan Imam. Setelah melarikan diri dari si hantu guling, kedua manusia itu berhenti sejenak di bawah sebuah pohon yang tak terlalu besar. Mata Alvaro yang bisa melihat keberadaan mereka sebelumnya telah mengecek keadaan pohon yang akan ia dan Imam gunakan untuk istirahat. Dari sudut pandangnya sepertinya pohon tersebut aman. Asal jangan ada lagi si hantu kurang kerjaan yang menjatuhkan diri dari atas pohon. "Kau mau tahu suara tadi tu sebenarnya suara apa?" tanya Alvaro. "Emmm... mending gak usah deh," jawab Imam. "Ah, ayolah! Apa kau tidak penasaran?" tanya Alvaro. "Tidak," jawab Imam cepat. "Baiklah kalau kamu memaksaku. Suara yang tadi itu berasal dari sosok pocong yang terjatuh dari pohon. Wajahnya sangat menyeramkan, Mam. Bayangin aja! Wajah hancur dan penuh darah, kain putih yang sudah nampak lusuh serta ikatan di atas kepalanya itu. Hiiii...," ucap Alvaro panjang lebar. "Hadeehh... aku kan udah bilang gak usah diceritain. Kenapa kamu cerita? Pakai bilang aku maksa kamu buat cerita pula," sahut Imam. "Hehehe... santai, Bro. Di tempat kayak gini salah satu dari kita harus bisa memadatkan suasana," kata Alvaro. "Mencairkan, oon! Eh, tapi kalau kayak gitu emang lebih pantas disebut memadatkan suasana sih," ucap Imam. Entah kenapa kini ia bisa berbicara banyak. Biasanya ia dikenal dengan orang yang irit bicara. Entah apa yang ada di pikiran Alvaro. Matanya sedang melihat banyak makhluk menyeramkan berseliweran di sekitarnya, tapi ia bisa-bisanya malah melawak di depan sahabatnya itu. Mungkin satu hal yang ada di pikirannya. Ia cuma tidak mau membuat sahabatnya itu takut. Sejauh mereka berjalan, belum ada tanda-tanda kehadiran Reyhan maupun Ihsan. Rasa penat kian menjalar ke sekujur tubuh mereka. Padahal terhitung sudah beberapa kali mereka beristirahat. "Balik aja yuk, Al! Makin malam makin serem nih," ujar Imam. "Cih, gede badan doang tapi nyali kecil," ejek Alvaro. "Bukannya gitu. Siapa tahu aja Reyhan sama Ihsan sudah balik," ungkap Imam. "Kalau belum?" tanya Alvaro sambil terus terfokus ke jalanan. "Kalau belum setidaknya tidak menambah lagi korban hilang. Lagipula, kalau kita kembali ke villa, kita bisa minta bantuan untuk mencari mereka," jawab Imam. Alvaro menghentikan langkahnya. Ia tersadar akan kebodohannya. Gara-gara dirinya yang tak menginginkan sahabatnya dalam bahaya, ia bisa-bisanya bertingkah ceroboh seperti saat ini. "Hufff... baiklah. Ayo kita balik!" ajak Alvaro. "Tapi masalahnya. Apa kau tahu jalan pulang?" tanya Imam. "Hahaha... ya jelas enggak lah," jawab Alvaro cengengesan. "Hufff... ganteng doang otak dangkal," ejek Imam. "Terima kasih pujiannya," ucap Alvaro. Malam sudah semakin larut. Udara dingin kian menusuk tulang. Indra pengelihatan mereka juga semakin lama semakin berat untuk difungsikan. Ditambah lagi dengan tak tahunya ke mana mereka harus berjalan untuk menuju villa. Hingga bagian paling parahnya, ketika sudah sampai villa dan pintu villa sudah kekunci. Mau tidak mau mereka harus tidur di luar. Tubuh yang semakin lelah membuat kemampuan Alvaro melihat makhluk tak kasat mata hilang seketika. Hal itu terbukti dengan tak adanya wujud-wujud menyeramkan yang ia lihat. "Eh, itu ada cahaya. Itu pasti lampu dari villa itu. Kita aman," ungkap Imam dengan girang. *** Anak kecil itu terus melangkah tanpa menengok ke belakang. Mulutnya juga tak mengeluarkan suara sama sekali. Bahkan tangisan kerasnya tadi pun mendadak sirna. Ada perasaan aneh di benak Reyhan. Namun ia tetap memaksa kakinya untuk mengikuti langkah si anak kecil itu. Kalau ditanya mengapa? Tentu saja karena rasa penasarannya. Untuk kali ini Ihsan memperlihatkan sifat pengecutnya. Sedari tadi memang ia memegang tangan Reyhan dengan cukup erat. Ketakutannya berada di hutan itu saja sudah luar biasa. Ditambah lagi dengan acara di Reyhan yang harus mengikuti seorang anak kecil yang tidak diketahui asal-usulnya. "Rey, bagaimana jika itu bukan manusia?" tanya Ihsan dengan berbisik. "Udah berapa kali sih kamu nanya kayak gitu?" tanya Reyhan balik. "Baru juga 7 kali, Rey," jawab Ihsan dengan entengnya. "Nggak sekalian aja digenepin jadi 8," ucap Reyhan sinis. "Ya sudah. Bagaimana jika itu bukan manusia?" tanya Ihsan lagi dengan berbisik. "Hufff... aku yakin dia manusia," jawab Reyhan dengan berbisik pula. "Kalau bukan? Dan bagaimana jika ia berniat mencelakai kita?" tanya Ihsan bertubi-tubi. "Nggak mungkin. Dia bilangnya tadi minta tolong. Kalaupun dia memang hantu, setidaknya dia itu hantu anak kecil. Kau tahu sendiri kan, kalau anak kecil itu gak pernah bohong?" ucap Reyhan. "Iya sih. Tapi apa hal itu berlaku bagi kaum tak kasat mata?" tanya Ihsan. "Mungkin," jawab Reyhan. Lama mereka mengikuti anak kecil itu, tiba-tiba di depan sana nampak cahaya terang benderang yang entah berasal dari apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN