Sejak Valentina mulai berlatih di markas, anggota-anggota lain yang biasanya tegang dan serius, kini mulai memperhatikan dengan penuh kagum. Mereka berdiri di sudut ruangan, menatap putri kecil Albert dan Kiara yang begitu fokus melakukan latihan pertahanan dan pukulan dengan penuh disiplin. Mata mereka menunjukkan rasa hormat yang mendalam, karena melihat ada potensi luar biasa di balik tubuh kecil itu. Salah satu anggota markas, seorang pria berbadan kekar bernama Riko, menepuk pundaknya sendiri sambil bergumam, “Lihat itu… anak kecil itu… punya fokus seperti seorang dewasa. Kalau dia terus dilatih seperti ini, tidak lama lagi, dia bisa jadi pemimpin di sini.” Seorang wanita lain, Laras, mengangguk setuju. “Benar, Riko. Aku sudah melihatnya berlatih pukulan dan gerakan pertahanan. Tida

