11. Terbakar

2001 Kata
"Ivy mau kesini juga nanti," ucap Jenna begitu mobil mereka memasuki basement apartemen miliknya. Nick tidak menjawab. Ia masih fokus pada kemudi mobil yang hendak ia parkirkan pada salah satu ruang kosong dekat lift. Wajahnya datar tak terbaca. Namun ia sempat mengernyit sedikit seolah sedang memikirkan suatu hal. Baru saja Nick akan menjawab, Jenna sudah lebih dulu turun sedetik setelah mobil berhenti. Ia nampak tak sabar. Raut bahagia mulai terpancar. Seolah wanita itu baru saja dilepas liarkan ke habitatnya sendiri. Lucu sekali. Bahkan Nick sempat tersenyum geli melihat langkah kaki Jenna yang mengayun cepat dan membuat dirinya harus buru-buru menyusul. Begitu lift berhenti di lantai tujuh, Jenna keluar dan menunjuk salah satu pintu unit miliknya. Ia membuka dengan segera dan mengajak Nick untuk turut setelah ia masuk terlebih dahulu. Apartemen ini tergolong kecil dan minimalis. Tempat tidur, meja kerja, dan sofa menjadi satu ruangan. Di sisi belakang, terdapat kamar mandi dan dapur super kecil dengan pintu yang mengarah ke balkon yang ukurannya juga mungil. Setelah melepas outer dan menyisakan dress dengan tali depan yang sepertinya tidak sengaja terlepas, Jenna kembali fokus pada layar ponselnya. Ia sempat bergumam bahwa Ivy belum juga membalas pesannya dari tadi setelah Jenna memberi kabar bahwa Jenna sudah sampai disini. "Ngapain dia kesini?" tanya Nick yang memilih berdiri di hadapan Jenna. "Ya kenapa enggak? Dia temen aku." "Aku calon suami kamu," balas Nick. Jenna yang semula menunduk menatap layar yang menyala, kini menengadah ke arah wajah Nick. Dia masih belum bisa membaca ekspresi lelaki itu, pun dengan ucapannya baru saja yang cenderung memiliki kesan tak suka. "Ya terus kenapa? Apanya yang salah?" tanya Jenna. Nick menatap tajam bola mata gelap milik Jenna. Menyelam disana hingga pemiliknya ikut hanyut dan terbawa. Walau pandangan matanya lurus, namun Nick masih bisa menangkap pendar bayangan tubuh bagian depan Jenna yang sedikit mengintip. Tali kecil yang semula membentuk pita, menjuntai lepas menampakkan sebuah garis yang terbentuk dari himpitan dua benda yang masih tertutup oleh bra. Ini memang tergolong pemandangan yang biasa bagi Nick. Namun, sejak fitting baju tadi, entah mengapa ia terdorong untuk melihat yang lebih lagi. Sepercik hasrat yang semula sudah timbul, kini mulai berkobar semakin besar. "Kamu," jawab Nick singkat. "Aku salah apa? Aku sama Ivy emang udah ada rencana ketemu lagi. Dan kamu, kamu sendiri yang maksa ikut kesini. Lagian nggak papa kok kalo kita ketemu bertiga. Dia asik anaknya," papar Jenna. Nick mendesahkan napas berat. Ia lantas merebahkan diri pada kasur besar yang berwarna serba putih. Jenna yang masih duduk di tepi ranjang hanya memutar badan menunggu jawaban dari Nick. "Salah. Aku pengen quality time," jawab Nick. "Kita bisa quality time berti—" "Aku maunya berdua," potong Nick dengan sorot mata yang masih setajam tadi namun kali ini pandangannya sudah sedikit berkabut. Jenna sempat terkekeh sambil mengernyitkan dahi. Dia ingin menjawab ucapan itu, namun urung karena Nick segera menarik sebelah tangannya hingga sontak membuat posisinya terlentang. Setelahnya, Nick dengan cepat memindahkan tubuh Jenna agar sejajar dengannya. Sederet abjad yang sudah terangkai di kepala Jenna seketika berantakan. Ia hanya bisa bungkam dengan mata membola dan napas tertahan. Jarak wajah mereka sudah sangat berdekatan. Pun dengan jarak tubuh yang menempel karena lengan Nick mengunci tubuh Jenna dengan sebuah lilitan di punggung. Baru satu kali Jenna menarik napas, ia sudah harus berhenti lagi karena merasakan sebuah bibir hangat menempel lekat pada kedua bibirnya. Sekian detik, keduanya tidak melakukan pergerakan. Jenna pun hanya bisa diam dengan mata yang masih terbuka. Berbeda dengan Nick yang memilih menutup kedua matanya. Saat Jenna mulai merasakan sebuah pagutan pada bibir bagian bawah, ia segera menarik mundur wajahnya dan mendorong kencang tubuh Nick dengan tumpuan pada bagian bahu. "Why?" lirih Nick dengan raut wajah yang terlihat kecewa. "Harusnya aku yang tanya. Why?" balas Jenna. "C'mon, Jenna. Nggak perlu aku jelasin." "Jelasin." "Because I want you," tegas Nick sambil kembali menangkup wajah Jenna menggunakan kedua telapak tangannya. "Now." Tepat setelah mengatakan itu, Nick kembali mendaratkan bibirnya pada tempat semula. Ia terus bergerak dengan sangat lembut walau Jenna tidak membalas dengan pergerakan serupa. Jujur saja Jenna sangat merasa ditekan. Ia diam, tak bisa berkata, dan tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa merasakan desir di dalam hati yang semakin lama semakin menggila. Jenna takut menjelaskan ini pada dirinya sendiri. Namun tak ayal, hatinya terus berteriak bahwa ia mulai menyukai Nick. Setiap gerak yang Nick ciptakan terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh. Menghantarkan panas dan membuat setiap sendi melemas. Semakin lama, Jenna ikut hanyut dalam permainan sederhana ini dan mengikuti insting untuk ikut membalas. Merasakan pergerakan kaku dari bibir Jenna, Nick sempat tersenyum tipis di sela ciuman mereka. Ia lantas mulai melibatkan lidah dan dengan cepat Jenna juga merespon dengan hal yang sama. "And I know you want me too," bisik Nick yang sempat menjeda semua dan kembali menyambut bibir Jenna yang sudah basah. Jujur saja, ini adalah ciuman terpanjang dan terpanas yang pernah Jenna lakukan. Ia bahkan tak menyangka bahwa aktivitas seperti ini bisa membuat suhu tubuhnya naik dan membuatnya gerah. Ia sadar dirinya mulai terbakar. Awalnya Jenna ingin memberontak saat telapak tangan Nick mendarat pada salah satu benda yang jumlahnya dua. Tak hanya meraba, Nick juga sedikit meremasnya. Namun keinginan untuk menolak ternyata terhempas begitu saja saat Jenna merasakan bahwa ternyata sensasi ini begitu nikmat. Jenna terbuai. Dia merasa kewarasannya sudah menghilang hingga ia membiarkan begitu saja saat Nick melucuti bajunya. Bahkan Jenna tidak merasa keberatan waktu Nick melepas kaitan bra sehingga sesuatu yang ada dibaliknya terlihat polos tanpa sehelai pun penghalang. "Kamu cantik," bisik Nick dengan suaranya yang sudah parau. "Dan," lanjut Nick yang memutuskan menggantung ucapannya. Ia lantas mengalihkan pandang pada tubuh Jenna bagian depan dimana telapak tangannya sedang melancarkan tugas. "Milikmu juga sangat cantik." Kedua mata Jenna langsung terbelakak begitu merasakan kini bukan lagi tangan Nick yang bermain namun juga mulutnya. Ini adalah hal gila yang tidak pernah Jenna bayangkan akan ia lakukan. Apalagi bersama Nick. Walau sebelumnya mereka sering menghabiskan waktu bersama, namun mereka tidak pernah melakukan apa-apa selain bertengkar dan berdebat. Tak pernah ada pikiran bahwa ia dan Nick berada di atas ranjang yang sama sambil bergulat. Suara desah pelan mulai lolos dan membuat Nick semakin ingin melakukan hal yang kemungkinan besar akan membuat Jenna bersuara lebih kencang. Rintihan kenikmatan sepertinya juga akan terdengar menyenangkan. Dan Nick tahu betul bagaimana caranya agar semua bisa terasa semakin menggairahkan. Kini, telapak tangan Nick bergerak turun melewati perut kemudian berakhir pada muara yang masih tertutup. Ia melakukan gerakan pelan serupa sebuah rabaan. "Nick," lirih Jenna sambil mencekal pergelangan tangan Nick. "Relax Jenna. It's ok," bisik Nick yang kemudian mengecup Jenna berkali-kali di bagian leher dan belakang telinga. Merasa titik sensitifnya diserang, Jenna tidak bisa lagi menolak dan membiarkan selembar kain terakhir yang menutupi bagian bawah tubuhnya tanggal begitu saja. Ia jusru menikmati sengatan yang ada di leher bawah dan menimbulkan bekas merah. Sesaat setelahnya, Jenna melihat Nick bangkit. Lelaki itu melepas satu persatu baju miliknya dengan santai namun justru membuat deru napas Jenna cukup terburu. Bentuk tubuh Nick yang terbilang liat dan sempurna membuat pipi Jenna merona. Ia ingin bertahan menatap gerak tangan nick yang kini sedang melepas bagian celana. Namun pada akhirnya Jenna memilih berbalik sebelum ia benar-benar melihat benda yang menonjol di antara pangkal paha. Nick terkekeh geli melihat Jenna yang selalu terlihat malu-malu. Dengan tubuh yang sudah sama- sama polos, Nick bergabung bersama Jenna dan mulai memercik bara dengan sebuah pelukan dari arah belakang. Tubuh yang sama sekali tidak berjarak membuat Jenna mau tak mau harus merasakan ada sesuatu yang menempel di area bawah. Hangat dan mengganjal. Secepat kedipan mata, Jenna berusaha mengumpulkan sisa-sisa kewarasan sebelum semuanya terlambat. Walau ia tahu, ini memang sudah terlambat. "Enggak, Nick." "Say yes, please," balas Nick dengan bisikan di telinga. Sekujur tubuh Jenna seketika meremang. Mendesah pasrah saat lagi-lagi Nick mengecup leher hingga tengkuk dengan beberapa gerakan lembut. "No." Nick sempat tersenyum tipis. "Aku tunggu sampe kamu bilang iya." Nick terus menyerang berbagai titik sensitif. Meremas d**a, lalu meraba perut hingga pangkal paha. Bibirnya kini bertugas menyerang pundak dan sesekali beralih ke bagian telinga. "Say yes." "No," jawab Jenna lirih namun ia sertai dengan desah ingin lebih. "Ok. Aku nggak akan maksa. Aku mau kita sama-sama mau melakukan dalam keadaan sadar," jawab Nick sambil masih bergerilya dengan gerakan menggoda. "Ini dari tadi kamu udah maksa, Nick." "Makanya buruan bilang iya," pinta Nick lagi. "Enggak." Nick mencoba membuat tubuh Jenna berbalik, namun Jenna tetap enggan. Lelaki itu lantas melancarkan serangan yang lebih hebat lagi. Jemarinya mulai menari di bagian yang tersembunyi. Namun beruntung, kedua paha Jenna yang semula rapat, perlahan mulai mau membuka dan membiarkan jari tangan Nick bergerak bebas disana. "Say yes, Sayang." "N-." Jenna menjeda ucapannya sambil menarik napas pendek. "N- yes." Nick menggeram rendah begitu mendengar sebuah jawaban dengan makna bahwa segalanya sudah Jenna perbolehkan. Ia lantas membuat tubuh Jenna terlentang dan mengambil posisi di atasnya. Bibirnya terus melumat bibir Jenna yang sudah semakin membengkak, membuat Jenna tidak terlalu terlonjak saat ia menggesekkan miliknya pada permukaan basah di bawah sana. Keduanya sudah sama-sama membara. Suhu ruang semakin tinggi dan tak ada lagi alasan untuk menunda kegiatan yang akan menjadi puncak kemesraan hari ini. Saat mereka sudah sama-sama siap, hal tak terduga seketika membuat keduanya terlonjak dan saling menjauhkan diri. Suara pintu yang dibuka dari luar tanpa mengetuk terlebih dahulu membuat Nick sedikit melompat dan menjatuhkan diri di sebelah Jenna yang tengah meraup selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. "Wait, Vy. Bentar. Mmmm tunggu Vy," pekik Jenna yang nampak gugup dan tak tau harus berkata apa. Pintu depan yang langsung terhubung dengan ruangan utama membuat Ivy bisa melihat ujung ranjang yang ditempati dua pasang kaki manusia. Walau tidak melihat secara keseluruhan, namun ia tak butuh penjelasan tentang apa yang tengah terjadi saat ini. "Oh My God, Jenna," jawab Ivy yang lantas berbalik dan menghilang di balik pintu yang ia tutup dari luar. Nick melirik ke arah Jenna yang wajahnya terlihat cukup kacau. "Gangguan macam apa ini?" "Kan aku udah bilang kalo Ivy mau kesini," balas Jenna seraya mengedarkan pandang mencari baju yang tersebar di berbagai tempat. "Tapi kamu nggak bilang kalo dia punya kunci akses." Jenna tak mau melanjutkan perdebatan dan memilih untuk segera berbusana. Tak lupa, ia juga meraih ikat rambut untuk menyembunyikan surai birunya agar tidak terlihat terlalu berantakan. "Dah, buruan pake baju daripada ngomel gitu," balas Jenna seraya pergi keluar dari unit miliknya. Ivy tengah berdiri menghadap Jendela yang ada di koridor paling ujung. Jenna mendekat sambil mengucapkan permintaan maaf dan langsung mendapat semburan tawa dari sahabatnya. "Sorry ganggu. Lagian kamu nggak bilang kalo bawa calon suami kesini," goda Ivy sambil menegaskan kata 'calon suami'. "Enggak. Dia tadi maksa minta ikut," jawab Jenna. "Tapi yang barusan nggak dipaksa kan?" sahut Ivy sambil menaik turunkan kedua alisnya. "Ha? Maksudnya? Kita tadi eemmm lagi ngobrol-ngobrol aja," jawab Jenna. "Ngobrol sampe lehernya merah-merah?" pungkas Ivy dengan raut geli. "Dibahas aja terus," rutuk Jenna. "Dah yuk masuk." "Bentar, aku mau tanya sesuatu dulu," cegah Ivy. "Nggak! Males ngaco mulu kamunya." "Serius, Jenna. Beneran. Penting," jawab Ivy. Melihat raut wajah sahabatnya yang memang sudah berubah serius, Jenna lantas mengangguk. "Kamu sadar yang barusan kamu lakuin?" tanya Ivy. "Apaan sih. Udah deh, Vy." "Jawab, Jenna. Aku serius," pekik Ivy. Jenna lantas mengembuskan napas. Ia mengangguk, kemudian berkata, "Iya." "Do you love him?" Ini adalah pertanyaan yang Jenna yakin tidak bisa menjawab saat ini. Dia tak tahu. Bimbang. Bingung. Ragu. "Jenna, jawab." "Aku nggak tau, Vy," jawab Jenna saraya menutup kedua wajahnya. "Kamu tahu, cuma nggak mau ngaku," terang Ivy. Dia lantas mendekat ke arah Jenna. Mengusap kedua pipinya dan mengunci sepasang manik mata Jenna yang mulai berembun. "It's ok. Nggak ada yang salah. Aku tau kondisi di antara kalian cukup berat. Pernikahan kalian berdasarkan perjanjian. Tapi kita emang nggak bisa mencegah perasaan kita kan?" papar Ivy yang ditanggapi Jenna dengan anggukan kepala. "Sekarang aku tanya lagi. Kamu udah mulai jatuh cinta sama dia. Iya kan?" Jenna menarik napasnya dengan cukup berat. Sambil mengembuskan pelan, ia mengangguk dan berucap, "Iya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN