“Dravelux,” kata Lucius pelan, ia memegang erat belati di tangannya. “Oh, suatu kehormatan kau mengingat namaku, Lucius,” jawab Dravelux sambil tersenyum pada Lucius. Lucius tertawa pelan. “Serangan mendadak, ya?” Dravelux mengangkat kedua bahunya. “Aku hanya ingin memberimu informasi berharga, Lucius. Dengar, aku tidak suka jika musuhku begitu ... lemah,” katanya sambil menggelengkan kepala. “Kau.. ingin bertambah kuat, bukan begitu?” “Sebenarnya apa yang kau inginkan?” Dravelux tertawa. Lalu menghilang menjadi kepulan asap. “Aku ingin kau pergi ke kota Yure. Tenang saja, kau akan melewati kota itu jika terus berjalan menuju arah barat.” Dravelux kembali muncul tepat di samping Lucius. “Kau ... menginginkan ini ... bukan?” Dravelux memperlihatkan sesuatu pada Lucius. Tetapi, Zeth tid

