Perusak Suasana Hati

824 Kata
"Kenapa kau senyum nggak jelas begitu? Cepatlah tidur." Lizzy kemudian menjatuhkan tubuh ke atas ranjang membelakangi sang suami. Saga kaget kemudian menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Apa dari tadi dia menunjukkan ekspresi konyol? Saga mulai tertarik pada Lizzy? Tidak mungkin. Ini semua karena sikap perhatian wanita itu kepadanya pasti lambat laun akan hilang dengan sendirinya. Seperti itulah pemikiran pria berusia 25 tahun tersebut tapi ia sendiri ragu. Pada akhirnya dia membuang jauh segala angan-angan dan membaringkan diri untuk tidur. Saga lalu mengubah posisi dengan meletakkan kepalanya di samping--tak menghadap punggung Lizzy, agar nyaman. Tepat saat itu wanita yang sudah dikira tidur memperbaiki posisi menghadap Saga dan melihatnya baik-baik. Kendati posisi mereka terpisah jarak karena meja tapi tak menghalangi Lizzy untuk senantiasa menatap suaminya. Tadi siang Lizzy melihat wajah Saga yang merona mau pun detak jantungnya. Lizzy bisa merasakannya. Dia juga tahu karena apa hanya saja ia tak mengerti suatu hal. Mengapa semua orang bisa merasakannya dengan mudah? Lizzy lalu menaruh satu tangannya di d**a juga sekitar pipi seraya bertanya pada diri sendiri. Diam selama beberapa menit mendadak wanita itu tertawa kecil. "Apa yang kau pikirkan Lizzy? Sebaiknya kau tidur." Dipejamkan mata dan tak butuh waktu lama Lizzy terbuai di alam mimpi. ❤❤❤❤ Cahaya dari jendela membangunkan Saga dari tidur. Hal pertama yang ia lihat adalah ranjang kosong, itu adalah tempat tidur Lizzy. Otomatis matanya terbuka. Dia langsung duduk, indera penglihatan Saga menyusuri setiap sudut ruangan akan tetapi istrinya tidak ada. Pria itu lekas mengambil ponsel, melihat jam sebelumnya kemudian menghubungi Lizzy. Panggilan Saga masuk berulang kali namun semuanya sama tidak diangkat. Dalam kegelisahan, Saga tak menyadari sosok wanita berjalan masuk ke dalam ruangan. "Saga sayang," panggilnya manja. Dia menoleh tapi bukan seseorang yang dicari melainkan Crystal. "Kau sedang apa di sini?" Crystal mengkerutkan dahi. "Tentunya untuk menjengukmu, lihat aku membawakan makanan kesukaanmu," kata Crystal seraya memperlihatkan rantang makanan. "Aku membawanya hati-hati supaya perawat tak tahu tapi kau tak senang melihatku di sini baiklah aku pulang saja." Wanita itu ingin berjalan pergi. Saga mendecak kesal dan meraih tangan Crystal. "Baiklah, aku akan makan jangan pergi," pinta Saga. Crystal semringah. Dia duduk di kursi dan menyiapkan makanan yang dibawa. "Lain kali kalau kau datang hubungi aku dulu," "Iya, tanganmu sedang sakit, kan boleh tidak aku menyuapimu?" Saga tidak memiliki pilihan dengan menyetujui permintaan sang kekasih. Dari ujung koridor rumah sakit tampak Lizzy berjalan cepat. Di tangannya terdapat bekal makanan juga khusus untuk Saga. Dia sudah berjanji kemarin akan membuat makanan yang enak untuk sang suami. Sengaja juga tak mengatakan kepada Saga kalau dia pulang. Lizzy melihat jika tidur suaminya begitu pulas, dia tak tega membangunkannya. Langkah makin dipercepat, dalam benak Lizzy pasti Saga sudah bangun. Kini ia telah berada di dekat pintu. Lizzy spontan bergerak ke kanan ingin masuk namun ketika melihat seseorang bersama Saga wanita itu menghentikan langkah. Diperhatikannya baik-baik Saga disuapi oleh orang yang paling tak disukainya. Siapa lagi kalau bukan Crystal? Padahal sudah dilarang datang tapi tetap saja kekeh. Dasar wanita keras kepala! Dia bahkan tak tahu malu dengan menyuapi suami orang?! Pintu juga dibuka lebar seakan mengatakan mereka adalah pasangan yang serasi. Kesal, tentu saja. Kalau begini seharusnya Lizzy tak usah capek buatkan Saga makanan. Sekarang makanannya akan mubazir. Lizzy pun tak mau makan akibat mood buruk. Dia kemudian meraih ponsel menelepon seseorang dan meninggalkan rumah sakit menuju halaman depan. Di sana sambil berdiri Lizzy celingak celinguk, sedang menunggu seseorang. Tidak lama datanglah sebuah mobil porsche berhenti di depan. Jendela kaca mobil diturunkan, tampak Gail melihat wanita itu. "Kenapa kau meneleponku?" "Kau belum sarapan?" Pertanyaan Lizzy dibalas decakan oleh Gail. "Kau belum menjawab pertanyaanku!" Lizzy belum membalas. Dia malah menuju pintu mobil dan mencoba masuk. Gail tak punya pilihan selain membantunya. "Ayo kita ke suatu tempat, aku bosan tinggal di sini." Sekali lagi Gail diam, mengikuti kemauan Lizzy dengan pergi dari tempat itu. Mereka berhenti di taman kota dan Lizzy memberikan bekal makanan. "Kau bilang kau belum makan, kan? Ini aku berikan gratis." Gail menerima ragu. "Ada apa?" tanya pria itu mendadak. "Apanya yang ada apa?" Lizzy membalas ketus. "Ya aneh saja kok tiba-tiba aku dikasih makanan gratis. Makanan rumahan pula." Masih menampilkan muka jutek, Lizzy menghela napas panjang. "Aku buatin makanannya buat Saga tapi pas aku sampai, dia lagi disuapin sama kekasih simpanannya. Ya dari pada nggak ada yang makan, aku kasih sama kamu," ungkap Lizzy. Gail mengerjapkan mata sekejap tampak senyuman ganjil di wajah tampan si pria. Lizzy sontak menoleh ke arah Gail yang kini tertawa. "Kau cemburu ya?" "Hah? Cemburu? Nggaklah! Aku ini cuma kesal saja karena nggak dihargai," kesal Lizzy. "Yah bagaimana mau dihargai? Saga saja tidak tahu kamu masak buat dia. Jangan cepat kecewa, datang dan berikan makanan ini, aku yakin dia pasti suka," kata Gail sambil memberikan tuppware lagi pada Lizzy. "Tidak ini untukmu saja. Aku akan pulang dan masak lagi." "Loh memangnya kenapa dengan ini?" tanya Gael. "Sudah dingin." Lizzy bingkas berdiri, berjalan pergi tak lama Gail meninggalkan taman kota beserta tuppware di tangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN