19. Jalan Bersama

1564 Kata
19. Jalan Bersama Yasmin harus beberapa kali mencubit lengannya hanya untuk memastikan jika yang kini menggandeng tangan kanannya adalah Sebastian Megantara. Suaminya. Yang sejak awal menikah sudah bersikap teramat menyakiti hatinya. Dan malam ini, semua goresan luka hati yang Tian berikan diawal-awal dulu menutup perlahan. Terobati. Tian mengajaknya jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, hanya berdua tidak dengan Clarissa. Katanya sekalian membeli perabotan rumah, karena renovasi rumah Tian sudah hampir selesai. Dan Yasmin amat bahagia ketika lelaki itu mengajak dia untuk memilih perkakas di rumah baru mereka. Dan kini, mereka sedang memilih ranjang yang tepat untuk mereka letakkan di kamar utama. Kamar mereka. Yasmin mengulum senyuman dengan anggukan kepala pelan ketika Tian menunjuk dan meminta pendapat darinya tentang ranjang berbunga beberapa langkah dari tempatnya berdiri. "Kasih pendapat dong, Yas. Nggak suka ah, nurut-nurut gitu aja." Tian berdecap, mendekati ranjang berbunga itu dan menekannya, menilai keempukan lapisan busa itu. "Aku selalu suka semua pilihan kamu, Mas." Yasmin ikutan menyentuh busa itu, dan mengangguk pasti. "Ini aja, gede, kalau Cla ikut tidur nggak perlu berdesakkan." "Cla kan punya kamar sendiri. Pilih ranjang kecil aja, biar sepanjang malam kita tidurnya nempel terus." Tian berkelakar, melepas satu tawa renyah yang membuat Yasmin justru tersipu dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lalu menemukan seorang pegawai toko yang berdiri tak jauh darinya sedang mengulum senyum geli. Sudah bisa dipastikan, pegawai wanita itu pasti mendengar kelakar Tian. Yasmin tak bisa lagi menyembunyikan wajah malunya. Sejak di malam dia dan Tian tidur di ranjang sempitnya dengan pengakuan rasa cintanya, meski tidak dibalas ucapan yang sama dari Tian. Lelaki itu berubah banyak sekali, mulai suka menggodanya dan pasti lebih sering menariknya untuk mendekat. Satu hal yang membuat Yasmin merasa teramat bersyukur. "Jadi kita pakai ranjang kecil aja, kayak di kamar kamu itu, sampai pagi kamu nggak lepas dari pelukanku." Nah kan. "Sesuka Mas aja, kalau pengin tidur nggak leluasa pakai ranjang kecil aja." ungkap Yasmin meladeni candaan Tian. Setelahnya dia memilih untuk sedikit menjauh, ke arah deretan furniture yang lain, karena sudah bisa dipastikan, Tian tidak akan membeli ranjang kecil. Mana betah lelaki itu pakai ranjang yang membuat kakinya menggantung sedikit. Salah satu usaha Yasmin juga untuk tidak memicu Tian melempar candaan lebih banyak. Malu lah, lelaki itu kalau moodnya lagi bagus memang suka tidak peduli tempat untuk menggoda. Selesai dengan acara pilih-pilih  furniture, Tian membawa Yasmin untuk makan malam di sebuah restoran. Letaknya disebuah hotel berbintang, yang dulu menjadi tempat resepsi mereka. Ketika mengingat resepsinya kala itu, Yasmin harus banyak-banyak menghela napas pelan. Rasanya tetap menyebalkan ketika pesta pernikahan mewah dan meriah tak membuat si mempelai lelaki turut bahagia. Namun, tersadar dengan satu hal yang tak sepatutnya dia pikirkan lagi, karena sekarang sudah berbeda, Yasmin menggeleng pelan. Melirik tangannya yang berada dalam genggaman hangat Tian. Bukankah tak ada yang lebih membahagiakan selain, suami yang menerima dengan tangan terbuka. "Nggak jadi ke restoran, Mas?" Yasmin mengernyit ketika Tian tak juga membelokkan langkah ke arah restoran dan justru membawanya ke lift. Setelah tadi meminta dia menunggu sejenak. Sedangkan lelaki itu entah ke mana. Mengangkat panggilan dari salah satu rekan kerjanya. Tian tersenyum miring. "Nggak jadi. Di restoran terlalu ramai." ungkapnya, lalu menekan nomor lantai tempat kamar hotel yang biasa dia pakai. Yasmin semakin tak mengerti namun sadar situasi ketika tubuh Tian semakin menempel padanya. Dia mengerjap, mencari bola mata Tian dan termangu detik itu juga. Susah payah dia menelan ludah ketika Tian dengan gerakan cepat menghentak tubuhnya untuk berada dalam pelukan lelaki itu. "Aku nggak suka kamu diliatin lelaki lain dengan tatapan memuja." bisik Tian lirih, seperti geraman. Sebenarnya, dia sudah kesal sejak memilih ranjang tadi, sudah jelas Yasmin jalan dengan dirinya yang notabene laki-laki -bahkan menjadi suami dan tengah memilih ranjang, namun tetap saja dipelototi oleh mata-mata keranjang. Kalau bukan di tempat umum, sudah pasti Tian memilih menghajar dari pada mendiamkannya dan berpura-pura bodoh dengan tidak mengetahui. Dan yang lebih mengesalkan adalah ketika dia baru saja memasuki lobi hotel. Dia disambut oleh segerombolan lelaki yang secara terang memperhatikan Yasmin. Istrinya. "Aku nggak ngapa-ngapain, Mas." Yasmin berbisik sedikit ketakutan. Dia ingin melepaskan diri dari pelukan Tian, namun lengan lelaki itu justru semakin erat membelit pinggangnya. Wanita itu mencoba mengingat, apa yang salah hingga Tian berubah posesif seperti ini. Dan yang dia ingat hanya, selama jalan dengan Tian, dia bahkan tidak mengalihkan perhatian pada siapa pun juga, kecuali lelaki itu. Untuk apa melirik yang lain, ketika Tian sudah melengkapi segala mimpinya tentang seorang pendamping. Tian meloloskan satu desah berat. Lalu memejamkan mata. Baru tersadar pesona Yasmin teramat kuat. Ke mana saja dia selama ini sampai tidak mempedulikan istrinya yang menawan. "Besok kamu nggak usah dandan kalau keluar, biar nggak ada yang lirik-lirik." putusnya, sedikit melonggarkan dekapan. Dia memindai pakaian yang Yasmin kenakan malam ini. Teramat sopan menurutnya. Blouse lengan panjang berpita dengan celana longgar. Sama sekali tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya. "Cuma poles lipstik sama bedak," Yasmin mencicit. Bahkan itu pun tipis-tipis saja. Sekadar membikin wajahnya agar tidak tampak kusam. Dia akan sangat malu ketika bertemu teman Tian dengan tampilan kusam, sedangkan suaminya tampak begitu tampan. Meski hanya mengenakan kaus polos dan celana jeans. Terkadang Yasmin merasa amat iri pada wajah Tian yang hanya dibasuh air saja sehabis bangun tidur sudah tampak segar dan bersinar. Tian mencebikkan bibir. Mengarahkan tatapan pada belah bibir Yasmin yang merekah. "Nggak usah tebel-tebel. Sini biar aku hapus." Yasmin sudah akan menolak, hendak mengeluarkan tissu dari sling bag-nya. Namun, dia justru mendapati bibirnya sudah diraup dan berada dibawah kendali Tian. Lelaki itu benar-benar menghapus polesan lipstiknya dengan cara yang membuat Yasmin kehabisan napas. Tepat ketika Tian melepas tautan bibirnya, lift berdenting dan disusul pintu yang terbuka. Tubuh mereka masih menempel satu sama lain, ketika Tian menoleh ke arah pinti dan mendapati beberapa orang tampak menaikkan sebelah alis dengan bibir membuka terkejut. Kaget. Tentu saja tidak. Tian mengusap puncak kepala Yasmin membuat wajah wanita itu mengarah hanya padanya. Lalu membawa Yasmin untuk segera keluar lift menuju kamar hotel yang dipesannya. Tidak peduli jika jejak-jejak lipstik Yasmin menempel di bibirnya. Tian justru senang ketika semua orang melihat itu. Memperlihatkan bahwa Yasmin memang miliknya. Berbeda dengan Tian yang tampak biasa saja dengan apa yang terjadi di lift. Yasmin justru mengutuk beberapa kali, wajahnya sudah memerah teramat malu. Semua orang di depan lift tadi pasti akan menebak satu pernyataan yang sama dengan apa yang dia dan Tian lakukan. "Nggak usah malu, mereka nggak liat kok. Tenang aja, nggak akan aku biarin mereka liat wajah kamu yang memerah." Tian menggumam geli sembari membuka pintu kamar hotel. "Nggak liat gimana?" Yasmin membalas jengkel. Dia melepas belitan lengan Tian di pinggangnya untuk kemudian mengerjap. "Kenapa kamar hotel? Bukannya mau makan." Dia menatap Tian tidak mengerti. Lengannya terangkat sedikit, meminta penjelasan. Namun, yang dia dapatkan justru senyum miring Tian dan tubuhnya yang kemudian terangkat. Tian tidak perlu izin untuk membawa Yasmin dan merebahkannya di atas ranjang. Lelaki itu menatap bola mata Yasmin dan berkata penuh penekanan. "Jangan lepas cincin nikah kita, mulai besok." *** Mengerjap, Yasmin meringis ketika merasakan perutnya melilit. Dia sudah terlelap kelelahan setelah memenuhi keinginan Tian, tentu saja. Dan kini, dia terbangun karena belum sempat makan malam. Jangankan makan malam, dia saja belum sempat minum sejak menginjakkan kakinya di hotel. Bergerak, Yasmin bangkit perlahan, memindai kamar hotel yang dia tempati saat ini. Cahaya temaram dari lampu membuat dia harus sedikit memicingkan mata. Di mana pakaiannya? Itu pertanyaan pertama yang terlontar di kepalanya. Saat hendak menjejak lantai, dengan selimut yang dia tarik untuk mengahalau hawa dingin menusuk tulangnya, dia justru mendapati geraman dari seseorang yang tampak asyik terlelap di sampingnya. Yasmin menimbang. Haruskah dia bangkit tanpa perlu menarik selimut. Tidak. Dia memutuskan kembali menyimpan kakinya dibawah selimut untuk kemudian menggoyang bahu Tian. "Mas, bangun." Butuh beberapa kali usaha, sampai akhirnya Tian mengerjapkan sebelah mata dan menatapnya lamat-lamat. "Kamu kebangun, kenapa?" Yasmin sudah akan menjawab, namun cacing di perutnya lebih dulu jujur. Menjerit lirih, namun karena suasana yang memang tenang terdengar amat memekakan. Dan hal itu, sontak membuat Tian meloloskan tawa dan menegakkan tubuh dan bersandar di kepala ranjang. "Kamu laper?" Kalau ini di apartemen, sudah pasti Yasmin memilih membuat makanan dan tidak perlu kelaparan. Sebagai jawaban atas lontaran tanya Tian yang diiringi geli, Yasmin mengangguk malu. Tian mengusap wajah. Meredakan tawa. "Mau makan apa, biar aku pesenin?" Yasmin memilin ujung selimut. "Apa aja, yang penting bikin kenyang." dia melirik Tian yang masih saja mengulum senyum dengan sebelah tangan terulur menggapai gawai di nakas. Nampaknya, lelaki itu teramat terhibur dengan bunyi-bunyi nyaring dari perutnya. "Nggak usah ketawa." imbuhnya memperingati. Dengan tangan kiri, Tian mengusap puncak kepala Yasmin, menarik kepala wanita itu untuk mendekat dan dibubuhinya satu cium. "Nggak usah malu. Aku sadar diri kok, udah bikin kamu kelaparan." Dan tidak seperti yang Yasmin harapkan, Tian justru meloloskan gelak tawa, sembari sekali lagi menanyakan padanya untuk memesan menu apa. Kalau boleh jujur, meski kelaparan, Yasmin merasa amat senang ada Tian di sampingnya. Yang bebas tertawa, dan memperlakukannya dengan teramat lembut. Setiap kecupan dari lelaki itu mengantarkan satu buncahan bahagia yang memenuhi dadanya. "Terima kasih, Mas." bisik Yasmin, sembari menggenggam tangan Tian dengan melempar tatapan penuh cinta tiada terkira. Tian menoleh, membuat satu seringai geli. "Terima kasih buat apa? Karena bikin kamu kelaparan? Ah, sepanjang malam pun aku bisa lakukan." Ditengah bibir yang cemberut, di dalam hati, Yasmin mengingat kata-kata ibunya. Dan kini senyuman manis yang menghiasi. Cinta kamu sama Tian, sudah lebih dari cukup menghidupi kalian. Hanya, jangan pernah lelah untuk mencurahkan cinta. Hati sekeras apa pun pasti akan luluh perlahan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN