Beanbag dengan warna pumpkin yang sangat kontras dengan semua benda di rumah monokrom ini menjadi pusat perhatianku. Kali pertama aku pergi ke teras belakang aku seperti menemukan harta karun. Kududuki beanbag yang di atur menghadap ke taman. Nyaman sekali, semilir angin yang berhembus petang ini membuatku perlahan-lahan merapatkan kelopak mata yang lelah sejak pagi melihat jalanan. "Nyaman ya, Rif?" "Iya," sahutku tanpa membuka mata "Itu tempat kesukaan saya." "Oh... hemh," sahutku lagi masih dengan mata terpejam dan pikiran mengawang, antara di dunia nyata dan alam bawah sadar. "Jadi sebaiknya kamu bangun dan cari tempat lain untuk beristirahat." "Hemh, udah nyaman nih, jangan ganggu dong," sahutku, tubuh ini bergerak mencari posisi yang lebih nyaman. Sedang enak-enaknya istiraha

