Kiara duduk di balkon kamarnya dengan tubuh bersandar lemah pada kursi rotan yang empuk. Angin malam New York berhembus lembut, menyapu wajahnya yang pucat. Matanya menatap kosong ke arah lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan, namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Hatinya dipenuhi rasa sesak yang semakin hari semakin sulit ia bendung. Tangannya refleks menyentuh perutnya yang semakin membesar, merasakan gerakan kecil dari bayi yang ia kandung. Setiap kali janin itu bergerak, ada rasa hangat menyelimuti dirinya, seolah mengingatkan bahwa ia tidak sendirian. Namun rasa hangat itu tak mampu menghapus luka yang terus menggerogoti batinnya. Di kepalanya, bayangan wajah Alden muncul begitu jelas. Tatapan mata lelaki itu, suara panggilannya, senyum tipis yang dulu begitu serin

