Kirana masih terdiam sejak perjalanan pulang. Es krim dan pizza yang sudah dibelikan oleh sang ayah tidak dipedulikannya. Ia tidak terima dengan keputusan yang didengarnya. Oleh karena itu, ia merajuk sampai ke rumah. Gadis itu juga membanting pintu kamarnya cukup keras. Sang ayah paham dengan apa yang Kirana rasakan. Tetapi, usualan ini bukan semata-mata ide dirinya. Melainkan, hasil pemilihan suara dari semua tim. Karena banyaknya antusias, akhirnya kolom tersebut disahkan tanpa memberitahu dahulu kepada keluarganya. Karena, pria paruh baya itu berpikir kalau tak akan ada masalah apa-apa. Dua jam sebelumnya, Kirana yang sudah kembali setelah makan siang itu masuk ke ruangan sang ayah yang bersebrangan langsung dengan ruang rapat. Jadi, ia bisa mendengar apa yang mereka bahas. Awalnya,

