“Mudler? Kenapa kau ada di sini? Bukan kah sudah kubilang, aku menyuruhmu untuk mengawasi rumahku bersama dengan penghuninya,” geram Antares. “Tapi ini berita penting, aku tidak bisa menundanya. Asal kau tahu saja, Raja Orion telah menemukan gadis bertanda yang membawa keabadian.” Berita tersebut terasa seperti dirinya tersambar oleh petir milik Zeus. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari mulut Antares selain sebuah nama yang dipanggilnya di dalam hati, Lettasya! Antares melupakan pra pengawalnya yang masih makan di dalam kedai, lupa juga tidak memberi mereka uang untuk membayar, karena yang terpenting di benaknya hanya lah Lettasya. Lettasya…. Lettasya…. Lettasya…. Hanya nama itu yang terus Antares gumam dalam hati. Penyesalan tumbuh di hatinya, seharusnya ia mengajak Lettasya

