22. Countdown

2009 Kata

"Oke, Ra. Mimpi hanya bunga tidur. Jangan terlalu dipikirkan." Kirana menarik napas panjang sebelum dibuang perlahan. Ia tidak mau terlihat kacau di depan kedua orang tuanya. "Rara, lama sekali di tolilet!" Karina yang menggedor pintu dengan tidak sabaran membuatnya segera bergegas. "Iya sebentar! Tidak sabaran sekali!" Kirana mendengus kesal. Karina hanya menggeleng melihat sikap sang adik yang cukup aneh. Kirana kembali ke mejanya dengan wajah yang lebih baik dari sebelumnya. Orang tuanya pun menganggap kalau ekspresi berantakan sebelumnya karena dirinya yang dipaksa bangun. Sudah lama mereka tidak makan malam di luar seperti ini. Untung saja, restoran kerabat mereka menawarkan pelayanan privat dalam rangka ulang tahunnya. Jadi, kesempatan itu mereka manfaatkan dengan baik. Karena,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN