"NIN? Yakin?" Tanpa mau melihat siapa yang bertanya, gadis dengan rambut terikat kuda itu nampak mengangguk cepat, seakan waktu tengah mengejarnya. "Nge-iyain ajakan dia kali ini, gue rasa ide buruk deh, guys." Al berpendapat, membuat Raynzal mengangguk-nganggukan kepalanya setuju. "Dia lemparin balon air gak bakal bahaya, kan?" Kini Arkan yang mengeluarkan suaranya dengan mata yang sempat melirik ember kecil berwarna pink yang tengah gadis cantik itu genggam. Richard menautkan alisnya dengan otak yang sibuk berfikir, "Jangan jauh-jauh dari kita, minimal lo harus deket sama salah satu dari kita, ngerti?" Lagi, gadis itu mengangguk setuju. Pandangannya masih fokus ke arah puluhan mobil yang saat ini tengah berbaris rapih di hadapannya. Suara klakson dan makian sudah mereka dengar sejak

