Pagi yang jauh berbeda. Jika sebelumnya sepasang matanya terbuka karena suara lembut Sabiya yang menyapa. Kini justru suara alarm yang tidak ada lembut-lembutnya. Romeo nyaris membanting ponselnya jika saja tidak ingat ada banyak hal penting di dalam sana. Mengembuskan napas kesal saat menyadari hari sudah kembali pagi. Semalaman Romeo terjaga. Sepasang matanya terus menyorot pintu kamar yang hanya diisi sendiri oleh Sabiya. Dengan keadaan tidak baik-baik saja. Yang membuat rasa takut itu kian tergambar jelas. Sabiya tidak akan meninggalkannya 'kan setelah semua yang terjadi? Pengakuan yang juga pengungkapan kebodohan atas diri Romeo. Sabiya tetap akan di sini bersamanya, 'kan? Menikmati hari-hari ke depan dengan bahagia. Menunggu buah cinta mereka lahir dan mendampinginya tumbuh samp

