Mariska menarik selimut dan berbisik. “Jangan pergi, Van. Temenin aku di sini…” Novan menautkan dahinya, menyadari ada yang berbeda dari kalimat sahabatnya. Kata ber ‘aku’ membuat Novan memikirkan sesuatu yang berlebihan. “Maksudnya, Ris?” Tanya Novan akhirnya memberanikan diri di tengah pergulatan bathinnya. “Van, gimana perasaan kamu saat ini?” “Perasaan?” “Ya, perasaan kamu?” “Maksudnya?” Novan masih merasa canggung dengan sahabatnya yang biasa ber elo- gue, tiba-tiba saat ini secara mendadak ber aku-kamu. Tak hanya canggung, Novan juga bingung. “Perasaan kamu setelah apa yang kita lakukan malam ini? Apakah kamu makin cinta ke aku? Atau kamu jadi benci ke aku, karena kamu kecewa nyatanya aku ternyata udah gak virgin lagi?” Novan terdiam, dia merenung sejenak. “Ris, aku juga ing

