Pov Aric Aku masih begitu ingat dengan ekspresi wajah Alexis disaat aku tidak membantunya, bagaimana aku mau mem-bantunya kalau akulah orang yang sudah menjebaknya, sungguh menggelikan sekali "bukankan menyenangkan melihat ekspresi wajah Alexis kak?" Adikku mulai buka suara setelah sejak kehadiran Alex dia hanya diam saja. "Tentu sangat menyenangkan," lain kali aku akan mengabadikan ekspresi musuh-musuhku, tentu saja aku akan memiliki banyak kesempatan karena di luaran sana masih banyak musuhku yang belum aku basmi secara merata "aku ingin setelah ini kau mengumumkan aku secara resmi kepada publik kalau aku adalah adikmu," aku tidak akan heran jika Maisha meminta hal itu. "Aku akan melakukannya." "Kapan?" Tanyanya dengan ketidakpercayaan yang terlihat jelas di dalam intonasi suaranya.

