Jenna mendesah lelah. Dia sudah melalui berbagai negosiasi dengan Nick, namun tetap saja berujung buntu. Lelaki itu selalu bisa memenangkan setiap perdebatan. Nick seperti memiliki kelebihan khusus. Ucapan tegasnya membuat kata perlawanan yang keluar beruntun dari mulut Jenna seolah tak ada artinya.
"Kaki kamu udah nginjak apartemen aku. Itu artinya, nggak ada jalan keluar, jalan berbelok, apalagi putar balik," kecam Nick.
Sambil menatap manik mata abu-abu lelaki di hadapannya, Jenna melangkah maju. Jenna tak pernah kenal takut walau ia tahu bahwa ia selalu kalah. Pelan tapi pasti, Jenna mendekati tubuh tinggi di depannya. Tubuh tegap yang selalu membuat Jenna harus menengadah ke atas agar wajah mereka bisa saling menghadap.
"Apa kamu selalu sejahat ini?" tanya Jenna dengan sorot mata tajam.
"Sejak awal kita ketemu, aku nggak pernah bilang kalo aku adalah orang yang baik."
Jenna terkekeh. Matanya menyipit dan kedua bibirnya menyunggingkan senyum separuh. "Ya. Aku terlalu bodoh. Aku terlalu naif menganggap semua pertolongan dari kamu adalah sebuah perwujudan dari kebaikan."
Tak kalah gentar dengan perlawanan berani dari Jenna, Nick ikut merapatkan tubuhnya pada wanita di hadapannya. Senyumnya mengembang sempurna. Terlihat menawan, memang. Namun Jenna tahu bahwa ada racun di balik bibir indah itu.
"Jenna, aku pikir semua orang sepakat kalo hidup ini adalah tentang bisnis. Simbiosis mutualisme. Udah seharusnya kita saling menguntungkan," ucap Nick dengan bibir yang masih ia tarik lebar ke samping.
"Oh iya? Saling menguntungkan? Terus kamu pikir aku akan mendapat keuntungan dengan nikah sama kamu?"
"Of course. Apapun yang kamu butuhkan, just tell me," jawab Nick. Dia lantas mengangkat sebelah tangannya ke udara kemudian menjentikkan jarinya seraya berkata, "Aku bisa wujudin semuanya semudah ini."
"Really?"
"Sure. Katakan apa yang kamu mau," jawab Nick.
Jenna tahu bahwa tingkat kepercayaan diri lelaki ini memang tinggi. Wajar saja. Wajahnya tampan, bentuk tubuhnya sempurna, CEO kaya raya, dan bisa dibilang ia memang memiliki kekuasaan. Jika itu tentang materi dan sejenisnya, Nick memang bisa memberikan apapun yang Jenna minta.
Jika saja Jenna adalah wanita yang menggilai uang, mungkin dia akan bersorak meminta kucuran materi dengan nominal yang tinggi. Itu jelas akan sangat menguntungkan. Sayangnya, ada hal lain yang selalu Jenna impikan. Hal yang seorang Nick Schneider tidak akan mungkin bisa mewujudkan.
Cinta dan kebahagiaan, batin Jenna.
Ya. Nick tidak akan sanggup memberikan dua hal itu. Namun Jenna juga tak mungkin mengucapkannya. Takut Nick jadi lebih besar kepala. Dia pasti akan mengira bahwa Jenna mengharapkan pernikahan yang sesungguhnya. Nyatanya, tentu saja tidak. Jenna hanya sedang mengingat impian semasa muda. Dia ingin menikah sekali saja. Menghabiskan hari bersama lelaki dimana Jenna bisa berbagi kisah dan kasih. Tentu berbagi tawa dan kebahagiaan juga.
Namun, menjawab tawaran Nick dengan terlalu serius pasti akan sia-sia. Pun jika Jenna melibatkan perasaan di dalamnya. Jadi, daripada Jenna hanyut dalam sebuah impian tentang pernikahan bahagia yang sebentar lagi akan Nick hancurkan, lebih baik Jenna fokus memupuk rasa kesalnya pada Nick. Mengumpulkan kembali kebencian yang selama ini hinggap dan membiarkan otak Jenna memikirkan sebuah ide tak biasa.
"Aku mau kamu sekarang jalan ke arah kamar, buka pintu belakang, pergi ke balkon, naik pagar yang disana, terus terjun," terang Jenna seraya menunjuk ke arah kamar utama yang ada di belakangnya.
Nick sontak tertawa. Dia tidak tahu saja bahwa keinginan Jenna yang paling besar saat ini memanglah melihat Nick menghilang dari dunia ini. Tapi tentu hal itu tidak mungkin terjadi. Jadi alih-alih menanggapi dengan kemarahan, lebih baik Nick tertawakan saja, bukan?
Merasa tak perlu melanjutkan obrolan sengit yang selalu membuat Jenna berada di pihak yang kalah, dia pun akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi meja bar. Tanpa meminta izin pemiliknya, Jenna menuangkan segelas air dan segera menyiram tenggorokannya yang sudah terlampau kering. Terlalu banyak bicara dengan Nick tidak saja membuat hatinya memanas. Rongga mulutnya pun iya.
Tak puas hanya dengan satu gelas, Jenna kembali menenggak air dari gelas yang kedua. Tidak sepenuhnya mampu meredakan bara, namun setidaknya ini membuat Jenna merasa sedikit lebih baik.
Nick sudah duduk di sebelahnya. Memandang setiap pergerakan Jenna tanpa kedip. Menolak berhenti memandang walau Nick sebenarnya tahu bahwa Jenna merasa risih jika terus diperhatikan. Terlihat dari lirikan matanya yang menyipit seolah menyiratkan sebuah kalimat seperti 'Ngapain liat-liat?' atau 'Pergi dari sini!'.
Saat Jenna baru menghabiskan separuh, Nick segera menyambar gelas yang semula ada di genggaman Jenna. Tanpa peduli raut keterkejutan wanita di sebelahnya, Nick segera meminumnya dari bekas bibir yang sama.
"Mau? Ngeliatin terus," tawar Nick saat minuman di gelasnya masih tersisa sedikit.
"Ih, nggak!"
Nick tersenyum simpul dan kembali meminum sisanya hingga habis. Santai sekali. Seolah apa yang dia lakukan adalah hal biasa. Berbanding terbalik dengan Jenna yang selalu enggan berbagi gelas dan alat makan yang sama dengannya. Dan Nick tahu itu.
Pernah di satu malam saat Jenna dan Nick tinggal satu atap sewaktu di Jerman, Jenna sedang menikmati semangkuk salad. Ia makan dengan lahap tanpa peduli Nick yang terus mengamati berharap Jenna mau berbagi.
Karena Jenna terus bersikap tak peduli, Nick dengan paksa merebut sendok dari tangan Jenna. Mengambil sesendok salad dari mangkuk milik Jenna, lalu memasukkan langsung ke dalam mulutnya. Dan saat itu juga, Jenna memutuskan berhenti makan dan menyerahkan salad yang masih tersisa banyak kepada Nick. Tentu saja ditambah dengan makian dan ungkapan kemarahan.
Jenna yang bersikap seperti itu memang terkesan sedikit berlebihan. Namun Nick suka itu. Entah mengapa, baginya justru terlihat lucu.
Sama halnya dengan hari ini. Jenna memutar bola matanya seraya turun dari kursi. Sebelum melangkah menjauh, dia sempat menghentakkan kaki dengan kencang. Memberi tanda bahwa ia kesal dengan apa yang Nick lakukan.
Nick tentu saja tertawa. Jika biasanya ia memilih membiarkan Jenna pergi, kali ini tidak lagi. Dia mengejar dengan cepat dan meraih pergelangan tangan Jenna untuk ia genggam erat. Sambil berjalan ke arah berlawanan, Jenna ditarik paksa untuk mengikuti arah kemana Nick melangkah.
"Nick!"
"Ayo sini," ajak Nick.
"Kemana?" tanya Jenna yang mulai bergidik ngeri saat Nick membawanya masuk ke kamar utama.
"Mewujudkan apa yang kamu mau."
"Lepasin! Apaan si? Nggak ngerti deh," sentak Jenna seraya berusaha melepas genggaman tangan Nick.
"Kamu kan tadi nyuruh aku ke kamar, buka pintu, ke balkon, terus terjun? Gitu kan? Ini aku udah wujudin langkah pertama yang kamu minta."
"Ya udah, sekarang sana ke balkon terus terjun," jawab Jenna acuh.
"Nein. Aku mau simbiosis mutualisme. Aku udah nurutin satu kemauan kamu. Sekarang, kamu juga turutin dulu satu permintaan dari aku. Kalo udah, baru deh kita lanjut ke permintaan kedua," terang Nick seraya memamerkan deretan giginya yang putih.
Jenna memilih untuk tidak menanggapi. Dia tahu, apa yang Nick pinta pasti tidak sebanding. Jadi, daripada menuruti otak licik lelaki itu, lebih baik Jenna berbalik dan segera keluar dari ruangan secepat mungkin.
Sayangnya, saat berada di ambang pintu, pinggang Jenna tiba-tiba diraih dari belakang. Cukup kencang hingga tubuhnya berhimpitan dengan badan Nick. Di saat yang sama, Nick segera menutup pintu kamarnya, menguncinya cepat, kemudian menyimpan kuncinya di saku depan celana.
Wajah Jenna yang memerah marah ia tunjukkan saat berbalik ke arah Nick. Dia sontak memaki Nick berkali-kali, namun Nick tetap tidak membiarkan Jenna pergi.
Tanpa banyak kata, Nick memutuskan diam dan mendengarkan. Menunggu kemarahan Jenna mereda dengan sendirinya sambil menahan diri agar tidak ikut marah juga. Bagi Nick, ada hal yang lebih penting saat ini. Dia harus menagih sesuatu. Nick merasa sudah melakukan satu permintaan Jenna, dan kali ini, Jenna juga harus menuruti satu kemauannya.
"Ya udah, apa?" tantang Jenna.
Tanpa menjawab, Nick mendorong tubuh Jenna hingga ia bersandar pada daun pintu. Perlahan, jarak keduanya mulai terkikis habis. Jenna mencoba menepis, namun tak berhasil. Kedua tangannya berhasil dikunci hanya dengan satu genggaman Nick. Sangat kencang, hingga jemari Jenna bahkan tak bisa berkutik karena tenggelam di balik telapak tangan Nick yang ukurannya hampir dua kali lipat miliknya.
Setelah berhasil melenyapkan jarak di antara dua tubuh, kini Nick mencoba mengikis jarak juga di antara wajah mereka. Perlahan tapi pasti, ia mengawali dengan pertemuan dua hidung.
Deru napas Jenna terasa tak beraturan. Dia memberontak walau usahanya meloloskan diri dari Nick cukup sulit. Kedua tangannya dilumpuhkan, badannya tertekan, dan kepalanya dicengkeram. Jenna bahkan kesulitan untuk menoleh ke arah samping sehingga mau tak mau hidung mereka bersentuhan.
Nick menyeringai menang saat akhirnya Jenna terdiam pasrah. Tubuh wanita di hadapannya mulai melemah dan tak lagi melakukan penolakan. Tanpa mau membuang waktu, Nick segera merapatkan bibirnya pada bibir Jenna yang sudah setengah terbuka.
Dingin. Tapi lembut. Itulah hal pertama yang Nick rasakan saat sepersekian detik bibirnya mendarat di tempat yang tepat. Dia jadi penasaran, bagaimana rasanya jika ia melakukan beberapa gerakan pada bibir Jenna yang mulai basah. Pun disertai dengan permainan lidah.
Sialnya, alih-alih mendapat lumatan lembut, bibir bawah Nick justru digigit kencang oleh Jenna. Rasanya seperti tersengat. Dia memekik sambil memundurkan badan. Selain karena nyeri, Nick juga terkejut bukan main. Tangannya reflek memegang bagian bibir, sementara matanya sempat tertutup sedikit karena menahan sakit.
Di sela waktu yang hanya sedikit, Jenna berhasil melepaskan diri. Serangannya tadi sukses membuat Jenna berhasil terlepas dari kungkungan tubuh besar Nick.
"s**t!" umpat Nick saat Jenna memutuskan berlari menuju kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
Dengan cepat, Nick segera menyusul dan mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali. "Jenna, buka!".
"Enggak!"
Sambil menahan sakit di bibirnya yang perih, Nick mencoba meredakan kepalanya yang mulai mendidih. Jenna memang tak segan bersikap kasar jika ia merasa mendapat ancaman besar. Tapi bagaimana lagi, bibir wanita itu memang terlihat sangat menggoda tadi. Jauh lebih menggoda dari wanita yang sering datang menawarkan diri dengan cuma-cuma.
Menghadapi Jenna memang sulit-sulit gampang. Terkadang dia seperti kucing rumahan, namun di satu waktu dia bisa berubah menjadi singa si raja hutan.
Sekian menit berlalu, Nick memutuskan untuk menunggu. Sayangnya, yang ditunggu tidak menunjukkan tanda-tanda ia akan keluar dari tempat persembunyiannya.
"Jenna," panggil Nick dengan nada suara yang ia buat lirih.
"Apa? Kamu mau minta maaf? Enggak! Basi! Ntar juga kamu ulangin lagi," pekik Jenna dari dalam kamar mandi
"Bukan. Aku cuma mau bilang sesuatu. Penting."
"Apa?" tanya Jenna.
"Kamu kayaknya suka yang hardcore ya? Mau nyoba main di kamar mandi?"
"Shut up, Nick!" teriak Jenna yang sukses membuat Nick tertawa.
***
Jenna masih mengurung diri hingga larut. Dia menolak keluar padahal dia sudah berada di dalam sana selama hampir dua jam. Nick mulai khawatir. Dia membujuk Jenna agar keluar dari sana dan berjanji untuk tidak macam-macam, namun Jenna tidak serta merta percaya.
Pada akhirnya, Jenna memutuskan menyalakan shower. Mengguyur tubuhnya yang lengket dengan air hangat, dan membiarkannya kering dengan sendirinya tanpa bantuan handuk. Selanjutnya, ia kembali membalut tubuhnya menggunakan pakaian yang sama. Daripada keluar untuk meminjam milik Nick, lebih baik Jenna kembali memakai baju itu lagi walau sebenarnya sudah terasa sangat tidak nyaman.
"Mandinya udah selese?" tanya Nick dari luar. Sepertinya lelaki itu memasang telinganya baik-baik hingga bisa menebak aktivitas apa yang baru saja Jenna lakukan.
Jenna bersikap seolah ia tidak mendengar apa yang Nick katakan. Dia justru memilih duduk di atas closet sambil memainkan kuku jari tangan yang baru-baru ini ia cat dengan warna putih s**u.
"Bathrobe sama baju ganti kamu udah aku siapin disini ya. Aku mau pulang ke rumah ayah. Kita ketemu lagi besok, dan jangan mikir cara buat kabur karena kamu nggak akan bisa," ucap Nick lagi saat Jenna menolak menjawab pertanyaannya yang pertama.
Setelah mengatakan itu, Jenna masih mendengar samar suara pintu kamar yang sepertinya ditutup dari luar. Ia menunggu hingga menit ke sepuluh, dan akhirnya berbekal keberanian yang ia kumpulkan, Jenna memutuskan untuk membuka pintu kamar mandinya.
Awalnya ia hanya membuka sedikit. Mengintip dari celah kecil sambil memindai apakah Nick ada di luar sana. Semakin lama, Jenna semakin melebarkan pintunya. Berawal dengan hanya menyembulkan kepala, hingga seluruh tubuhnya berhasil keluar dari sana.
Dengan was-was, Jenna mendekat ke arah walk in closet. Kosong. Selanjutnya, Jenna beralih menyapu tiap sudut kamar. Napas yang semula tertahan, akhirnya bisa Jenna embuskan lega saat mengetahui Nick benar-benar sudah tidak ada di kamarnya.
Jenna lantas segera mengganti bajunya dengan setelan piyama wanita berwarna kuning pucat. Di baliknya juga ada sepasang pakaian dalam. Entah harus heran atau mengumpat kesal, ukuran bra yang Nick berikan memang sesuai dengan miliknya. Lelaki itu sepertinya mengamati Jenna baik-baik selama dulu mereka pernah tinggal bersama.
Setelah selesai berganti, Jenna keluar dari kamar seraya menyisir rambut birunya. Meniti satu demi satu sudut ruangan barangkali Nick tidak benar-benar pergi. Dan beruntung, kali ini lelaki itu serius dengan ucapannya. Terbukti, Jenna tidak mendapati Nick dimana-mana dan sepatu beserta tas yang semula ada di atas meja juga sudah tidak ada.
Jenna sedikit lebih bisa melonggarkan ototnya yang tegang. Bersyukur dia bisa terbebas dari Nick walau hanya sesaat. Sayangnya, muncul banyak hal yang membuat Jenna kembali mengumpat. Ponsel yang semula ada di dalam tasnya, kini sudah tidak ada. Sambungan telepon apartemen juga terputus. Ditambah lagi, Jenna tidak bisa mengakses pintu depan. Seperti sengaja dikunci dari luar.
Ya Tuhan, kali ini Jenna benar-benar merasa menjadi seorang tawanan.
"Nick, sialan!" teriak Jenna ke arah pintu seolah ia sedang memaki lelaki itu.
Setelah puas melampiaskan emosi dengan mengumpat sambil menendang pintu yang berujung rasa sakit di bagian kuku, Jenna pun beralih ke arah dapur. Untungnya, disana terdapat pemandangan yang sedikit bisa memperbaiki mood.
Nick sudah menyiapkan beberapa macam makanan berbahan dasar seafood yang merupakan menu kesukaannya. Selain kentang, Nick juga memesan sepiring nasi karena lelaki itu tahu bahwa Jenna sering mencari nasi di setiap jam makan. Bahkan selama di Jerman sekalipun.
Di bagian paling ujung, ada pudding yoghurt sebagai menu penutup. Masih dingin saat Jenna pegang. Dan ini terlalu menggiurkan untuk diabaikan. Persetan dengan aturan urutan makan. Dia akan mengawali dengan makanan manis ini.
Jenna menyendok pudding itu satu kali. Mengunyahnya perlahan sambil menyendok lagi untuk suapan yang kedua. "Hmmm, enak."
Setelah membuat piring kecil di hadapannya kosong, Jenna beralih mengambil segelas air yang berada di sisi sebelah kiri. Niat hati ingin segera meminum, namun saat melihat sesuatu di bawahnya, dahaga yang Jenna rasakan sepertinya bisa ditunda.
Tepat berada di bawah gelas, Nick meninggalkan selembar kertas dengan sederet tulisan tangan. Jenna memilih untuk meraihnya, dan menaruh lagi gelas yang semula ada di tangan kanan.
Selamat makan, Jenna.
Makanannya dihabisin ya, nggak perlu diet. Menghadapi aku butuh banyak tenaga :)
Yours,
Nick