“Theona?” Nama pertama yang Lettasya sebut saat melihat sosok yang memanggil namanya dengan sebutan kakak tengah menatapnya dengan khawatir. “Kak … ini aku,” bisik orang itu. Kemudian seiring dengan raut samar yang Lettasya lihat kian jelas, ia pun menyadari jika memang bukan Theona lah kini yang ada di hadapannya. “Kau,” terka Lettasya menggosok matanya untuk memastikan lagi. “Apa kau Feza?” Gadis muda dengan rambut pirang pendek tersebut tersenyum lebar, merasa bahagia karena Lettasya masih mengenalnya. “Aku senang kakak tidak melupakanku.” Lettasya bergerak untuk bangun, dengan cekatan Feza membantu Lettasya untuk duduk. “Apa tenggorokan kakak masih terasa sakit atau kepalanya pusing? Bagaimana dengan perut kakak?” “Aku baik-baik saja.” Lettasya tersenyum menenangkan. Ia kembali m

