Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, masih cukup panas untuk udara kota Padang. Sepasang pengantin baru itu, masih menikmati perjalanan mereka di bawah teriknya matahari sore. Sebuah tas berukuran sedang yang berisi beberapa potong pakaian, diletakkan di bagian depan motor matic yang dikendarai oleh Azzam. Sepasang lengan lentik Mentari, tak pernah lepas dari pinggang suaminya. Ia merangkul suaminya dengan sangat erat, seakan takut jika Azzam akan kabur diculik oleh hati yang lain. Sesekali, Azzam membelai punggung tangan istrinya yang mendekap erat pinggangnya. Mentari sangat bahagia, ia benar-benar merasa dicintai. “Sayang, kamu kepanasan nggak? Kalau terlalu panas, kita berhenti dulu,” ucap Azzam seraya memperlambat laju motornya. “Panas? Hahaha, abang apa-apaan. Memangnya Tari an

