Udara sore di New York begitu sejuk, angin berhembus ringan menerpa pepohonan di jalan besar yang membentang di depan mansion Albert. Dari dalam mobilnya yang terparkir tak jauh, Alden masih menunggu, menatap penuh harap setiap gerakan di pekarangan rumah itu. Jantungnya berdetak cepat ketika pintu depan terbuka pelan. Sosok yang begitu dirindukan muncul perlahan, dengan langkah hati-hati sambil memegang perutnya yang besar. Kiara. Perempuan itu berjalan menuruni tangga depan, mengenakan gaun sederhana berwarna biru lembut, rambutnya digerai natural. Wajahnya tampak lelah, tapi tetap memancarkan kelembutan yang tak pernah hilang dari dirinya. Alden tercekat. Tangannya otomatis meraih topi yang sudah ia siapkan, lalu menurunkannya menutupi sebagian wajah. Ia juga mengenakan kacamata hitam

