2. Kabur

1480 Kata
Jenna sudah berkali-kali mengumpat dalam hati. Dugaannya benar. Nick akan kembali mengikat dirinya pada sebuah keadaan dimana Jenna harus selalu menurut dan tidak diizinkan untuk melakukan negosiasi. Sebelum hidupnya kembali dipenjara oleh Nick, Jenna kini mulai menyusun rencana untuk melarikan diri. Dia tak mungkin membiarkan Nick melancarkan berbagai rencana gila dengan melibatkan dirinya. Dia harus pergi. Saat ini juga. Sambil terus berjalan mengikuti langkah panjang lelaki di sebelahnya, Jenna meniti setiap jangkauan pandang untuk mencari peluang. Celah sesedikit apapun akan Jenna coba, selama itu bisa membawanya bebas. Hingga pada langkah ke lima, sudut matanya menangkap sebuah taxi yang sedang mangkal di pelataran bangunan. Perfect, batin Jenna. Jenna mengangkat sebelah kakinya ke atas, kemudian mendaratkannya dalam hitungan kurang dari satu detik. Gerakannya terbilang cukup cepat. Dia berhasil menginjak dan menancapkan hak stilettonya yang lancip di atas kaki kanan Nick. Rasa nyeri yang tiba-tiba terasa di kaki membuat Nick seketika terkejut. Di sela kondisi Nick yang sedang terlena, Jenna mendorong perut Nick dengan ujung sikunya. Sepertinya cukup kencang, hingga Nick sedikit mengaduh kesakitan. Secepat yang Jenna bisa, dia lantas berlari menghampiri taxi tadi. Membuka pintu, duduk di kursi belakang, kemudian menguncinya dari dalam. Dan berhasil. Jenna sedikit bernapas lega. Setidaknya dirinya selangkah lebih aman dari posisinya semula. Supir taxi sepertinya paham bahwa dirinya harus segera membawa Jenna pergi. Pria paruh baya itu menyalakan mesin kemudian bertanya tentang kemana tujuan Jenna. "Yang penting jalan dulu, Pak. Sekarang," pinta Jenna kepada supir taxi itu. Matanya masih sangat awas mengamati setiap pergerakan tubuh Nick. Lelaki itu bisa dipastikan akan segera mengejarnya. Walaupun awalnya masih terlihat sedikit tertatih, namun langkah selanjutnya bisa Nick ayunkan dengan biasa saja. Seperti tidak lagi terasa sakit. Atau mungkin dia hanya sedang berpura-pura tidak sakit. Supir taxi sudah memundurkan mobil. Maju beberapa meter, kemudian ia mundurkan lagi. Mengatur posisi agar kendaraannya bisa keluar dari deretan mobil yang berbaris di depan dan belakang. Jenna mulai gusar. Jantungnya mulai kembali berdetak lebih cepat saat melihat Nick terus berjalan ke arahnya. Sepintas, Jenna sempat menangkap lambaian tangan dari Nick. Namun, bukan untuk dirinya. Nick seperti sedang memberi isyarat gerakan tangan agar si supir taxi tidak kemana-mana. "Pak, buruan jalan!" "Tapi, Non — " "Buruan!" "Nggak bisa, Non. Nggak berani." Perdebatan ini membuat Jenna semakin putus asa. Mobil sudah siap melaju, namun pedal gas tidak kunjung diinjak. Jenna terus berteriak meminta supir taksi menjalankan mobilnya, namun si supir terus saja menolak. Wajah Jenna kian menegang. Berbanding terbalik dengan Nick yang sedang berjalan santai sambil tersenyum ke arahnya. Jarak mereka semakin dekat. Hingga tak lama setelahnya, ketukan di jendela terdengar tepat di telinga kiri Jenna. Sebuah suara yang membuat Jenna ingin sekali menangis saat ini juga. "Pak! Kenapa nggak bantu saya kabur si?" keluh Jenna saat menyadari Nick sudah berdiri di samping mobil mereka. "Maaf, Non. Nggak berani sama Tuan Muda Schneider. Agent taxi kami bekerja di bawah perusahaan beliau." Jenna seketika tertunduk lemas. Mengapa sesulit ini mengalahkan kuasa tuan muda satu ini. Tidak di Jerman, tidak di Indonesia. Sama saja. "Buka pintunya," perintah Nick dari luar mobil. Jenna tidak menjawab. Dia justru beralih dan menenggelamkan kepalanya di antara lipatan lengan. Jangankan untuk membuka pintu, mengangkat kepala saja rasanya Jenna tidak memiliki daya. "Pak," panggil Nick kepada bapak supir taxi. Seolah paham permintaan Nick, supir taxi pun berkenan membuka akses kunci pintu mobil belakang. Setelahnya, Nick membukanya dan membungkukkan badan ke arah Jenna. "Hei, rambut biru," ucap Nick dengan raut manis namun menyebalkan. "Aku punya nama!" pekik Jenna. "Aku lupa. Juni? Jenni? Joana?" "Terserah!" jawab Jenna acuh. Dia masih enggan turun walau Nick sudah mengulurkan tangan untuk membawanya keluar dari sana. "Jenna," panggil Nick kemudian. Melihat wanita itu tetap tak bergeming, Nick kemudian memilih cara kasar. Dia menarik tubuh Jenna kencang hingga kepala Jenna mendarat tepat di atas dadanya yang bidang. Sebelah tangan Nick bergerak menutup pintu mobil, sementara tangan satunya menuntun pinggang Jenna agar mendekat ke arah tubuhnya. "Makasih, Pak. Maaf ya. Pacar saya emang bandel. Kalo lagi kesel suka kabur-kaburan gini," ucap Nick kepada bapak supir taxi. "Iya, sama-sama," jawabnya dengan senyum yang dibuat selebar mungkin. Dia percaya saja atas ucapan Nick. Lagi pula, dari sisi tempat ia duduk saat ini, posisi mereka seperti sedang berpelukan. Mesra sekali. Menurutnya, Jenna dan Nick memang terbilang pasangan yang cukup serasi. Diam-diam, dia tersenyum seraya menggelengkan kepala. Dia jadi ingat masa muda bersama istrinya. "Anak muda emang banyak drama," gumam bapak supir taxi setelah Nick membawa Jenna pergi. Tenaga Jenna tak cukup kuat untuk melawan tubuh besar lelaki yang saat ini sedang menyeret sebelah tangannya. Dia dipaksa terus berjalan mendekati sebuah mobil yang sudah menunggu mereka di depan lobby. "Aku bakal cium kamu disini kalo kamu masih nggak mau nurut," ancam Nick saat keduanya sejenak berhenti. "Nick!" teriak Jenna yang lantas membuat Nick tertawa. Berteriak lebih kencang tentu saja akan memalukan. Usaha Jenna untuk melepaskan diri hanyalah dengan terus memukul badan Nick, menginjak kakinya, dan juga menggigit sebelah lengan. Dan Jenna gagal. Nick tidak terpengaruh sedikitpun dengan perlawanan dari Jenna. "Aku pasti bayar semua kerugianmu, aku bakal cicil seumur hidup kalo perlu," ucap Jenna sambil terus meronta. "Aku nggak butuh uang," jawab Nick singkat. "Terus?" Nick terus menarik tangan Jenna hingga keduanya sampai di samping mobil berwarna putih. Masih enggan menjawab, Nick kemudian melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Jenna yang sudah memerah. Mata mereka beradu. Saling menatap bertukar kemarahan. Jenna memicingkan mata. Mulai bersiap karena dia tahu bahwa akan melelahkan jika berinteraksi dengan lelaki satu ini. Manusia aneh yang sudah terlatih mengubah tingkah lakunya semudah membalikkan telapak tangan. Sebentar baik, sebentar jahat. Sebentar manis, sebentar marah. Jenna sudah cukup hapal. "Terus apa, Nick? Apa maumu?" tanya Jenna lagi. "Kamu." "Aku? Are you kidding me, Nick?!" "Maksudku, kamu masuk mobil dulu. Jangan suka nyela kalo ada orang ngomong belum selese," terang Nick. Pintu mobil yang sudah dibuka membuat Jenna dengan mudah didorong hingga dirinya terduduk di kursi belakang. Nick lantas berputar ke salah satu sisi mobil, kemudian duduk tepat di sebelah Jenna. Setelah meminta supir untuk mengunci seluruh akses pintu dari sisi kanan kursi kemudi, Nick pun memberinya perintah untuk membawa mereka ke suatu tempat. "Kita mau kemana?" tanya Jenna. Hening. Tidak ada jawaban. Nick bahkan tidak menoleh, tidak juga melirik. Bola matanya tak bergerak, asik mengamati ramainya jalanan ibu kota. Nick seperti tidak menganggap Jenna ada di sebelahnya. Dia sengaja abai bahwa ada wanita yang sedang mengajaknya bicara. "Kamu mau bawa aku kemana? Aku mau pulang, Nick," tanya Jenna lagi setelah pertanyaan pertamanya berlalu begitu saja. Sayangnya, pertanyaan kedua juga bernasib sama. Tak menyerah sampai disitu, Jenna terus saja bertanya tentang tujuan perjalanannya kali ini. Jika diamati, mobil mereka sedang menuju ke arah selatan. Semakin menjauh dari pusat kota. Artinya, semakin jauh pula dengan alamat rumahnya. Hingga menit ke lima, Jenna masih saja mengeluarkan beberapa kalimat yang intinya adalah sama. Keterdiaman Nick membuatnya semakin geram. Pertanyaan Jenna tidak mengantongi jawaban. Upaya tangan untuk membuka pintu mobil yang terkunci juga sia-sia. Lengkap sudah penderitaannya. "Bisa diem nggak si? Brisik tau nggak!" bentak Nick yang sudah jengah mendengar pertanyaan Jenna yang mungkin sudah terulang untuk kali kesekian. "Bisa jawab nggak si? Kamu nggak bisu kan?" jawab Jenna tak kalah berani. Masih enggan merespon, Nick justru memakai airpods, kemudian menyalakan lagu dengan volume kencang. Tanpa menoleh sedikitpun ke arah Jenna, Nick memilih untuk menyandarkan kepala, kemudian memejamkan mata. Tingkah laku Nick benar-benar membuat amarah Jenna semakin menjadi. Tangannya dengan gesit mencuri airpods dari telinga Nick dan melemparnya ke kursi depan. Entah jatuh dimana, Jenna tak peduli. Kini kedua matanya sibuk menantang manik abu-abu terang. Sepasang mata yang juga sedang menatapnya dengan api kemarahan yang sama. "Ke apartemen," jawab Nick singkat. "Nein! Aku mau pulang!" pekik Jenna seraya melayangkan beberapa pukulan di tubuh Nick. Nick memutar bola matanya malas. Ini tidak sakit sama sekali. Hanya saja dia merasa risih dengan segala pelawanan Jenna yang tentu saja tidak ada gunanya. Satu gerakan tangan dari Nick cukup membuat Jenna berhenti. Telapak tangan Jenna yang hanya sebesar separuh dari telapak tangan Nick tenggelam dalam sebuah genggaman. Bukannya membalas dengan tindakan kasar serupa apa yang Jenna lakukan, Nick justru menariknya pelan. Sebuah usapan lembut ibu jari Nick terasa di bagian punggung tangan. Tak lama kemudian, sebuah kecupan menyusul mendarat di titik yang sama. Dua kali. Satu kali kecupan singkat, yang kedua terasa lebih dalam. "Kenapa nggak mau? Grogi? Santai aja. Kita pernah tinggal satu kamar 'kan dulu?" Jenna menggelengkan kepala dan terus berkata tidak. Dia masih menolak. Bedanya, kali ini dia sudah menurunkan nada suaranya. Garis wajahnya juga sudah tidak lagi menegang. "Nick, please." "Nah gitu dong. Kalo ngomong yang pelan. Apa aku harus jadi lemah lembut kayak gini dulu biar kamu jinak?" "Nick! Turunin aku!" teriak Jenna dengan suara yang sudah kembali kencang. Nick menanggapi dengan sebuah tawa lepas. Tak ingin kembali berdebat, dia lantas menyambar sebuah bantal leher kemudian memasangnya membujur di kedua telinga. Walau masih terdengar jelas omelan panjang dengan tinggi sekian oktaf, namun setidaknya tidak terlalu memekanan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN