Chapter 4

1800 Kata
Sudah lebih dari 30 menit Leona berjalan mondar-mandir dikamarnya, lebih tepatnya kamarnya bersama jervan. Gadis itu tidak bisa tenang karena memikirkan dirinya yang malam ini harus tidur seranjang bersama pria kejam itu. Ini benar-benar gila, dia tidak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir semenyedihkan ini, Menikah secara paksa dengan orang yang sudah membunuh ayahnya serta menyekap ibunya. "Bagaimana ini ? Apa aku kabur saja ? Tidak! Kalau aku kabur, ibu berada dalam bahaya. Aku harus bagaimana ? Aku sama sekali tidak sudi tidur bersama palagi disentuh pria kejam itu," Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu yang mulai terdengar dilanjut dengan terbuka nya pintu kamar itu membuat leona langsung menoleh, dia pikir itu adalah pria kejam itu tapi ternyata bukan, itu bukan jervan melainkan salah seorang pelayan yang bekerja dirumah ini. "Maaf nyonya, tuan jervan sudah menunggu nyonya di meja makan," "Tolong katakan padanya aku tidak lapar," "Tapi nyonya, tuan bisa ma--, "Katakan saja padanya seperti yang aku katakan barusan !! Jika dia marah biarkan saja. Sudah pergilah aku mengantuk ingin istirahat," Pelayan itu pun akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah kemudian segera kembali keruang makan untuk menyampaikan pesan leona tadi pada jervan. Jervan yang mendengar ucapan pelayannya itu pun menggeram kesal, dia bahkan sempat menggebrak meja setelah tahu jika leona menentang perintahnya untuk makan bersama di meja makan. "Bereskan ini semua, aku sudah tidak nafsu makan," ucap jervan dengan nada dinginnya kemudian beranjak naik ke lantai atas dimana gadis yang membuatnya naik darah beberapa detik yang lalu berada. Sesampainya didepan kamarnya , jervan langsung membuka pintu kamar itu tanpa mengetuk pintunya terlebih dulu, toh itu juga kamarnya dan ini adalah rumahnya jadi dia bebas masuk kemanapun yang dia mau. Saat sudah berada didalam kamarnya, dia melihat leona yang sudah berbaring dibalik selimut tebal dengan posisi membelakanginya. Dengan raut wajah kesalnya, jervan berjalan menghampiri ranjang itu kemudian menarik paksa selimut yang leona gunakan membuat gadis itu langsung tersentak kaget. "Kamu apa-apaan sih?!" teriak leona. Alih-alih menjawab pertanyaan itu, jervan malah menarik paksa tangan gadis itu hingga membuat nya terbangun. Cengkramam yang kuat serta tatapan yang tajam dari jervan mampu membuat nyali leona sedikit menciut , namun gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk menutupi rasa takutnya. "Lepas!" sentak leona sambil menarik paksa tangannya hingga berhasil terlepas dari cengkraman jervan. "Kamu apa-apaan sih datang-datang main tarik tangan orang saja!" "Kamu sudah berani tidak menuruti perintahku , apa kamu berubah pikiran sekarang ?" tanya jervan dengan tatapannya yang masih menajam. "Apa maksudmu?" Pria itu tersenyum sinis mendengar pertanyaan gadis didepannya ini. "Kamu lupa dengan apa yang sudah aku katakan tadi siang ? Aku menyuruhmu untuk menuruti semua keinginanku tanpa terkecuali. Jika kamu berani membangkang, maka kamu akan mendapat hukuman dariku. Ah bukan hanya kamu saja tapi juga ibumu," "b******k!! Apa maumu ha?!! Jangan berani sentuh ibuku atau kamu akan tahu akibatnya!!" Lagi lagi pria itu tersenyum sinis kemudian menarik paksa tangan leona keluar dari kamarnya. Leona yang merasakan sakit akibat cengkraman yang kuat dari pria itu terus saja memberontak , tapi karena kekuatan pria itu yang jauh lebih besar darinya membuat leona tidak bisa lepas dari cengkraman jervan. Jervan membawa leona ke sebuah ruangan yang berada dibawah tanah dirumah itu. Ruangan yang selalu ia gunakan untuk menyiksa orang-orang yang berani mengusiknya atau orang-orang yang sama sekali tidak dia sukai. "Masuk!" "Tidak mau! Kenapa kamu membawaku kesini ? Ini ruangan apa?" tanya leona yang sudah benar-benar ketakutan. "Masuk!" "Tidak! Aku mau per--, akh lepas! Sakit!!" Jervan mendorong tubuh gadis itu masuk kedalam ruangan itu kemudian menguncinya. Ruangan itu terlihat seperti sebuah penjara. Hanya berukuran tidak lebih dari 3 x 4 meter dengan atap yang tingginya kurang lebih 2,5 meter serta pintu yang terbuat dari baja yang kuat dengan sedikit lubang yang lebarnya 10x30 cm membuat ruangan itu terlihat sangat menyeramkan. Tidak hanya itu, didalam ruangan itu juga tidak ada penerangan sama sekli bahkan juga tidak ada ventilasi di ruangan itu kecuali dari lubang pintu tadi. "Buka!! Buka pintunya ! Aku mau keluar!!" "Malam ini kamu tidur disini. Itu adalah hukuman karena kamu sudah menolak perintahku," ucap jervan sebelum akhirnya melangkahkan kakinya pergi meninggalkan tempat menyeramkan itu. "Tidak, jervan!! Buka pintunya! Jervan!! b******k buka pintunya!!" ,,,,,,,, "Selamat malam tuan," sapa marvel. Jervan yang baru saja dari ruang bawah tanah tidak sengaja berpapasan dengan marvel yang hendak menuju paviliun tempat dirinya tinggal beberapa tahun belakangan ini. "Tuan baru saja dari ruang bawah tanah?" tanya marvel sedikit penasaran. selama ini boss nya itu hanya datang ke ruang bawah tanah untuk menghukum seseorang yang sudah berani melawannya , jika di ingat-ingat sudah sangat lama pria itu tidak datang ke ruang bawah tanah tapi kenapa sekarang tiba-tiba datang kesana ? Apa ada yang sedang dia hukum? Pikir marvel. "Jangan ada yang berani pergi ke ruang bawah tanah, termasuk kamu," ucap jervan sebelum kembali melanjutkan langkahnya. "Siapa yang sedang tuan jervan kurung ? Ah sudahlah lebih baik aku tidak ikut campur dari pada terkena masalah nantinya," ,,,,,,,, Leona hanya bisa duduk diam meringkuk memeluk lututnya. Tempat ini benar-benar gelap, tidak ada penerangan sama sekali. Pelipis nya mulai mengeluarkan keringat akibat hawa panas sekaligus karena menahan rasa takutnya. Asal kalian tahu, gadis itu sangat benci dan juga takut dengan kegelapan. Bisa dibilang leona ini orang yang sangat pemberani , tidak ada yang dia takuti kecuali kegelapan. Dulu ketika lampu dirumahnya padam, sang ayah akan langsung memeluk dan menenangkannya agar tidak merasa takut. tapi kali ini berbeda , tidak ada siapapun yang menenangkannya termasuk ayahnya. "Hiks ayah hiks leona takut. Ayah hiks," gadis itu mulai menangis seenggukan. Dia benar-benar takut sekarang. Hingga tak lama kemudian dia mendengar suara langkah kaki yang terdengar sangat dekat dari tempatnya dikurung sekarang. Suara langkah itu terdengar semakin dekat dan dekat disusul pancaran cahaya samar-samar yang tidak diketahui dari mana asalnya. "Apa ada orang didalam?" Suara itu membuat leona langsung menegang ditempat, itu bukan suara jervan karena dia hafal bagaimana suara pria kejam itu. Lalu suara siapa itu? Cahaya yang tadi samar-samar terlihat mulai menyorot isi ruangan tempat leona berada. "Apa ada orang didalam?" "H-hiks tolong," "Ada orang didalam ? Siapa kamu ? Bisakah ka---,, nyonya jervan?" Leona yang sudah berdiri tepat didepan lubang pintu itu menatap sosok pria yang tidak asing baginya. Pria itu, dia adalah seseorang yang dipercaya sebagai tangan kanan si pria kejam jervanos yaitu marvel. "Nyonya, kenapa nyonya disini ? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya marvel dengan raut wajah khawatirnya. Marvel sangat tahu ini adalah ruangan yang jervan gunakan untuk mengurung orang yang berani membantahnya tapi kenapa leona bisa berada disini ? Apa yang sebenarnya sudah gadis ini lakukan sampai jervan mengurungnya disini?. "Hiks tolong aku , hiks aku takut," Tangisan leona semakin membuat marvel khawatir sekaligus panik. Dia tidak tega melihat raut wajah ketakutan gadis didepannya ini tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun untuk menolongnya. "Apa yang kamu lakukan disini?" Marvel langsung menoleh cepat begitu mendengar suara berat dari seseorang yang sangat ia kenali itu. Jervanos malvori, pria kejam yang menjabat sebagai boss nya itu kini berjalan pelan menghampirimya. "Apa yang kamu lakukan disini ?" "Maafkan saya tu--,, "Bukankah sudah kubilang jangan ada yang berani masuk keruangan ini termasuk kamu? Kenapa kamu tetap nekat masuk ?" "Saya benar-benar minta maaf tuan , saya hanya ingin mengecek saja karena tadi saya mendengar suara tangisan dari dalam ruangan ini," Jervan menatap sinis bawahaannya ini. "Sejak kapan kamu peduli dengan suara tangisan yang terdengar dari ruangan ini ? Bukankah sudah sangat biasa orang yang aku kurung disini menangis ?" "Maafkan saya tuan," "Kali ini kamu aku maafkan. Pergilah," ucap jervan yang langsung dipatuhi oleh bawahannya itu. Sepergian marvel, jervan langsung membuka kunci ruangan tempat Leona dikurung. Pria itu kembali menarik tangan Leona untuk keluar dari tempat itu. ,,,,,,,,,, "Nyonya, Tuan jervan sudah menunggu di meja makan," Leona menghela nafasnya panjang sebelum akhirnya melangkahkan kakinya keluar kamar. Gadis itu berjalan pelan menuruni tangga menuju ruang makan yang berada di lantai 1. Saat sudah sampai ditempat makan , dia melihat pria yang semalam menyiksanya tanpa ampun hanya karena dia tidak menuruti kemauannya untuk makan malam bersama itu tengah fokus dengan sarapannya. Jervan yang beberapa detik lalu fokus dengan sarapannya langsung mendongak begitu mendegar suara tarikan kursi di depannya. Pria itu tersenyum sinis melihat wanita yang semalam ia siksa habis-habisan kini sudah mendudukan dirinya di kursi depannya. "Siapa yang menyuruhmu duduk disitu?" tanya Jervan dengan tatapan tajam nya. "Berdiri," Lanjutnya kemudian. "Kenapa aku harus berdiri ?" tanya Leona enggan untuk berdiri. Beberapa menit yang lalu pria itu menyuruhnya untuk sarapan bersama lalu kenapa sekarang dia melarangnya duduk disana ?. "Kamu membatah perintahku ?" Ucapan itu membuat Leona langsung beranjak berdiri , gadis itu tahu jika ucapan yang baru saja keluar dari bibir jervan itu adalah ancaman bukan pertanyaan. Karena tidak ingin mendapat masalah akhirnya Leona pasrah dan menuruti perintahnya. "Berdisi disana sampai aku selesai sarapan," Setelah mengucapkan itu, Jervan kembali melanjutkan aktifitas sarapannya, tidak peduli jika dalam hati Leona sudah mengucapkan sumpah serapahnya. "Selamat pagi tuan, Maaf ada sedikit masalah yang sedang terjadi di kantor," ucap Marvel yang baru saja datang ke meja makan. "Ada apa ?" "Perusahaan dari MRX Corp tiba-tiba memutuskan kontrak nya secara sepihak," Mendengar salah satu client besarnya tiba-tiba memutuskan kontrak dengan perusahaan membuat Jervan langsung membanting sendok dan garpu nya ke atas piring. "Bagaimana mereka bisa memutuskan kontrak kerjasama itu ? Apa ada yang salah dengan pekerjaan kita?" "Saya tidak tahu tuan. Menurut laporan sekretaris tuan , tidak ada kesalahan sedikit pun pada kontrak kerjasama itu. Hanya saja CEO MRX Corp tiba-tiba memutuskan kontraknya tanpa alasan yang jelas," "b******k!!" Tangan Jervan langsung mengepal kuat, dia paling benci jika ada yang tidak profesional dalam bekerja seperti ini. Bisa-bisa nya client nya itu memutuskan kerjasamanya begitu saja. "Cari tahu penyebab dia memutuskan kontraknya dengan perusahaanku. Aku tidak mau tahu pokoknya hari ini juga kamu harus mendapat jawabannya," "Baik tuan, kalau begitu saya permisi menyiapkan mobil untuk tuan ke kantor," "Tidak ! Hari ini aku akan berangkat sendiri. Kamu pergilah sekarang untuk menjalankan tugas yang baru saja aku berikan. Ingat , hari ini kamu sudah harus mendapat jawabannya. Jika tidak , kamu tahu kan apa yang akan kamu dapatkan ?" Marvel mengangguk paham "Baik tuan. Saya permisi," ucap nya kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang makan mewah itu. "Apa yang kamu lakukan disitu ? Bereskan semua ini," sentak Jervan saat melihat Leona hanya berdiri dia sambil menatap kepergian Marvel. "A-apa?" "Kamu tuli ? Bereskan semua ini. Aku harus pergi sekarang. Ingat , jangan coba-coba ingin kabur dari ku," balas Jervan sebelum akhirnya melangkahkan kakinya pergi. Leona memutar bola matanya malas saat Jervan sudah benar-benar meninggalkan area tempat makan itu. "Cih memangnya dia siapa bisa menyuruhku semaunya ? Dia pikir aku takut dengan ancaman nya ? Ckkk awas saja aku akan memikirkan cara agar bisa keluar dan lepas dari pria kejam itu," gerutu Leona kemudian mulai membersihkan meja makan yang masih penuh dengan makanan yang bahkan belum tersentuh sedikitpun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN